Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kenapa Komentar soal Berat Badan Malah Bisa Memperburuk Obesitas?

Kenapa Komentar soal Berat Badan Malah Bisa Memperburuk Obesitas?
ilustrasi obesitas (pexels.com/SHVETS production)
Intinya Sih
  • Komentar soal berat badan yang bernada menyindir, mempermalukan, atau menyalahkan dapat menjadi bagian dari weight stigma.

  • Weight stigma tidak terbukti membantu orang lebih sehat; studi justru mengaitkannya dengan stres, makan tidak teratur, menghindari olahraga, dan menghindari layanan kesehatan.

  • Dukungan yang lebih aman adalah fokus pada kesehatan, kebiasaan, kenyamanan tubuh, dan akses bantuan medis.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Komentar soal berat badan sering muncul dalam percakapan sehari-hari.

“Kok gemukan?”

“Diet dong.”

“Kalau niat, pasti bisa kurus.”

Kadang kalimat-kalimat itu datang dari orang terdekat dengan niatan baik. Namun, bagi orang yang menerimanya, komentar tersebut bisa terasa seperti tubuhnya dihakimi.

Komentar yang mempermalukan atau menyalahkan berat badan termasuk bentukweight stigma. Konsensus internasional mendefinisikannya sebagai perendahan sosial terhadap seseorang karena berat badannya, yang dapat memunculkan stereotip, prasangka, dan diskriminasi.

Konsensus tersebut juga menegaskan bahwa stigma berat badan dapat menyebabkan dampak fisik dan psikologis, serta membuat orang lebih sulit mendapat perawatan yang memadai.

Table of Content

1. Obesitas bukan sekadar kurang niat

1. Obesitas bukan sekadar kurang niat

Gampang memang melontarkan komentar seperti "kamu kurang olahraga" atau "kamu perlu mengurangi makan" terdengar sederhana, tetapi obesitas tidak sesederhana itu.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikan obesitas sebagai penyakit kronis yang kambuh-kambuhan dan muncul dari interaksi kompleks antara genetika, neurobiologi, perilaku makan, akses terhadap makanan sehat, kekuatan pasar, serta lingkungan yang lebih luas.

Artinya, berat badan tidak sepenuhnya berada dalam kontrol kemauan pribadi. Ada faktor biologis, sosial, ekonomi, lingkungan, obat-obatan, tidur, stres, penyakit penyerta, dan riwayat diet berulang yang ikut memengaruhi. Saat masalah yang kompleks disederhanakan menjadi “kamu kurang niat”, orang yang hidup dengan obesitas bisa merasa gagal sebelum sempat mendapat bantuan yang tepat.

2. Stigma bisa memicu stres dan emotional eating

Komentar yang menyakitkan dapat memicu stres. Dalam model Cyclic Obesity/Weight-Based Stigma, weight stigma digambarkan sebagai siklus yang bisa memperburuk kenaikan berat badan: stigma memicu stres, stres dapat memengaruhi makan dan hormon tubuh, lalu kenaikan berat badan membuat seseorang makin rentan menjadi korban stigma lagi.

Sebuah tinjauan dalam jurnal Appetite juga menemukan bahwa pengalaman weight stigma secara konsisten berkaitan dengan perilaku makan yang tidak sehat dan gangguan makan, seperti binge eating atau melewatkan makan.

Studi eksperimental dalam tinjauan itu menunjukkan bahwa paparan stereotip atau konten yang menstigma berat badan dapat meningkatkan asupan makan pada sebagian orang.

Jadi, komentar yang mungkin awalnya ingin memotivasi malah bisa menjadi pemicu rasa malu, stres, emotional eating, atau pola diet ekstrem tidak bertahan lama.

3. Orang bisa makin menghindari olahraga

Seorang wanita berolahraga menggunakan rowing machine di gym dengan bimbingan pelatih pria di sampingnya.
ilustrasi latihan menggunakan rowing machine (pexels.com/Andres Ayrton)

Olahraga adalah bagian dari pengelolaan berat badan. Namun, bagi orang yang pernah diejek saat berolahraga, pergi ke gym, atau memakai baju olahraga, aktivitas fisik bisa terasa seperti sumber rasa takut atau ancaman.

Sebuah studi dalam International Journal of Environmental Research and Public Health menemukan bahwa weight stigma, internalisasi bias berat badan (menerima dan mengadopsi stereotip negatif tentang berat badan, misalnya seseorang merasa dirinya malas, tidak disiplin, atau kurang berharga, lalu menghakimi diri sendiri berdasarkan stigma itu), dan ketakutan dinilai secara negatif berkaitan dengan kecenderungan menghindari aktivitas fisik dan olahraga.

Para peneliti juga menemukan bahwa stigma berat badan berhubungan dengan rendahnya rasa menikmati aktivitas fisik.

Komentar seperti "makanya olahraga" bisa membuat orang dengan obesitas justru menjauh dari aktivitas yang sebaiknya baik untuk kesehatannya.

4. Stigma bisa membuat orang menunda periksa

Weight stigma juga bisa muncul di tempat pelayanan kesehatan. Obesity Evidence Hub mencatat bahwa orang dengan obesitas melaporkan pengalaman negatif di tempat pelayanan kesehatan, termasuk kurang dihormati, kurang empati, candaan tidak pantas, ceramah yang tidak diminta soal berat badan, kebutuhan kesehatan yang tidak terpenuhi, dan pelanggaran martabat. Stigma juga dapat membuat pasien kehilangan kepercayaan dan menghindari layanan kesehatan.

Ini berbahaya karena obesitas sering berkaitan dengan masalah kesehatan seperti tekanan darah tinggi, diabetes tipe 2, perlemakan hati, sleep apnea, nyeri sendi, dan penyakit jantung.

Jika seseorang menunda periksa karena takut dihakimi, peluang deteksi dini penyakit dan penanganan yang tepat ikut berkurang.

5. Fokuslah pada dukungan, bukan ukuran tubuh

Untuk keluarga, pasangan, maupun teman dari orang yang obesitas, hindari komentar yang menilai bentuk tubuh, membandingkan, menyindir, atau membuat orang merasa diawasi setiap makan.

Kalimat seperti “Kamu gemukan, diet dong” bisa diganti menjadi “Aku peduli dengan kesehatanmu. Kalau kamu butuh ditemani cek kesehatan atau mulai jalan kaki bareng, aku mau bantu.”

Para ahli menyarankan penggunaan bahasa yang mendahulukan orangnya, bukan melabeli seseorang dengan kondisi tubuhnya.

Misalnya, gunakan “orang dengan obesitas” alih-alih menjadikan obesitas sebagai identitas seseorang seperti "dia obesitas".

Dukungan yang sehat juga bisa berupa menemani kontrol ke dokter, memasak makanan lebih seimbang bersama, mengajak jalan santai tanpa target ambisius, membantu tidur lebih teratur, atau sekadar berhenti menjadikan tubuh sebagai bahan komentar.

Referensi

Rubino, Francesco, Rebecca M. Puhl, et al. “Joint International Consensus Statement for Ending Stigma of Obesity.” Nature Medicine 26 (2020): 485–497.

World Health Organization. “Obesity and Overweight.” Diakses Juli 2026.

Sutin, Angelina R., and Antonio Terracciano. “Perceived Weight Discrimination and Obesity.” PLOS ONE 8, no. 7 (2013): e70048.

Vartanian, Lenny R., and Alexis M. Porter. “Weight Stigma and Eating Behavior: A Review of the Literature.” Appetite 102 (2016): 3–14.

Tomiyama, A. Janet. “Weight Stigma Is Stressful: A Review of Evidence for the Cyclic Obesity/Weight-Based Stigma Model.” Appetite 82 (2014): 8–15.

Bevan, Nadia, Kerry S. O’Brien, Chung-Ying Lin, et al. “The Relationship between Weight Stigma, Physical Appearance Concerns, and Enjoyment and Tendency to Avoid Physical Activity and Sport.” International Journal of Environmental Research and Public Health 18, no. 19 (2021): 9957.

Obesity Evidence Hub. “Weight Stigma in Health Care.” Diakses Juli 2026.

Obesity Canada. “Weight Bias, Stigma & Discrimination.” Diakses Juli 2026.

Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F

Related Articles

See More