Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Dari Ulkus Berulang ke Bakteri, Ini Cerita Menarik Penemuan H. pylori

4 min read
Dari Ulkus Berulang ke Bakteri, Ini Cerita Menarik Penemuan H. pylori
ilustrasi Helicobacter pylori (commons.wikimedia.org/Yutaka Tsutsumi, M.D. Professor Department of Pathology, Fujita Health University School of Medicine)
  • Robin Warren dan Barry Marshall menemukan H. pylori pada pasien gastritis serta tukak; eksperimen Marshall yang menelan bakteri menunjukkan infeksi dapat memicu peradangan lambung.

  • Penelitian mereka mengubah pandangan medis tentang tukak dan meraih Nobel 2005; pada banyak kasus, penghilangan H. pylori membuat kondisi yang sering kambuh lebih dapat ditangani.

  • H. pylori dan OAINS merupakan penyebab umum tukak; infeksi dapat dideteksi lewat tes napas, tinja, atau endoskopi, lalu diobati dengan antibiotik dan penekan asam.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pada awal 1980-an, kebanyakan dokter meyakini bahwa tukak lambung berkaitan dengan stres, pola hidup, atau produksi asam lambung yang berlebihan. Gagasan bahwa bakteri bisa hidup di lambung hampir terdengar mustahil. Karena itu, ketika dokter patologi Robin Warren menemukan bakteri berbentuk melengkung di jaringan lambung pasien, temuannya dianggap tidak sesuai dengan pemahaman yang berlaku saat itu. Yang membuatnya makin penasaran, bakteri tersebut sering ditemukan di area yang mengalami peradangan.

Dari situ, rasa penasaran mempertemukannya dengan Barry Marshall, seorang dokter muda yang tertarik menyelidiki temuan tersebut. Keduanya mulai memeriksa sampel lambung pasien satu per satu.

Setelah berkali-kali mencoba, mereka akhirnya berhasil menumbuhkan bakteri yang sebelumnya tidak dikenal. Hasilnya, bakteri itu ditemukan pada sebagian besar pasien yang mengalami radang lambung aktif maupun tukak lambung dan usus dua belas jari.

Namun, penemuan besar jarang langsung diterima. Banyak yang menganggap bakteri tersebut hanya pencemar sampel atau mikroba yang kebetulan berada di sana. Ketika bukti yang ada belum cukup meyakinkan, Marshall mengambil langkah yang tidak biasa. Ia menelan sendiri bakteri hasil biakan itu. Sekitar 10 hari kemudian, pemeriksaan menunjukkan lambungnya mengalami peradangan. Ia pun merasakan gejala sakit selama hampir dua minggu.

Percobaan yang berisiko itu membantu mengubah cara dunia medis memandang penyakit lambung. Apa yang awalnya dianggap mustahil, yaitu bakteri hidup di lingkungan lambung yang asam, ternyata membuka babak baru dalam pemahaman tentang penyebab radang dan tukak lambung.

  1. Dari peradangan menuju pengakuan Nobel

    Penelitian selanjutnya memperkuat temuan Warren dan Marshall. Pada tahun 2005, keduanya menerima Hadiah Nobel Fisiologi atau Kedokteran atas penemuan bakteri Helicobacter pylori dan perannya dalam gastritis serta penyakit tukak peptik.

    Nobel menyebut penelitian mereka membantu mengubah tukak dari penyakit yang kerap kambuh menjadi kondisi yang pada banyak kasus dapat ditangani dengan menghilangkan bakterinya.

    Bagi pasien dengan tukak yang berulang, perubahan ini membuka pendekatan baru. Obat penekan asam dapat membantu luka sembuh, tetapi jika H. pylori menjadi penyebabnya, infeksi juga perlu ditangani agar risiko kambuh berkurang.

  2. Bukan hanya H. pylori yang menyebabkan tukak

    Ilustrasi mikroskopis bakteri Helicobacter pylori berbentuk spiral yang berkaitan dengan kondisi gastritis lambung.
    ilustrasi bakteri Helicobacter pylori (commons.wikimedia.org/Patho)

    Saat ini, infeksi H. pylori dan penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS/NSAID)—seperti aspirin, ibuprofen, dan naproksen—dikenal sebagai dua penyebab umum tukak pada lambung atau usus dua belas jari. Obat-obatan ini dapat mengurangi perlindungan lapisan lambung sehingga lebih rentan terhadap kerusakan.

    Stres sehari-hari dan makanan pedas juga lama dianggap sebagai penyebab utama. Namun, bukti medis tidak menunjukkan pola makan berperan besar dalam menyebabkan, mencegah, atau mengobati tukak. Jenis makanan tertentu mungkin memperburuk ketidaknyamanan pada beberapa orang.

  3. Dari penemuan ke pemeriksaan dan pengobatan

    Infeksi H. pylori dapat diperiksa dengan tes napas, tes antigen tinja, atau pemeriksaan sampel jaringan saat endoskopi. Jika hasilnya positif, dokter dapat memberikan kombinasi antibiotik dan obat penekan asam. Jenis antibiotik perlu dipilih dengan mempertimbangkan kemungkinan resistansi bakteri.

    Antibiotik harus dihabiskan sesuai resep dokter. Setelah pengobatan, dokter biasanya menganjurkan pemeriksaan ulang untuk memastikan bakteri telah hilang.

    Penemuan H. pylori tidak berarti semua keluhan perut berasal dari bakteri atau semua tukak memiliki penyebab yang sama. Namun, ini mengubah satu hal penting, bahwa untuk banyak pasien, tukak bukan cuma masalah asam yang perlu diredakan—penyebabnya dapat dicari dan, jika ditemukan, ditangani.

    Jika nyeri perut menetap atau tukak sering kambuh, pemeriksaan dokter dapat membantu menentukan penyebab dan pengobatan yang sesuai.

    Referensi

    Nobel Assembly at Karolinska Institutet, “The Nobel Prize in Physiology or Medicine 2005: Press Release,” NobelPrize.org, diakses 14 Oktober 2026.

    Barry J. Marshall dan J. Robin Warren, “Unidentified Curved Bacilli in the Stomach of Patients with Gastritis and Peptic Ulceration,” The Lancet 1, no. 8390 (1984): 1311–1315, https://doi.org/10.1016/S0140-6736(84)91816-6.

    Barry J. Marshall, J. A. Armstrong, D. B. McGechie, dan R. J. Clancy, “Attempt to Fulfil Koch’s Postulates for Pyloric Campylobacter,” Medical Journal of Australia 142 (1985): 436–439, https://doi.org/10.5694/j.1326-5377.1985.tb113443.x.

    National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, “Symptoms & Causes of Peptic Ulcers (Stomach or Duodenal Ulcers),” diakses 14 Oktober 2026.

    National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, “Eating, Diet, & Nutrition for Peptic Ulcers (Stomach or Duodenal Ulcers),” diakses 14 Oktober 2026.

    William D. Chey et al., “ACG Clinical Guideline: Treatment of Helicobacter pylori Infection,” The American Journal of Gastroenterology 119, no. 9 (2024): 1730–1753, https://doi.org/10.14309/ajg.0000000000002968.

Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More