- Nyeri tajam pada punggung, sisi tubuh, perut bawah, atau selangkangan.
- Urine berwarna merah muda, merah, atau kecokelatan karena adanya darah.
- Nyeri atau sering ingin buang air kecil.
- Urine keruh atau berbau tidak biasa.
- Mual dan muntah.
- Demam atau menggigil bila disertai infeksi.
- Rewel atau mudah menangis pada anak yang masih sangat kecil.
Apakah Anak Kecil Bisa Terkena Batu Ginjal?

Batu ginjal dapat terjadi pada anak dari segala usia, termasuk bayi, meski lebih sering ditemukan pada remaja.
Gejalanya tidak selalu berupa nyeri pinggang khas orang dewasa. Anak kecil bisa rewel, muntah, mengalami infeksi saluran kemih, atau memiliki darah dalam urine.
Anak yang mengalami batu ginjal perlu dievaluasi untuk mencari faktor metabolik, kelainan saluran kemih, infeksi, atau penyakit genetik yang dapat meningkatkan risiko batu berulang.
Batu ginjal sering dianggap sebagai penyakit orang dewasa. Namun, kristal keras yang terbentuk dari mineral dalam urine ini juga dapat muncul pada anak-anak, bahkan sejak usia bayi.
Anak usia berapa pun dapat mengalami batu ginjal, meskipun kasusnya lebih banyak ditemukan pada remaja. Batu terbentuk ketika zat seperti kalsium, oksalat, atau fosfat berada dalam konsentrasi tinggi di urine dan kemudian membentuk kristal.
Table of Content
1. Batu ginjal pada anak memang lebih jarang, tetapi kasusnya meningkat
Batu ginjal masih jauh lebih jarang pada anak dibanding orang dewasa. Sebagai gambaran, penelitian berbasis populasi di South Carolina, Amerika Serikat (AS), mencatat insiden sekitar 4 kasus per 100 ribu orang per tahun pada anak di bawah 10 tahun selama periode 1997–2012.
Namun, jumlah kasus pada kelompok usia muda meningkat dalam beberapa dekade terakhir.
Peningkatan paling besar terlihat pada remaja usia 15–19 tahun, dengan insiden meningkat sekitar 26 persen setiap lima tahun. Secara keseluruhan, risiko mengalami batu ginjal selama masa kanak-kanak hampir dua kali lipat antara 1997 dan 2012.
Walaupun itu merupakan data dari satu wilayah di AS, tetapi tinjauan ilmiah dan pedoman urologi juga mencatat tren peningkatan kasus batu saluran kemih pada anak.
2. Gejalanya pada anak kecil bisa tidak khas
Pada orang dewasa, batu ginjal identik dengan nyeri hebat pada pinggang yang dapat menjalar ke perut bawah atau selangkangan. Anak yang lebih besar dapat mengalami keluhan serupa.
Namun, makin kecil usia anak, makin sulit pula mereka menjelaskan lokasi dan karakter rasa sakit.
Gejala batu ginjal pada anak dapat berupa:
Studi terhadap 364 anak dengan batu saluran kemih bahkan menemukan infeksi saluran kemih merupakan keluhan awal paling sering, yaitu pada 23 persen pasien, sedangkan perubahan warna urine ditemukan pada 12 persen.
3. Kenapa anak bisa memiliki batu ginjal?

ilustrasi anak kecil sedang makan es krim (pexels.com/Alex Green) Pada dasarnya, batu terbentuk ketika urine menjadi cukup pekat sehingga mineral lebih mudah membentuk kristal. Kurang minum dapat berkontribusi karena volume urine menjadi lebih sedikit. Asupan natrium yang tinggi juga dapat meningkatkan ekskresi kalsium ke dalam urine pada sebagian orang.
Namun, pada anak dokter juga perlu mempertimbangkan faktor lain, seperti:
- Riwayat batu ginjal dalam keluarga.
- Kadar kalsium urine yang tinggi (hiperkalsiuria).
- Kadar sitrat urine yang rendah (hipositraturia).
- Kelainan bentuk atau penyumbatan saluran kemih.
- Infeksi saluran kemih berulang.
- Penyakit saluran pencernaan tertentu.
- Sistinuria dan gangguan genetik lainnya.
- penggunaan obat tertentu seperti topiramate.
- pola makan tinggi natrium dan asupan cairan yang rendah.
Studi 2024 terhadap anak dengan urolitiasis menemukan setidaknya satu kelainan metabolik pada 88 persen dari 137 anak yang menjalani pemeriksaan metabolik lengkap. Hiperkalsiuria, hipositraturia, dan hiperoksaluria termasuk yang paling sering ditemukan.
4. Karena bisa kambuh, penyebabnya perlu dicari
Berbeda dengan orang dewasa dengan batu pertama yang kadang hanya membutuhkan evaluasi terbatas, pedoman European Association of Urology (EAU) merekomendasikan evaluasi metabolik pada anak yang mengalami batu saluran kemih. Alasannya, anak memiliki waktu hidup yang panjang untuk mengalami batu kembali.
Sebuah studi terhadap 285 anak dan remaja yang pertama kali mengalami batu ginjal bergejala menemukan sekitar 24 persen mengalami kekambuhan selama periode observasi, dan estimasi probabilitas mengalami batu bergejala kembali mencapai 50 persen dalam tiga tahun.
Evaluasi dapat mencakup pemeriksaan darah dan urine, analisis batu jika berhasil dikumpulkan, serta pemeriksaan metabolik untuk mencari zat yang terlalu tinggi atau rendah dalam urine. Pemeriksaan pencitraan pertama yang dianjurkan pada anak umumnya ultrasonografi (USG) karena tidak menggunakan radiasi ionisasi.
5. Jangan buru-buru mengurangi kalsium anak
Karena sebagian besar batu pada anak mengandung kalsium, orang tua mungkin berpikir solusi termudah adalah mengurangi makanan berkalsium seperti susu. Cara ini tidak tepat dilakukan tanpa arahan dokter.
Anak tetap membutuhkan jumlah kalsium yang sesuai untuk pertumbuhan tulang. Bahkan, mendapatkan kalsium dalam jumlah yang dianjurkan dari makanan dapat membantu mengikat oksalat di saluran pencernaan sehingga tidak terlalu banyak masuk ke urine.
Untuk pencegahan, salah satu langkah terpenting adalah memastikan anak mendapat cukup cairan, terutama air, sesuai usia dan kondisi kesehatannya.
Pembatasan natrium atau perubahan pola makan lainnya sebaiknya disesuaikan dengan jenis batu serta hasil evaluasi metabolik, bukan dilakukan secara sembarangan.
Jadi, anak kecil memang bisa terkena batu ginjal. Nyeri hebat, darah dalam urine, muntah, sulit buang air kecil, atau demam dan menggigil butuh pemeriksaan medis segera. Pada anak yang terbukti memiliki batu, langkah berikutnya bukan cuma menghilangkan batu, tetapi juga mencari tahu penyebab batu terbentuk agar risiko kekambuhan dapat diminimalkan.
Referensi
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, “Kidney Stones in Children,” National Institutes of Health, diakses Agustus 2026.
Gregory E. Tasian et al., “Annual Incidence of Nephrolithiasis among Children and Adults in South Carolina from 1997 to 2012,” Clinical Journal of the American Society of Nephrology 11, no. 3 (2016): 488–496, doi:10.2215/CJN.07610715.
Brent Cao, Roby Daniel, Ryan McGregor, and Gregory E. Tasian, “Pediatric Nephrolithiasis,” Healthcare 11, no. 4 (2023): 552, doi:10.3390/healthcare11040552.
European Association of Urology, “Urinary Stone Disease,” in EAU Guidelines on Paediatric Urology, diakses Agustus 2026.
Ferhan Demirtas et al., “Risk Factors for Recurrence in Pediatric Urinary Stone Disease,” Pediatric Nephrology 39, no. 7 (2024): 2105–2113, doi:10.1007/s00467-024-06300-0.
Gregory E. Tasian et al., “Kidney Stone Recurrence among Children and Adolescents,” Journal of Urology 197, no. 1 (2017): 246–252, doi:10.1016/j.juro.2016.07.090.








![[QUIZ] Apakah Kamu Punya Kecenderungan NPD? Coba Cek di Sini](https://image.idntimes.com/post/20250625/freepik-29_eed1cb7e-fddb-49f3-a569-893aef034aa0.jpg)







![[QUIZ] Dari Bentuk Feses, Ini Kondisi Kesehatan Kamu yang Sebenarnya](https://image.idntimes.com/post/20260718/upload_81eef7479c8aeb23b53726edf15fecd4_1085b833-0382-4947-ba19-8d7bad3edfd5.png)


