Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Insomnia Terkait dengan Risiko Stroke dan Rawat Inap yang Lebih Tinggi

3 min read
Insomnia Terkait dengan Risiko Stroke dan Rawat Inap yang Lebih Tinggi
ilustrasi insomnia (pexels.com/cottonbro studio)
  • Sebuah tinjauan sistematis menemukan insomnia berkaitan dengan hazard stroke sekitar 26 persen lebih tinggi dan odds rawat inap untuk berbagai sebab sekitar 28 persen lebih tinggi.

  • Temuan tersebut menunjukkan hubungan statistik, bukan bukti bahwa insomnia secara langsung menyebabkan stroke atau seseorang pasti perlu dirawat.

  • Sulit tidur yang terjadi setidaknya tiga malam seminggu selama tiga bulan atau lebih layak dibicarakan dengan tenaga kesehatan, terutama jika mengganggu aktivitas sehari-hari.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Setelah tidur malam yang terputus-putus atau sulit tidur, dampaknya sering langsung terasa keesokan harinya. Kamu merasa lelah padahal pekerjaan menanti, konsentrasi menurun, dan aktivitas sehari-hari menjadi lebih berat. Namun, dampak insomnia mungkin tidak berhenti sampai di situ.

Sebuah tinjauan penelitian yang terbit dalam jurnal Sleep Medicine Reviews pada 2026 menemukan bahwa orang dengan insomnia cenderung memiliki risiko stroke dan rawat inap yang lebih tinggi. Berikut ini hubungan antara insomnia, stroke, dan rawat inap, dan gangguan kesehatan lainnya temuan studi.

  1. Apa itu insomnia?

    Satu atau dua malam sulit tidur belum bisa dibilang insomnia. Kondisi ini dapat berupa kesulitan mulai tidur, sering terbangun, atau bangun terlalu pagi dan tidak bisa tidur kembali, walaupun ada waktu dan kesempatan yang cukup untuk tidur. Keluhan tersebut juga bisa membuat seseorang merasa tidak segar atau sulit berfungsi pada siang hari.

    Insomnia yang berlangsung setidaknya tiga malam dalam seminggu selama tiga bulan atau lebih tergolong kronis. Jika masalah tidur mengganggu kegiatan sehari-hari, dokter dapat membantu menilai penyebab dan pilihan penanganannya.

  2. Temuan penelitian

    Ilustrasi stroke sebagai kondisi medis yang dapat memengaruhi fungsi otak dan kemampuan tubuh seseorang.
    ilustrasi stroke (IDN Times/Novaya Siantita)

    Penelitian ini merupakan umbrella systematic review, yang artinya para peneliti merangkum tinjauan sistematis dan metaanalisis yang sudah terbit, lalu melakukan tinjauan tambahan untuk beberapa topik.

    Untuk stroke, mereka mengidentifikasi sembilan studi yang melibatkan sekitar 1,34 juta orang; enam studi masuk ke metaanalisis. Insomnia berkaitan dengan hazard stroke sekitar 26 persen lebih tinggi dibandingkan pada orang tanpa insomnia.

    Untuk rawat inap karena berbagai sebab, lima studi mencakup sekitar 517 ribu orang; tiga di antaranya digabungkan dalam metaanalisis. Hasilnya menunjukkan odds rawat inap sekitar 28 persen lebih tinggi pada orang dengan insomnia.

    Angka tersebut menunjukkan hubungan statistik dalam penelitian, bukan berarti risiko seseorang otomatis bertambah 26 atau 28 persen. Selain itu, hasil penelitian ini tidak membuktikan bahwa insomnia menjadi penyebab langsung masalah kesehatan tersebut.

    Peneliti juga mencatat bahwa setiap studi menggunakan definisi insomnia yang berbeda-beda, dan beberapa faktor penting, seperti penggunaan obat tidur, tidak selalu diperhitungkan. Karena itu, hubungan antara insomnia dan berbagai risiko kesehatan masih perlu diteliti lebih lanjut.

    Tinjauan tersebut juga melihat hubungan insomnia dengan berbagai kondisi lain, termasuk demensia dan gangguan kesehatan mental. Namun, hasilnya tidak selalu sama untuk semua kondisi yang diteliti. Misalnya, peneliti tidak menemukan hubungan antara insomnia dan risiko kematian. Karena itu, temuan tentang stroke dan rawat inap sebaiknya dipandang sebagai pengingat bahwa kesehatan tidur penting untuk diperhatikan.

  3. Kapan perlu mencari bantuan?

    Jika kesulitan tidur berulang dan mulai mengganggu pekerjaan, konsentrasi, suasana hati, atau kegiatan sehari-hari, catatan tidur selama satu hingga dua minggu dapat membantu saat berkonsultasi. Catat waktu tidur dan bangun, berapa kali terjaga, konsumsi kafein atau alkohol, serta rasa kantuk pada siang hari.

    Untuk insomnia kronis, terapi perilaku kognitif khusus insomnia (CBT-I) merupakan salah satu penanganan yang direkomendasikan. Perbaikan kebiasaan tidur dapat membantu, tetapi sleep hygiene saja tidak cukup sebagai satu-satunya terapi untuk insomnia kronis.

    Referensi

    Luca Vignatelli et al., “Insomnia as Risk Factor for Brain, Mental and General Health Consequences: An Umbrella Systematic Review,” Sleep Medicine Reviews 90 (2026): 102372, https://doi.org/10.1016/j.smrv.2026.102372.

    National Heart, Lung, and Blood Institute, “Insomnia: Symptoms,” National Institutes of Health, https://www.nhlbi.nih.gov/health/insomnia/symptoms.

    National Heart, Lung, and Blood Institute, “Insomnia: Diagnosis,” National Institutes of Health, https://www.nhlbi.nih.gov/health/insomnia/diagnosis.

    Cecilia Adamou, “Insomnia Linked to Higher Stroke and Hospitalisation Risk,” European Medical Journal, October 2, 2026, https://www.emjreviews.com/neurology/news/insomnia-linked-to-higher-stroke-and-hospitalisation-risk/.

    Vignatelli et al., “Insomnia as Risk Factor”; Adamou, “Insomnia Linked to Higher Stroke.”

    Jack D. Edinger et al., “Behavioral and Psychological Treatments for Chronic Insomnia Disorder in Adults: An American Academy of Sleep Medicine Clinical Practice Guideline,” Journal of Clinical Sleep Medicine 17, no. 2 (2021): 255–62, https://doi.org/10.5664/jcsm.8986.

Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More