Pada awal 1980-an, kebanyakan dokter meyakini bahwa tukak lambung berkaitan dengan stres, pola hidup, atau produksi asam lambung yang berlebihan. Gagasan bahwa bakteri bisa hidup di lambung hampir terdengar mustahil. Karena itu, ketika dokter patologi Robin Warren menemukan bakteri berbentuk melengkung di jaringan lambung pasien, temuannya dianggap tidak sesuai dengan pemahaman yang berlaku saat itu. Yang membuatnya makin penasaran, bakteri tersebut sering ditemukan di area yang mengalami peradangan.
Dari situ, rasa penasaran mempertemukannya dengan Barry Marshall, seorang dokter muda yang tertarik menyelidiki temuan tersebut. Keduanya mulai memeriksa sampel lambung pasien satu per satu.
Setelah berkali-kali mencoba, mereka akhirnya berhasil menumbuhkan bakteri yang sebelumnya tidak dikenal. Hasilnya, bakteri itu ditemukan pada sebagian besar pasien yang mengalami radang lambung aktif maupun tukak lambung dan usus dua belas jari.
Namun, penemuan besar jarang langsung diterima. Banyak yang menganggap bakteri tersebut hanya pencemar sampel atau mikroba yang kebetulan berada di sana. Ketika bukti yang ada belum cukup meyakinkan, Marshall mengambil langkah yang tidak biasa. Ia menelan sendiri bakteri hasil biakan itu. Sekitar 10 hari kemudian, pemeriksaan menunjukkan lambungnya mengalami peradangan. Ia pun merasakan gejala sakit selama hampir dua minggu.
Percobaan yang berisiko itu membantu mengubah cara dunia medis memandang penyakit lambung. Apa yang awalnya dianggap mustahil, yaitu bakteri hidup di lingkungan lambung yang asam, ternyata membuka babak baru dalam pemahaman tentang penyebab radang dan tukak lambung.
