Meski pemeriksaan sperma perlu dilakukan sejak awal, tetapi bukan berarti masalah kesuburan sepenuhnya berasal dari laki-laki. Prof. Budi menegaskan bahwa kondisi kedua pasangan tetap perlu dievaluasi untuk mengetahui penyebab sulit hamil dan menentukan penanganan tepat.
Pada perempuan, dokter akan melihat sejumlah faktor, mulai dari usia, jumlah atau cadangan sel telur, kondisi saluran telur, hingga proses ovulasi. Faktor usia menjadi perhatian khusus karena kualitas sel telur mengalami penurunan seiring bertambahnya usia. Dalam konteks bayi tabung, dia menyebut kualitas embrio sangat dipengaruhi oleh usia ibu dan kualitas sperma.
Sementara itu, dari sisi suami, pemeriksaan sperma diperlukan untuk mengetahui apakah terdapat gangguan jumlah, kualitas atau kemampuan sperma. Jika ditemukan masalah, dokter dapat menentukan langkah berikutnya sesuai kondisi pasangan.
Prof. Budi juga menjelaskan bahwa tidak semua pasangan yang mengalami gangguan kesuburan otomatis harus menjalani bayi tabung. Pada pasangan dengan kondisi tertentu, terdapat berbagai pilihan teknologi reproduksi berbantu. Bayi tabung menjadi salah satu pilihan, terutama ketika faktor penyebab infertilitas membutuhkan intervensi yang lebih kompleks.
Karena itu, pendekatan terhadap infertilitas sebaiknya tidak dimulai dengan asumsi bahwa yang bermasalah pasti perempuan. Pemeriksaan harus dilakukan terhadap pasangan secara menyeluruh agar penyebabnya dapat diketahui dan terapi yang diberikan benar-benar sesuai dengan kondisi keduanya.