Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Bisakah Psikosis Postpartum Dicegah? Ini yang Bisa Dilakukan

Bisakah Psikosis Postpartum Dicegah? Ini yang Bisa Dilakukan
ilustrasi ibu menggendong anak melihat ke luar jendela rumah (magnific.com/magnific)
  • Psikosis postpartum tergolong langka, sekitar 1–2 per 1.000 persalinan, tetapi merupakan kegawatdaruratan psikiatri yang dapat muncul cepat pada hari atau minggu awal setelah melahirkan.
  • Risiko lebih tinggi pada ibu dengan riwayat psikosis postpartum, bipolar tipe I, gangguan skizoafektif, atau riwayat keluarga; kondisi ini perlu dibahas dengan dokter sejak kehamilan direncanakan.
  • Pencegahan meliputi rencana perawatan sejak hamil, pengobatan sesuai evaluasi dokter, perlindungan waktu tidur, dukungan keluarga, dan pemantauan ketat gejala awal setelah persalinan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Psikosis postpartum kembali menjadi perhatian setelah kasus Lindsay Clancy di Amerika Serikat. Mantan perawat persalinan itu sedang menjalani persidangan atas kematian tiga anaknya pada Januari 2023.

Tim pembela berargumen bahwa Clancy mengalami psikosis postpartum dan kehilangan kontak dengan realitas ketika kejadian berlangsung, sedangkan jaksa membantah bahwa ia mengalami psikosis akut dan menilai tindakannya dilakukan secara sadar.

Hingga akhir Agustus 2026, kondisi mental Clancy ketika kejadian masih menjadi salah satu isu utama yang dipertimbangkan juri.

Kasus ekstrem seperti ini tidak menggambarkan sebagian besar orang dengan psikosis postpartum. Kondisi tersebut memang langka, sekitar 1–2 kasus per 1.000 persalinan, tetapi termasuk kegawatdaruratan psikiatri karena gejalanya dapat berkembang cepat, biasanya dalam hari atau minggu pertama setelah melahirkan.

Gejalanya dapat berupa kebingungan, mania, perubahan suasana hati ekstrem, delusi, atau halusinasi.

Pertanyaannya, bisakah psikosis postpartum dicegah?

  1. 1. Kenali siapa yang berisiko tinggi

    Pencegahan dimulai sebelum bayi lahir dengan mengetahui riwayat kesehatan mental.

    Risiko psikosis postpartum jauh lebih tinggi pada perempuan yang pernah mengalami kondisi ini sebelumnya, memiliki gangguan bipolar tipe I atau gangguan skizoafektif, atau memiliki kerabat dekat yang pernah mengalami psikosis postpartum.

    Royal College of Psychiatrists memperkirakan perempuan yang pernah mengalami psikosis postpartum memiliki risiko kekambuhan sekitar 1 dari 2 pada persalinan berikutnya.

    Risiko serupa dapat terjadi pada sebagian perempuan dengan bipolar tipe I yang sebelumnya mengalami psikosis postpartum.

    Metaanalisis terhadap 37 studi dengan 5.700 persalinan juga menemukan risiko kekambuhan gangguan suasana hati atau psikosis postpartum pada kelompok berisiko tinggi secara keseluruhan sekitar 35 persen. Pada perempuan dengan riwayat psikosis postpartum, risiko episode berat setelah persalinan sekitar 29 persen.

    Karena itu, riwayat bipolar, psikosis, atau psikosis postpartum sebaiknya disampaikan kepada dokter kandungan dan psikiater sejak merencanakan kehamilan atau sesegera mungkin setelah mengetahui sedang hamil.

  2. 2. Buat rencana sebelum persalinan

    Pada orang berisiko tinggi, jangan menunggu sampai gejala muncul. Para ahli merekomendasikan keterlibatan layanan kesehatan mental perinatal selama kehamilan.

    Idealnya, sebelum persalinan sudah ada rencana tertulis yang menjelaskan obat yang digunakan, tanda awal yang perlu diperhatikan, siapa yang akan memantau kondisi ibu, serta ke mana keluarga harus mencari pertolongan jika perilaku atau cara berpikir mulai berubah.

    Orang terdekat juga perlu mengetahui tanda awal. Psikosis postpartum terkadang berkembang sangat cepat. Ibu dapat tiba-tiba tidak tidur, sangat berenergi, berbicara atau berpikir jauh lebih cepat, menjadi sangat curiga, kebingungan, atau mulai mempercayai sesuatu yang tidak sesuai kenyataan.

    Menangkap perubahan ini dalam hitungan jam atau hari dapat membuat pertolongan diberikan sebelum kondisinya memberat.

  3. 3. Pada kelompok tertentu, obat pencegahan dapat menurunkan risiko

    Seorang ibu menggendong bayi dalam ilustrasi yang menggambarkan kedekatan dan perawatan antara orang tua dan anak.
    ilustrasi seorang ibu sedang menggendong bayi (pexels.com/Ron Lach)

    Dalam penelitian prospektif terhadap 70 perempuan berisiko tinggi, 29 di antaranya memiliki riwayat psikosis yang hanya terjadi setelah melahirkan. Dari 20 perempuan yang menggunakan pengobatan pencegahan segera setelah persalinan—sebagian besar menggunakan lithium—tidak ada yang mengalami kekambuhan.

    Sebaliknya, 4 dari 9 perempuan atau 44 persen yang tidak menggunakan terapi pencegahan mengalami kekambuhan.

    Walaupun skala studi kecil dan bukan uji acak besar, tetapi sampai sekarang lithium buktinya paling kuat untuk mencegah kekambuhan psikosis postpartum pada pasien yang sesuai.

    Strateginya dapat berbeda pada orang dengan gangguan bipolar. Perempuan dengan bipolar yang tidak menggunakan obat pencegahan selama kehamilan memiliki risiko kekambuhan postpartum sekitar 66 persen, dibandingkan 23 persen pada mereka yang mendapat terapi profilaksis, menurut penelitian.

    Namun, jangan memulai, menghentikan, atau mengubah lithium maupun obat psikiatri sendiri ketika hamil atau setelah melahirkan. Manfaat dan risikonya untuk ibu dan bayi, termasuk pertimbangan menyusui, harus dinilai secara individual bersama psikiater dan dokter kandungan.

  4. 4. Lindungi waktu tidur setelah melahirkan

    Kurang tidur bukan satu-satunya penyebab psikosis postpartum, tetapi kemungkinan menjadi salah satu pemicunya pada orang yang rentan.

    Penelitian terhadap 870 perempuan dengan gangguan bipolar menemukan mereka yang sebelumnya pernah mengalami episode mania akibat kehilangan waktu tidur memiliki kemungkinan sekitar dua kali lebih besar mengalami psikosis postpartum dibanding mereka yang tidak memiliki pola tersebut.

    Ini penting untuk diperhatikan, karena hari-hari pertama setelah bayi lahir sering kali penuh dengan tidur yang terputus.

    Pada perempuan berisiko tinggi, rencana pascapersalinan sebaiknya tidak cuma mencakup obat dan kontrol dokter, tetapi juga bagaimana ibu mendapatkan waktu tidur yang cukup dan tidak terus-menerus terjaga sepanjang malam.

    Pasangan atau keluarga dapat membantu mengambil sebagian tugas malam sehingga ibu mempunyai periode tidur yang tidak terlalu terfragmentasi.

    Jika penggunaan obat atau kebutuhan menjaga tidur memengaruhi keputusan mengenai menyusui, pilihan tersebut perlu dibicarakan bersama tenaga kesehatan. Tujuannya adalah menyeimbangkan kesehatan ibu, keamanan bayi, pemberian makan bayi, serta pencegahan kekambuhan.

  5. 5. Pantau sangat ketat minggu-minggu pertama setelah melahirkan

    Psikosis postpartum biasanya muncul dalam dua minggu pertama, dan sering kali dimulai dalam beberapa hari setelah kelahiran. Karena itu, para ahli menganjurkan pemantauan kesehatan mental secara dekat pada minggu-minggu pertama setelah ibu pulang dari rumah sakit.

    Keluarga perlu segera mencari pertolongan jika ibu:

    • Hampir tidak tidur tetapi tetap sangat berenergi.
    • Sangat gelisah atau perilakunya berubah drastis.
    • Tampak kebingungan.
    • Berbicara atau berpikir sangat cepat dan sulit diikuti.
    • Mendengar atau melihat sesuatu yang tidak ada.
    • Memiliki keyakinan kuat yang tidak sesuai kenyataan.
    • Menjadi sangat curiga atau paranoid.
    • Berbicara mengenai menyakiti diri sendiri atau bayi.

    Jika gejala psikosis sudah muncul, diperlukan evaluasi psikiatri secepat mungkin dan kebanyakan pasien membutuhkan perawatan di rumah sakit.

    Pada akhirnya, cara paling efektif mengurangi risiko psikosis postpartum adalah mengetahui risiko sebelum persalinan dan menyiapkan periode postpartum sejak awal.

    Pada orang dengan riwayat psikosis postpartum atau bipolar, kombinasi perawatan psikiatri selama kehamilan, rencana pengobatan yang tepat, perlindungan waktu tidur, dukungan keluarga, dan pemantauan ketat setelah melahirkan dapat membantu mencegah kekambuhan atau menghentikannya sebelum berkembang menjadi episode berat.

    Referensi

    Richard Wesseloo et al., “Risk of Postpartum Relapse in Bipolar Disorder and Postpartum Psychosis: A Systematic Review and Meta-Analysis,” American Journal of Psychiatry 173, no. 2 (2016): 117–127, https://doi.org/10.1176/appi.ajp.2015.15010124.
    PubMed—Wesseloo et al.

    Veerle Bergink et al., “Prevention of Postpartum Psychosis and Mania in Women at High Risk,” American Journal of Psychiatry 169, no. 6 (2012): 609–615, https://doi.org/10.1176/appi.ajp.2012.11071047.
    PubMed—Bergink et al.

    Chaitra Jairaj et al., “Postpartum Psychosis: A Proposed Treatment Algorithm,” Focus 22, no. 1 (2024): 131–142, https://doi.org/10.1176/appi.focus.23021033.
    PubMed Central—Postpartum Psychosis Treatment Algorithm

    Lewis G. Lewis et al., “Mania Triggered by Sleep Loss and Risk of Postpartum Psychosis in Women with Bipolar Disorder,” Journal of Affective Disorders 225 (2018): 624–629, https://doi.org/10.1016/j.jad.2017.08.054.
    PubMed—Sleep Loss and Postpartum Psychosis

    Royal College of Psychiatrists, “Postpartum Psychosis,” accessed August 31, 2026.
    Royal College of Psychiatrists—Postpartum Psychosis

    American College of Obstetricians and Gynecologists, “Treatment and Management of Mental Health Conditions During Pregnancy and Postpartum,” Clinical Practice Guideline No. 5, June 2023.
    ACOG—Treatment and Management during Pregnancy and Postpartum

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More