Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Ketika Kehamilan Datang di Usia 40-an: Memahami Risiko, Menjaga Harapan

Ketika Kehamilan Datang di Usia 40-an: Memahami Risiko, Menjaga Harapan
ilustrasi ibu hamil usia 40+ (IDN Times/NRF)
  • Tren menunda punya anak meningkat; dokter kini lebih sering menemui pasangan yang baru merencanakan kehamilan pada akhir usia 30-an hingga awal 40-an.

  • Kesuburan perempuan menurun sejak usia 30-an dan lebih cepat setelah 37 tahun karena jumlah serta kualitas sel telur berkurang, meningkatkan risiko keguguran dan kelainan kromosom.

  • Kehamilan usia 40-an memerlukan pemantauan kondisi individu karena risiko preeklamsia, hipertensi, diabetes gestasional, dan komplikasi lain meningkat; evaluasi infertilitas perlu melibatkan kedua pasangan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Selama beberapa dekade terakhir, secara global banyak perempuan menunda memiliki anak. Di negara-negara anggota Organization for Economic Cooperation and Development (OECD), usia rata-rata perempuan saat melahirkan anak pertama meningkat sekitar tiga tahun dalam dua dekade terakhir, dari 28,5 tahun menjadi 30,8 tahun.

Rata-rata usia ibu saat melahirkan—untuk semua kelahiran—juga naik hingga mencapai 30,9 tahun pada 2022. Indonesia memang belum memiliki data nasional mengenai rata-rata usia ibu saat melahirkan anak pertama. Namun, sejumlah indikator menunjukkan arah yang serupa.

Angka kelahiran terus menurun, sementara makin banyak pasangan menunda memiliki anak karena pendidikan, karier, pertimbangan ekonomi, atau baru menikah pada usia yang lebih matang. Dalam praktik klinis fertilitas, dokter juga makin sering menjumpai pasangan yang baru merencanakan kehamilan pada akhir usia 30-an hingga awal 40-an.

“Pasien saya sekarang banyak yang baru menikah satu atau dua tahun, tetapi usianya sudah 42 atau 43 tahun. Dari sisi fertilitas, ini menjadi tantangan besar karena ada proses biologis yang tidak bisa kita lawan,” ujar dr. Agus Heriyanto Sp.OG, Subsp FER, MARS MM.

  1. Hamil setelah 15 tahun menanti

    Selama 15 tahun menikah, Letisia terbiasa melihat test pack tanpa garis dua. Berkali-kali menjalani program kehamilan, ia dan suaminya akhirnya memilih berhenti berharap. Sekitar satu hingga 1,5 tahun sebelum kehamilan ini terjadi, keduanya bahkan sudah merasa ikhlas jika belum juga dikaruniai anak.

    Lalu, pada usia 42 tahun, ketika ia justru mulai mempersiapkan diri menghadapi perimenopause, kejutan muncul dari dua garis di test pack.

    “Sudah ikhlas, jadi tidak ada program apa-apa. Tiba-tiba, alhamdulillah, baru ketahuan ternyata sudah positif hamil,” ujarnya.

    Ketika mengetahui kehamilannya, usia kandungan sudah sekitar enam minggu. Ia bahkan sempat bingung apakah kehamilan itu bisa disebut direncanakan. Yang jelas, kehadiran calon buah hati tersebut sudah lama dinantikan. Ketika kabar kehamilan disampaikan, orang-orang terdekatnya langsung menangis haru.

    Letisia sendiri awalnya bahkan tidak langsung menyadari dirinya sedang hamil. Ia memang mengalami keterlambatan menstruasi. Namun, ia memiliki PCOS dan selama ini siklus menstruasinya relatif teratur. Memasuki usia 40-an, ia justru mengira keterlambatan tersebut merupakan tanda tubuh mulai memasuki perimenopause.

    “Saya kira itu karena sudah di usia 42. Jadi saya sudah seikhlas itu, malah sudah mempersiapkan fisik dan mental untuk menghadapi perimenopause,” ungkapnya.

    Karena itu, ketika menstruasinya terlambat pada Juni, ia tidak terlalu memikirkannya. Ia bahkan berencana menunggu hingga bulan berikutnya. Jika masih belum menstruasi juga, barulah ia akan memeriksakan diri.

    Sampai kemudian asam lambungnya kambuh. Ia berkonsultasi dengan dokter umum lewat telemedisin. Saat ditanya mengenai keluhan yang dialami, ia menyebut mual, muntah, pusing, hingga rasa tidak biasa pada mulut.

    Dokter kemudian bertanya apakah mulutnya terasa asam atau pahit dan soal tes kehamilan. Letisia saat itu berbohong dengan menjawab sudah melakukan test pack dengqn hasil negatif karena ingin mengakhiri sesi konsultasi.

    Namun, pertanyaan tersebut justru membuatnya mulai berpikir. Ada menstruasi yang terlambat. Ada mual dan muntah. Ada rasa logam di mulut. Ada pula perubahan suasana hati yang menurutnya berbeda dari biasanya.

    “Biasanya asam lambung ya sudah, kumat saja. Tidak ada hubungannya dengan bad mood. Ini tuh saya merasa berubah kayak bukan diri saya,” kisahnya.

    Kehamilan tersebut tentu menjadi kabar yang sangat membahagiakan. Namun, ada kesadaran lain yang muncul setelah dokter melakukan pemeriksaan. Usianya sudah 42 tahun. Selain itu, ia juga obesitas. Dokter menyampaikan bahwa kehamilannya termasuk kehamilan yang membutuhkan perhatian lebih.

    “Karena ini termasuk kategori hamil risiko tinggi. Ditambah kondisi saya juga sebenarnya obesitas, jadi agak double ya, double risk,” Letisia bercerita.

    Karena kehamilan masih sangat muda ketika pertama kali diperiksa, dokter belum memberikan banyak instruksi khusus. Untuk sementara, ia diminta lebih banyak bersantai dan mengurangi aktivitas fisik berat. Pola makan juga diminta lebih diperhatikan karena kenaikan berat badan selama kehamilan perlu dikontrol.

    Ada satu hal menarik dari perjalanan kehamilan tersebut. Sekitar satu tahun sebelum mengetahui dirinya hamil, ia justru mulai lebih serius memperhatikan kesehatan tubuh. Namun, saat itu tujuannya bukan untuk program hamil.

    Ia sedang mempersiapkan diri menghadapi perimenopause. Letisia mulai rutin pergi ke gym dan menerapkan mindful eating. Bukan diet ketat, melainkan belajar lebih sadar dalam memilih makanan.

    Setiap kali hendak memasak atau membeli makanan, ia memperhatikan komposisinya. Ia pun juga mulai berusaha memperkuat otot. Baginya, memasuki usia 40-an berarti tubuh harus dipersiapkan untuk menghadapi perubahan yang mungkin terjadi.

  2. Kehamilan alami pada usia 40 tahun

    Ilustrasi pasangan duduk bersama saat menyambut kehamilan, menggambarkan dinamika hubungan yang berbahaya.
    ilustrasi pasangan berbahaya menyambut kehamilan (pexels.com/RDNE Stock project)

    Setelah hampir tujuh tahun menanti, Ulfa Hidayati akhirnya mendapat kabar yang selama ini ditunggu, dirinya hamil. Kehamilan itu datang ketika usianya sudah menginjak 40 tahun. Dengan berat badan sekitar 105 kilogram dan kondisi obesitas, ia berhasil hamil secara alami.

    Tidak ada program bayi tabung. Tidak ada rangkaian pemeriksaan kesuburan yang panjang. Bahkan, pada saat itu ia dan suaminya sudah berada pada titik pasrah.

    Speechless. Soalnya kita berdua benar-benar di posisi pasrah saat itu,” imbuhnya.

    Kehamilan tersebut menjadi makin berarti karena kondisi ekonomi keluarga saat itu sedang sulit. Biaya untuk menjalani program kehamilan ke dokter maupun membeli berbagai produk pendukung promil bukan sesuatu yang terjangkau.

    Sejak kecil, Ulfa memang sudah memiliki tubuh yang cenderung gemuk. Namun, berat badan sebelumnya belum pernah mencapai lebih dari 100 kilogram. Di tengah keterbatasan tersebut, ia justru mulai melakukan perubahan sederhana pada pola hidupnya.

    Sebelum hamil, Ulfa mulai mengurangi konsumsi gula dan teh serta membatasi makanan berbahan tepung. Porsi sayur diperbanyak. Ia juga lebih sering terpapar sinar matahari. Itu semua sebenarnya tidak dirancang sebagai program khusus untuk meningkatkan kesuburan.

    Perubahan gaya hidup tersebut dilakukan secara sederhana, tanpa program diet khusus atau berbagai suplemen. Ia hanya berusaha mengurangi makanan tertentu dan memperbanyak makanan yang menurutnya lebih sehat. Namun, ia menegaskan bahwa dirinya tidak menganggap perubahan tersebut sebagai satu-satunya alasan kehamilannya.

    “Yang pasti semua karena Allah SWT. Alhamdulillah Allah memberikan kami kepercayaan untuk menjadi orang tua,” kata Ulfa.

    Dari sisi pasangan, tidak ada perubahan khusus yang dilakukan suami ketika mereka sedang menanti kehamilan. Tidak merokok, tidak pula memiliki kebiasaan begadang. Karena itu, Ulfa merasa faktor yang paling menjadi perhatian adalah dirinya, terutama karena obesitas.

    Begitu tahu dirinya hamil, ia tentu harus menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Hasil pemeriksaan laboratorium sejauh ini menunjukkan kondisi yang baik. Namun, dokter tetap memberi perhatian khusus karena berat badannya.

    Saat pemeriksaan USG, dokter meresepkan obat yang menurutnya berfungsi sebagai pencegahan preeklamsia, menjaga tekanan darahnya tetap terkontrol selama kehamilan.

    Dokter tetap mengingatkan Ulfa untuk terus menjaga pola makan dan berat badan selama kehamilan. Ia diminta menghindari makanan yang terlalu berlemak dan makanan instan, serta tidak mengalami kenaikan berat badan secara drastis.

    Meski hamil di usia 40 tahun dan memiliki obesitas, Ulfa mengaku tidak terlalu diliputi kecemasan, ia justru sangat menikmatinya. Pemeriksaan kehamilan yang dilakukan juga merupakan pemeriksaan rutin. Ia tidak terlalu mengetahui secara detail mengenai pemeriksaan khusus seperti USG fetomaternal.

  3. Jam biologis tubuh perempuan

    Ada alasan biologis mengapa usia menjadi salah satu faktor terpenting dalam menentukan peluang seorang perempuan untuk hamil. Ketika memasuki usia 30-an—terutama pertengahan hingga akhir—kesuburan mulai menurun dan penurunannya makin cepat setelah usia 37 tahun.

    Perubahan ini tidak selalu terasa. Siklus menstruasi bisa tetap teratur, tubuh masih terlihat sehat dan tidak ada gejala khusus yang menandakan bahwa kesuburan sedang menurun. Namun di dalam ovarium, proses penuaan reproduksi terus berlangsung.

    Kesuburan mulai menurun sekitar usia 30 tahun dan penurunannya menjadi lebih cepat pada pertengahan 30-an. Pada usia 45 tahun, kehamilan alami sudah menjadi sulit.

    Menurut dr. Agus, salah satu alasan utama perempuan mengalami penurunan kesuburan seiring bertambahnya usia adalah karena mereka memang lahir dengan jumlah sel telur yang terbatas.

    “Perempuan sejak lahir sudah dibekali sel telur. Berbeda dengan laki-laki yang memiliki ‘pabrik’ untuk terus memproduksi sperma sepanjang hidupnya,” ungkapnya.

    Kesuburan tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak sel telur yang tersisa. Di sinilah persoalan usia menjadi lebih kompleks. Setelah umur 30-an, bukan hanya jumlah yang turun, tetapi juga kualitas.

    Sejak lahir hingga menopause, terjadi penurunan alami dan progresif pada jumlah maupun kualitas sel telur yang belum sepenuhnya matang (oosit). Penurunan tersebut makin cepat memasuki dekade keempat kehidupan.

    Artinya, seorang perempuan berusia 40 tahun bukan cuma memiliki cadangan sel telur yang lebih sedikit dibanding perempuan berusia 25 tahun. Sel telur yang tersisa juga secara statistik memiliki kemungkinan lebih besar mengalami kelainan kromosom.

    Hal ini berkaitan dengan proses pembelahan kromosom saat sel telur mengalami meiosis. Seiring bertambahnya usia, risiko terjadinya kesalahan pemisahan kromosom (chromosomal nondisjunction) meningkat. Kondisi tersebut dapat menghasilkan embrio dengan jumlah kromosom yang tidak normal atau aneuploidy.

    Konsekuensinya bukan hanya peluang hamil yang menurun, tetapi juga meningkatnya risiko keguguran dan kelainan kromosom pada kehamilan.

  4. Tidak selalu karena faktor usia

    Ilustrasi sel telur berwarna kuning dikelilingi sperma putih berlatar merah muda, menggambarkan proses pembuahan.
    ilustrasi sel telur dan sperma (pexels.com/Nadezhda Moryak)

    Fecundity—kemampuan untuk memperoleh kehamilan dalam satu siklus—mulai menurun pada awal usia 30-an dan mengalami penurunan yang lebih cepat setelah 37 tahun. Penurunan berlangsung secara bertahap mulai sekitar usia 32 tahun, kemudian menjadi lebih cepat setelah 37 tahun.

    Menstruasi teratur tidak selalu berarti kualitas kesuburan masih optimal. Perempuan berusia 35 atau 40 tahun dengan siklus menstruasi yang masih teratur tetap dapat mengalami kesulitan untuk hamil akibat faktor usia. Gaya hidup sehat tetap penting untuk kesehatan reproduksi, tetapi tidak dapat menghapus efek biologis dari pertambahan usia.

    Merokok, misalnya, dapat menurunkan kesuburan. Begitu pula kondisi berat badan yang terlalu rendah atau tinggi dapat memengaruhi kemampuan untuk hamil. Dengan menghindari faktor-faktor tersebut tidak berarti proses penuaan ovarium dapat dihentikan.

    Selain faktor usia, ada faktor lain yang ikut memengaruhi kesuburan, seperti polusi dan paparan endocrine disrupting chemicals (EDCs), misalnya BPA, timbal, serta berbagai zat kimia dari lingkungan maupun makanan yang sering kali tidak disadari. Zat-zat tersebut dapat memicu inflamasi yang berdampak pada fungsi reproduksi.

    “Belum lagi perubahan lingkungan. Kenaikan suhu global juga disebut dapat menurunkan potensi kehamilan. Pada dasarnya, fertilitas selalu berbicara tentang probabilitas atau peluang,” dr. Agus menjelaskan.

  5. Benarkah usia 40-an berisiko tinggi untuk hamil?

    Label hamil di usia 40-an sering kali langsung diikuti dengan istilah high-risk pregnancy atau kehamilan berisiko tinggi. Padahal, usia bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan bagaimana sebuah kehamilan akan berjalan.

    Memang benar, makin bertambah usia ibu, beberapa risiko kehamilan meningkat. Namun, peningkatan tersebut berlangsung secara bertahap, bukan tiba-tiba ketika seorang perempuan melewati usia tertentu.

    “Kehamilan sendiri merupakan proses yang sangat berat bagi tubuh. Bayangkan saja membawa kehamilan selama sekitar 280 hari. Selain membawa tambahan berat badan, tubuh juga mengalami perubahan hormon, perubahan suasana hati, gangguan muskuloskeletal, nyeri panggul, hingga kaki bengkak. Semua itu menjadi tantangan yang lebih besar pada usia di atas 40 tahun,” dr. Agus menjelaskan.

    American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) bahkan menyebut usia 35 tahun sebagai batas advanced maternal age, tetapi menegaskan bahwa angka tersebut merupakan batas yang ditetapkan secara konvensional, bukan ambang biologis yang mutlak. Sejumlah risiko kehamilan meningkat secara bertahap dan menjadi lebih nyata pada usia 40 tahun ke atas.

    “Begitu sudah di atas 35 tahun, bukan berarti langsung tidak ideal. Kita harus melihat kondisi masing-masing,” lanjutnya.

    Dalam praktiknya, dokter perlu melihat usia, bersama dengan kondisi kesehatan ibu dan karakteristik kehamilannya. Usia memang meningkatkan risiko, tetapi bukan satu-satunya penentu.

    Perempuan berusia 40 tahun tidak selalu memiliki profil kesehatan yang sama. Mereka yang tidak memiliki hipertensi, diabetes, obesitas, penyakit jantung, atau komplikasi kehamilan sebelumnya tentu berbeda dengan perempuan seusianya yang memiliki beberapa kondisi tersebut.

  6. Peningkatan risiko hamil di usia matang

    Ilustrasi ibu hamil mengenakan baju merah muda dengan janin bayi terlihat di dalam kandungan pada area perut.
    ilustrasi ibu hamil dan janin, bayi dalam kandungan (IDN Times/NRF)

    Ada sejumlah komplikasi yang frekuensinya meningkat seiring bertambahnya usia perempuan. Salah satunya adalah preeklamsia, yaitu komplikasi kehamilan yang ditandai antara lain oleh tekanan darah tinggi dan dapat melibatkan kerusakan organ. Risiko preeklamsia meningkat pada perempuan yang hamil setelah usia 40 tahun.

    Selain itu, usia maternal yang lebih tua berkaitan dengan peningkatan risiko:

    • Hipertensi dalam kehamilan.
    • Diabetes gestasional.
    • Persalinan prematur.
    • Kelainan kromosom.
    • Keguguran.
    • Hambatan pertumbuhan janin.
    • Kelahiran melalui operasi sesar.
    • Stillbirth atau bayi lahir mati.

    Peningkatan risiko tersebut dapat tetap terlihat bahkan pada perempuan yang sehat dan tidak memiliki penyakit penyerta.

  7. Usia pasangan turut memengaruhi

    Ketika membicarakan kehamilan di usia 40-an, perhatian sering kali tertuju pada perempuan. Padahal, usia calon suami juga ikut berperan dalam kesuburan dan kesehatan reproduksi.

    Memang, laki-laki tidak mengalami penurunan kesuburan dengan pola yang sama seperti perempuan. Mereka terus memproduksi sperma sepanjang hidup. Namun, bukan berarti kualitas sperma tidak berubah seiring bertambahnya usia.

    American Society for Reproductive Medicine (ASRM) menyebut, parameter air mani mulai mengalami penurunan yang dapat terdeteksi setelah usia 35 tahun. Namun, efek usia terhadap fertilitas laki-laki secara keseluruhan lebih kecil dibanding pengaruh usia pada perempuan.

    Dokter spesialis andrologi, dr. Christian Christoper Sunnu, Sp.And, mengatakan, pada laki-laki, kualitas sperma tidak hanya ditentukan oleh ada atau tidaknya sperma.

    “Dari jumlahnya dulu, kemudian motilitas atau pergerakannya. Sperma kalau diam, dia tidak bisa ketemu sel telur. Yang aktif, gerakannya harus lincah. Ketiga, bentuknya. Jadi sel telur itu ternyata bisa memilih. Sperma yang bagus dia boleh masuk, sperma yang jelek diusir," ia menerangkan.

    Secara klinis, tiga parameter yang umum diperiksa melalui analisis air mani memang meliputi konsentrasi atau jumlah sperma, motilitas dan morfologi. Namun, penting dicatat bahwa satu parameter yang berada di bawah nilai rujukan tidak otomatis berarti seorang laki-laki mandul. Parameter air mani sangat bervariasi dan hasil analisis perlu dinilai secara keseluruhan.

  8. Kualitas sperma bisa berubah

    Seorang suami berkonsultasi dengan dokter mengenai pemeriksaan kesuburan di ruang klinik bersama pasangannya.
    ilustrasi pemeriksaan kesuburan (pexels.com/Pavel Danilyuk)

    Berbeda dengan perempuan yang lahir dengan cadangan oosit terbatas, laki-laki memproduksi sperma baru secara terus-menerus. Proses tersebut membuat sel-sel yang menghasilkan sperma terus mengalami pembelahan.

    Seiring bertambahnya usia, perubahan pada sistem reproduksi laki-laki dapat memengaruhi kualitas air mani dan integritas materi genetik sperma. Bertambahnya usia berkaitan dengan penurunan beberapa parameter air mani, termasuk volume, motilitas dan morfologi sperma, serta peningkatan fragmentasi DNA sperma.

    Setelah 35 tahun, beberapa parameter air mani pada populasi laki-laki mulai menunjukkan kecenderungan menurun, tetapi perubahan tersebut tidak terjadi dengan derajat yang sama pada setiap individu.

    Jadi, laki-laki berusia 40 tahun spermanya tidak otomatis buruk. Sebaliknya, usia yang lebih muda tidak menjamin sperma sehat. Satu-satunya cara mengetahuinya adalah melalui analisis air mani.

  9. Faktor infertilitas pada laki-laki

    WHO dalam pedoman infertilitas terbarunya memasukkan berbagai faktor yang dapat berhubungan dengan infertilitas, termasuk faktor gaya hidup dan kesehatan.

    “Yang penting adalah gaya hidupnya. Suplemen, olahraga, tidurnya bagaimana, makanannya sehari-hari. Dia stres atau dia relaks,” ujar dr. Sunnu.

    Faktor yang dapat berkaitan dengan infertilitas laki-laki termasuk merokok, penggunaan steroid anabolik, diet, kondisi medis tertentu, obat-obatan, dan paparan lingkungan.

    Dokter Sunnu juga menyinggung terkait berat badan. Hal yang perlu dibedakan adalah berat badan tinggi karena massa otot dan berat badan tinggi yang berkaitan dengan kelebihan lemak. Jangan terlalu terfokus pada angka timbangan, dalam konteks kesuburan sebaiknya lebih perhatikan obesitas atau kelebihan adipositas.

    Obesitas pada laki-laki telah dikaitkan dengan berbagai perubahan reproduksi, termasuk gangguan hormon dan beberapa parameter semen atau air mani. Mekanismenya dapat melibatkan perubahan hormonal, inflamasi, dan peningkatan stres oksidatif. Kelebihan lemak tubuh, terutama obesitas, berkaitan dengan gangguan hormonal dan kualitas sperma.

  10. Egg freezing bisa jadi solusi?

    Mikropipet menyuntikkan satu sel sperma ke dalam oosit pada prosedur ICSI untuk membantu proses fertilisasi.
    ICSI (intracytoplasmic sperm injection), teknik fertilisasi berbantu di mana satu sel sperma disuntikkan langsung ke dalam sel telur (oosit). (commons.wikimedia.org/Michiel1972)

    Teknologi reproduksi tidak sepenuhnya bisa melawan usia. Kemajuan teknologi reproduksi memang memberikan lebih banyak pilihan bagi perempuan yang ingin menunda kehamilan. Salah satunya adalah pembekuan sel telur (oocyte cryopreservation).

    Dokter Agus menjelaskan bahwa sel telur dapat diambil dan dibekukan menggunakan teknologi vitrifikasi. Di kemudian hari, sel telur tersebut dapat dicairkan, dibuahi dengan sperma, dikembangkan menjadi embrio, kemudian ditanamkan ke rahim.

    Teknologi dapat menyimpan sel telur pada usia tertentu, tetapi tidak dapat mengembalikan kualitas sel telur yang sudah menua. Karena itu, usia ketika sel telur dibekukan sangat penting. Egg freezing menjadi upaya menyimpan sel telur yang diperoleh pada usia tertentu untuk kemungkinan digunakan di kemudian hari.

  11. Kapan perlu mencari bantuan?

    Jika pasangan sudah mencoba hamil namun belum berhasil, jangan cuma istri yang diperiksa. Evaluasi awal infertilitas seharusnya dilakukan pada kedua pasangan secara bersamaan.

    Untuk pasangan dengan perempuan berusia di atas 35 tahun, evaluasi infertilitas umumnya dilakukan setelah enam bulan mencoba hamil tanpa hasil. Pada kondisi tertentu, pemeriksaan bisa dilakukan lebih cepat. Hal ini menjadi lebih penting jika suami juga sudah berusia 40-an. Bukan berarti laki-laki usia 40 tahun pasti mandul, tetapi karena usia kedua pasangan perlu dipertimbangkan dalam peluang kehamilan.

    Pada akhirnya, usia reproduksi bukan cuma soal perempuan. Laki-laki juga mengalami perubahan seiring bertambahnya usia, meski prosesnya berbeda.

    Pada perempuan, jumlah dan kualitas sel telur menurun seiring usia, dengan penurunan kesuburan yang lebih nyata mulai pertengahan hingga akhir usia 30-an. Pada laki-laki, produksi sperma memang terus berlangsung, tetapi kualitas air mani dan DNA sperma juga dapat berubah seiring penuaan.

    Referensi

    "Guideline for the prevention, diagnosis and treatment of infertility". World Health Organization. Diakses Agustus 2026.

    "FERTILITY AND AGING". American Society for Reproductive Medicine. Diakses Agustus 2026.

    "Diagnosis and treatment of infertility in men: AUA/ASRM guideline part I". American Society for Reproductive Medicine. Diakses Agustus 2026.

    "Pregnancy at Age 35 Years or Older". American College of Obstetricians & Gynecologists. Diakses Agustus 2026.

    "Having a Baby After Age 35". American College of Obstetricians & Gynecologists. Diakses Agustus 2026.

    "Indications for Outpatient Antenatal Fetal Surveillance". American College of Obstetricians & Gynecologists. Diakses Agustus 2026.

    "Recurrent miscarriage". Royal College of Obstetricians & Gynaecologists. Diakses Agustus 2026.

    "Assisted reproduction with advancing paternal and maternal age". American Society for Reproductive Medicine. Diakses Agustus 2026.

    Kortekaas, Joep C., Anke C. Scheuer, Esteriek De Miranda, Aimée E. Van Dijk, Judit K. J. Keulen, Aafke Bruinsma, Ben W. J. Mol, Frank P. H. A. Vandenbussche, and Jeroen Van Dillen. “Perinatal Death Beyond 41 Weeks Pregnancy: An Evaluation of Causes and Substandard Care Factors as Identified in Perinatal Audit in the Netherlands.” BMC Pregnancy and Childbirth 18, no. 1 (September 20, 2018): 380.

    "Society at a Glance: Asia/Pacific 2025. A Spotlight on Fertility Trends". OECD. Diakses Agustus 2026.

    "Testing and interpreting measures of ovarian reserve: a committee opinion". American Society for Reproductive Medicine. Diakses Agustus 2026.

    "Having a Baby After Age 35: How Aging Affects Fertility and Pregnancy". Every Stage Health. Diakses Agustus 2026.

    Wang, Si, Jie Ren, Ying Jing, Jing Qu, and Guang-Hui Liu. “Perspectives on Biomarkers of Reproductive Aging for Fertility and Beyond.” Nature Aging 4, no. 12 (December 13, 2024): 1697–1710.

    Bao, Shenglan, Tailang Yin, and Su Liu. “Ovarian Aging: Energy Metabolism of Oocytes.” Journal of Ovarian Research 17, no. 1 (May 31, 2024): 118.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More