Terapi pencegahan baru diberikan setelah TBC aktif disingkirkan melalui penilaian oleh dokter dan pemeriksaan yang diperlukan. Sebaliknya, pasien yang sedang menjalani pengobatan TBC aktif tidak sebaiknya menghentikan obat sendiri saat batuk mulai mereda. Menghentikan obat terlalu cepat atau tanpa arahan dokter dapat menyebabkan resistansi bakteri terhadap obat.
“Jika resistensi terjadi, pasien mungkin memerlukan kombinasi obat berbeda, terapi yang lebih kompleks dan berdurasi lebih panjang. Selain itu, pasien TBC paru yang masih menular berisiko terus menularkan bakteri kepada orang-orang di sekitarnya,” kata Dr. Desdiani.
Jika muncul efek samping atau kesulitan menjalani terapi, hubungi dokter yang menangani.
Jadi, pengobatan TBC satu bulan merupakan terapi pencegahan untuk TBC laten pada orang yang memenuhi syarat. TBC aktif memerlukan regimen pengobatan tersendiri, yang durasinya ditentukan berdasarkan kondisi pasien.
Referensi
IPB University, “Pengobatan TBC Diringkas Jadi Satu Bulan, Dokter IPB University: Hanya untuk TBC Laten,” diakses 30 Oktober 2026.
World Health Organization, “Tuberculosis,” diakses 30 Oktober 2026.
World Health Organization, "WHO Consolidated Guidelines on Tuberculosis: Module 1: Prevention—Tuberculosis Preventive Treatment, 2nd ed.," diakses 30 Oktober 2026.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, "Petunjuk Teknis Penatalaksanaan Tuberkulosis Sensitif Obat di Indonesia," diakses 30 Oktober 2026.
Susan Swindells et al., “One Month of Rifapentine plus Isoniazid to Prevent HIV-Related Tuberculosis,” New England Journal of Medicine 380, no. 11 (2019): 1001–11, https://doi.org/10.1056/NEJMoa1806808.
Susan E. Dorman et al., “Four-Month Rifapentine Regimens with or without Moxifloxacin for Tuberculosis,” New England Journal of Medicine 384, no. 18 (2021): 1705–18, https://doi.org/10.1056/NEJMoa2033400.