Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Efek Makan Jeroan Setiap Hari saat Perayaan Idul Adha

Efek Makan Jeroan Setiap Hari saat Perayaan Idul Adha
ilustrasi gulai babat, hidangan jeroan yang umum dikonsumsi saat Idul Adha (commons.wikimedia.org/Sunshroom17)
Intinya Sih
  • Jeroan mengandung protein, zat besi, dan vitamin penting, namun juga tinggi kolesterol, lemak jenuh, serta purin yang bisa memengaruhi metabolisme dan kadar asam urat bila dikonsumsi berlebihan.
  • Konsumsi jeroan terus-menerus saat Idul Adha dapat meningkatkan risiko kolesterol tinggi, tekanan darah naik, hingga serangan gout terutama bagi yang memiliki riwayat penyakit metabolik.
  • Agar tetap aman, disarankan membatasi porsi jeroan, menambah sayur dan air putih, memilih cara masak ringan seperti rebus atau panggang, serta mendengarkan sinyal tubuh.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Saat liburan Idul Adha, meja makan dan kulkas di rumah diwarnai dengan olahan daging sapi, kambing, termasuk jeroan seperti hati, usus, paru, limpa, babat, hingga otak. Bagi sebagian orang, jeroan paling dinanti karena rasanya gurih, teksturnya khas, dan cocok diolah menjadi gulai, sate, sambal goreng, atau tongseng.

Di sisi lain, momen Idul Adha sering membuat pola makan berubah cukup drastis. Kalau biasanya pola makan sehari-hari kamu lebih sehat dan seimbang, saat perayaan ini kamu mungkin makan daging dan jeroan hampir setiap hari selama beberapa hari berturut-turut.

Dalam jumlah wajar, jeroan umumnya tidak perlu ditakuti karena mengandung nutrisi penting. Akan tetapi, jika kamu memakannya terus-menerus, efeknya bisa terasa pada metabolisme, kadar asam urat, dan kesehatan jantung.

Table of Content

Nutrisi jeroan

Nutrisi jeroan

Jeroan termasuk makanan yang padat nutrisi. Beberapa jenis jeroan mengandung:

  • Protein.
  • Zat besi.
  • Vitamin B12.
  • Vitamin A.
  • Selenium.
  • Zink.
  • Folat.

Hati sapi, misalnya, dikenal sebagai salah satu sumber vitamin B12 dan zat besi paling tinggi dalam makanan. Karena itu, secara historis jeroan bahkan pernah dianggap makanan bergizi dan bernilai tinggi di banyak budaya.

Namun masalahnya, jeroan juga memiliki kandungan kolesterol, lemak jenuh, dan purin yang relatif tinggi pada beberapa jenis organ tertentu. Kandungan inilah yang menjadi perhatian jika dikonsumsi terlalu sering.

Waspadai lonjakan kolesterol dan purin

Ilustrasi kolesterol dalam tubuh menampilkan perbedaan antara HDL dan LDL dengan gambar pembuluh darah dan jantung.
ilustrasi kolesterol dalam tubuh (vecteezy.com/Narupon Promvichai)

Tidak semua jeroan memiliki kandungan yang sama. Beberapa organ seperti otak, hati, ginjal, dan usus cenderung memiliki kadar kolesterol cukup tinggi.

Ketika dikonsumsi terus-menerus dalam jumlah banyak, tubuh bisa mengalami peningkatan kadar kolesterol darah, terutama jika pola makan keseluruhan kamu juga diwarnai santan, minyak, gorengan, dan rendah serat.

Selain itu, jeroan juga tinggi purin. Purin adalah senyawa alami yang nantinya dipecah tubuh menjadi asam urat. Jika asupan purin terlalu tinggi, kadar asam urat dapat meningkat dan memicu nyeri sendi, pembengkakan, atau serangan gout pada orang yang rentan.

Organ dalam hewan termasuk makanan dengan kandungan purin tinggi yang dapat memicu kekambuhan penyakit asam urat tinggi pada sebagian orang.

Tidak semua orang akan langsung sakit

Tubuh manusia sebenarnya cukup fleksibel menghadapi perubahan pola makan sementara. Tidak semua orang yang makan jeroan beberapa hari langsung mengalami kolesterol tinggi, hipertensi, atau asam urat tinggi.

Namun, risiko biasanya lebih besar pada orang yang sudah memiliki:

  • Kolesterol tinggi.
  • Hipertensi.
  • Diabetes.
  • Obesitas.
  • Penyakit ginjal.
  • Perlemakan hati.
  • Riwayat gout.

Pada kondisi tertentu, konsumsi jeroan berlebihan dapat menjadi pemicu yang membuat keluhan muncul atau kambuh.

Kenapa tubuh bisa terasa "berat" setelah makan banyak jeroan?

Banyak orang merasa cepat haus, begah, mengantuk, atau tubuh terasa tidak nyaman setelah beberapa hari makan berat saat Idul Adha.

Ini bukan semata-mata karena jeroan saja, tetapi kombinasi dari lemak tinggi, porsi besar, makanan bersantan, garam berlebih, dan minim serat.

Makanan tinggi lemak membutuhkan waktu cerna lebih lama. Jika dikonsumsi berlebihan, tubuh bisa merasa lebih “berat” karena sistem pencernaan bekerja lebih keras.

Asupan garam yang tinggi dari gulai, sate, atau olahan berbumbu pekat juga dapat membuat tubuh menahan cairan, merasa lebih haus, dan meningkatkan tekanan darah pada sebagian orang.

Bagaimana dengan risiko penyakit jantung?

Semangkuk gulai jeroan sapi berkuah santan kuning kemerahan dengan potongan cabai, daun jeruk, dan sayuran di atas kain bergaris biru putih.
ilustrasi gulai jeroan sapi (magnific.com/jcomp)

Hubungan antara kolesterol makanan dan penyakit jantung sebenarnya cukup kompleks.

Penelitian modern menunjukkan kolesterol dalam makanan tidak selalu langsung meningkatkan kolesterol darah secara drastis pada semua orang. Respons tubuh setiap individu bisa berbeda.

Namun pola makan tinggi lemak jenuh, makanan ultraproses tinggi kalori, dan konsumsi daging berlebihan tetap dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit metabolik dan kardiovaskular jika berlangsung terus-menerus.

Jadi, yang paling penting sebenarnya adalah pola makan keseluruhan dan frekuensi konsumsi. Makan jeroan sesekali saat Idul Adha tentu berbeda dengan konsumsi berlebihan setiap hari dalam jangka panjang.

Cara menikmati jeroan dengan lebih aman

Jeroan masih bisa dinikmati tanpa mengorbankan kesehatan. Beberapa tips yang bisa kamu praktikkan:

  • Batasi frekuensi dan porsi. Tidak perlu makan jeroan setiap hari selama seminggu penuh.
  • Perbanyak sayur dan serat. Serat membantu metabolisme lemak dan menjaga kesehatan pencernaan.
  • Kurangi kuah santan berlebihan. Kombinasi jeroan dan santan pekat membuat asupan lemak makin tinggi.
  • Perbanyak minum air. Tubuh membutuhkan cairan cukup untuk membantu metabolisme dan ekskresi.
  • Pilih metode memasak yang lebih ringan. Merebus atau memanggang biasanya lebih baik dibanding menggoreng berulang kali.
  • Dengarkan sinyal tubuh. Jika muncul nyeri sendi, tekanan darah naik, atau gangguan pencernaan, tubuh mungkin sedang kesulitan menghadapi pola makan tersebut.

Idul Adha memang identik dengan makan bersama dan menikmati hidangan daging kurban. Masalah biasanya bukan pada satu kali makan, melainkan ketika kamu terus-terusan makan porsi besar, makanan yang dimakan mengandung lemak dan garam tinggi, dan minim nutrisi seimbang selama berhari-hari tanpa jeda.

Tubuh manusia sebenarnya adaptif, tetapi tetap punya batas. Jadi, tidak perlu takut menikmati jeroan sesekali, asalkan tetap diimbangi pola makan yang lebih seimbang dan tidak berlebihan.

Referensi

National Institutes of Health. “Dietary Cholesterol and Cardiovascular Risk.” Diakses Mei 2026.

Mayo Clinic. “Gout Diet: What’s Allowed, What’s Not.” Diakses Mei 2026.

World Health Organization. “Healthy Diet.” Diakses Mei 2026.

Bradley C. Johnston et al., “Unprocessed Red Meat and Processed Meat Consumption: Dietary Guideline Recommendations From the Nutritional Recommendations (NutriRECS) Consortium,” Annals of Internal Medicine 171, no. 10 (October 1, 2019): 756–64, https://doi.org/10.7326/m19-1621.

Hyon K. Choi et al., “Purine-Rich Foods, Dairy and Protein Intake, and the Risk of Gout in Men,” New England Journal of Medicine 350, no. 11 (March 10, 2004): 1093–1103, https://doi.org/10.1056/nejmoa035700.

U.S. Department of Agriculture. “FoodData Central.” Diakses Mei 2026.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F

Related Articles

See More