- Pola makan saat berbuka dan sahur
Amankah Puasa untuk Orang dengan GERD?

Puasa dapat menurunkan paparan asam esofagus pada sebagian pasien dengan GERD.
Polanya bergantung pada pola makan saat sahur dan berbuka, bukan semata durasi tidak makan.
Kepatuhan terhadap terapi dan pilihan makanan yang ramah lambung dapat membantu mengurangi risiko kambuh saat puasa.
Menjelang Ramadan, banyak orang dengan gastroesophageal reflux disease (GERD) khawatir jika puasa akan memperparah penyakitnya. Kekhawatiran ini muncul karena lamanya waktu tanpa makan dan minum, yang sering diasosiasikan dengan lambung kosong dan produksi asam lambung yang meningkat.
Namun, realitasnya tidak sesederhana itu. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pola makan saat sahur dan berbuka justru dapat menurunkan paparan asam esofagus pada sebagian pasien dengan gejala refluks. Ada juga studi yang menemukan bahwa sebagian orang dengan GERD mengalami perbaikan gejala selama puasa Ramadan. Lantas, apakah puasa sebenarnya aman bagi mereka atau ada kondisi tertentu yang membuatnya berisiko?
Puasa pada orang yang memiliki GERD
Secara fisiologis, GERD terjadi akibat relaksasi atau kelemahan sfingter esofagus bagian bawah/lower esophageal sphincter (LES) yang memungkinkan asam lambung naik ke esofagus.
Faktor pencetus utamanya meliputi volume lambung yang besar, makanan tinggi lemak, peningkatan tekanan intraabdomen, serta gangguan pengosongan lambung. Dengan kata lain, refluks tidak semata-mata dipicu oleh lambung kosong, melainkan oleh kombinasi tekanan, volume, dan fungsi sfingter.
Penelitian menunjukkan adanya penurunan paparan asam esofagus dan perbaikan skor gejala pada sebagian partisipan selama periode puasa. Mekanisme yang diduga berperan adalah berkurangnya frekuensi episode relaksasi LES akibat lebih jarangnya stimulasi makan serta berkurangnya paparan refluks setelah makan.
Studi lain menemukan bahwa beberapa pasien mengalami penurunan frekuensi heartburn dan regurgitasi selama Ramadan. Faktor pola makan tetap menjadi determinan utama. Konsumsi makanan tinggi lemak, pedas, kopi, cokelat, serta makan dalam porsi besar menjelang tidur secara konsisten dikaitkan dengan peningkatan refluks. Artinya, efek puasa terhadap GERD sangat bergantung pada pola makan saat sahur dan berbuka, bukan semata durasi tidak makan.
Hasil studi menunjukkan perbedaan

Beberapa studi menunjukkan perbaikan gejala GERD selama puasa, tetapi hasilnya tidak selalu konsisten. Variasi ini dapat dijelaskan melalui beberapa faktor klinis dan perilaku berikut:
Puasa mengubah frekuensi makan, tetapi tidak otomatis memperbaiki kualitas pola makan. Jika saat berbuka kamu mengonsumsi makanan tinggi lemak, gorengan, santan, cokelat, atau kopi dalam jumlah besar, risiko refluks meningkat. Makanan berlemak memperlambat pengosongan lambung dan meningkatkan relaksasi LES, sehingga memperbesar risiko heartburn setelah makan.
- Porsi besar dalam waktu singkat
Selama Ramadan, asupan kalori sering terkonsentrasi pada dua waktu makan utama. Makan dalam porsi besar sekaligus membuat lambung penuh dan tekanannya naik, sehingga isi lambung bisa terdorong naik ke kerongkongan. Jadi, meski waktu puasa lama, tetapi kejadian refluks tetap bisa sering terjadi jika beban makan tiba‑tiba besar.
- Waktu tidur setelah makan
Refluks makin mudah terjadi kalau kamu langsung berbaring setelah makan. Banyak orang tidur segera setelah sahur, sehingga gravitasi yang biasanya membantu menahan asam di lambung tidak bekerja, sehingga asam bisa naik ke kerongkongan dan menyebabkan sensasi terbakar di dada.
- Tingkat keparahan GERD
Pasien dengan GERD ringan tanpa komplikasi mungkin mengalami perbaikan gejala karena frekuensi makan berkurang. Sebaliknya, pasien dengan esofagitis erosif atau refluks berat berpotensi tetap mengalami gejala meski berpuasa.
- Kepatuhan terhadap pengobatan
Penggunaan proton pump inhibitor (PPI) atau H2 blocker yang tidak teratur selama Ramadan dapat memengaruhi kontrol gejala. Penyesuaian waktu minum obat (misalnya sebelum sahur) menjadi faktor penting dalam stabilitas kondisi.
Secara keseluruhan, perbedaan hasil penelitian bukan berarti datanya saling bertentangan, melainkan mencerminkan kompleksitas patofisiologi GERD. Efek puasa sangat dipengaruhi oleh variabel perilaku, klinis, dan pola diet masing-masing individu.
Tips aman berpuasa pada orang dengan GERD
Berikut beberapa langkah yang dapat membantu mengurangi risiko GERD kambuh saat puasa:
- Pilih makanan yang ramah lambung
Saat sahur dan berbuka, utamakan makanan rendah lemak dan tidak terlalu pedas. Hindari gorengan, santan kental, cokelat, kopi, serta minuman bersoda karena dapat memicu asam lambung naik. Pilih karbohidrat kompleks, protein tanpa lemak, dan sayuran yang tidak memicu gas berlebihan.
- Jangan makan porsi besar sekaligus
Berbuka secara bertahap lebih aman dibanding langsung makan besar. Porsi yang terlalu banyak dalam waktu singkat dapat meningkatkan tekanan di lambung dan memicu gejala heartburn.
- Hindari berbaring setelah makan
Berikan jeda minimal 2–3 jam sebelum tidur setelah sahur atau makan malam. Posisi berbaring memudahkan asam lambung naik ke kerongkongan.
- Atur waktu minum obat
Bagi pasien yang rutin mengonsumsi PPI atau obat lambung lainnya, konsultasikan dengan dokter untuk penyesuaian waktu minum obat, biasanya sebelum sahur agar perlindungan berlangsung sepanjang hari.
- Kenali tanda bahaya
Jika muncul nyeri dada berat, sulit menelan, muntah berulang, atau penurunan berat badan yang tidak jelas sebabnya, puasa sebaiknya dihentikan dan segera temui dokter.
Puasa tidak otomatis memperburuk GERD. Pada sebagian orang, pengaturan waktu makan justru dapat membantu mengurangi keluhan. Namun, manfaat tersebut sangat bergantung pada kualitas makanan, porsi, serta kondisi masing-masing individu. Respons terhadap pola makan dengan batas waktu tertentu juga bersifat personal.
Keputusan untuk berpuasa sebaiknya tidak didasarkan pada asumsi, melainkan pada evaluasi kondisi pribadi dan konsultasi medis. Dengan strategi yang tepat, banyak pasien GERD tetap dapat menjalani puasa dengan aman dan nyaman.
Referensi
Jiang, Yan, Irene Sonu, Patricia Garcia, Nielsen Q. Fernandez-Becker, Afrin N. Kamal, Thomas A. Zikos, Sundeep Singh, et al. “The Impact of Intermittent Fasting on Patients With Suspected Gastroesophageal Reflux Disease.” Journal of Clinical Gastroenterology 57, no. 10 (November 1, 2022): 1001–6.
Bohamad, Abdullah H, Walaa A Aladhab, Sawsan S Alhashem, Mohammed S Alajmi, Turki Alhumam, Danah J Alqattan, and Ahmed M Elshebiny. “Impact of Ramadan Fasting on the Severity of Symptoms Among a Cohort of Patients With Gastroesophageal Reflux Disease (GERD).” Cureus 15, no. 3 (March 28, 2023): e36831.
Mardhiyah, R., Makmun, D., Syam, A. F., & Setiati, S. (2017). The Effects of Ramadhan Fasting on Clinical Symptoms in Patients with Gastroesophageal Reflux Disease. Acta Medica Indonesiana, 48(3), 169-174.
Herdiana, Yedi. “Functional Food in Relation to Gastroesophageal Reflux Disease (GERD).” Nutrients 15, no. 16 (August 15, 2023): 3583.
Lakananurak, Narisorn, Panyavee Pitisuttithum, Paweena Susantitaphong, Tanisa Patcharatrakul, and Sutep Gonlachanvit. “The Efficacy of Dietary Interventions in Patients With Gastroesophageal Reflux Disease: A Systematic Review and Meta-Analysis of Intervention Studies.” Nutrients 16, no. 3 (February 5, 2024): 464.



![[QUIZ] Tebak Seperti Apa Partner HYROX Kamu dari Zodiaknya](https://image.idntimes.com/post/20251209/upload_8eb05979525a150975c859a7b7a1626c_27e3fcc6-9d2c-4b54-9159-89c672ab3360.png)





![[QUIZ] Kami Bisa Tahu Kualitas Tidurmu dari Kebiasaan Malam](https://image.idntimes.com/post/20250603/pexels-media-6940878-3c9296c30326a359cd62291a7a4a8913-a9e3f9eb95165443635ef0a6c5a040b0.jpeg)








