Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

GERD Bisa Menyebabkan Serangan Jantung? Ini Faktanya

Seorang perempuan mengalami nyeri dada, bisa karena GERD bisa pula karena masalah jantung.
ilustrasi nyeri dada (freepik.com/jcomp)
Intinya sih...
  • GERD tidak menyebabkan serangan jantung, tetapi gejalanya sering menyerupai.
  • Kemiripan nyeri dada berasal dari jalur saraf dan lokasi anatomi yang berdekatan.
  • Beberapa tanda bahaya tetap harus dianggap darurat hingga terbukti bukan jantung.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Rasa panas di dada, nyeri yang menjalar, hingga sensasi tertekan di tengah dada tak jarang bikin khawatir, bahkan panik. Tak sedikit yang langsung berpikir bahwa itu adalah serangan jantung. Namun, setelah ke dokter dan menjalani pemeriksaan, dokter menyebut penyebabnya adalah GERD, yang merupakan penyakit refluks asam lambung. Di titik inilah kebingungan muncul.

Banyak orang kemudian bertanya-tanya, apakah GERD bisa berkembang menjadi serangan jantung? Atau apakah refluks asam lambung dapat merusak jantung secara langsung? Kekhawatiran ini wajar, mengingat gejala GERD memang bisa mirip gejala penyakit jantung.

Pemahaman yang keliru bukan cuma memicu kecemasan berlebih yang tidak perlu, tetapi juga berisiko menunda penanganan medis yang tepat. Jadi, penting memisahkan mitos dari fakta seputar GERD dan serangan jantung.

Anggapan keliru: GERD menyebabkan serangan jantung

Secara medis, GERD TIDAK menyebabkan serangan jantung. Hingga saat ini, tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa asam lambung dapat menyumbat pembuluh darah koroner atau memicu kematian otot jantung secara langsung. Serangan jantung terjadi akibat penyumbatan aliran darah ke otot jantung, biasanya karena plak aterosklerosis dan pembekuan darah.

GERD, di sisi lain, adalah gangguan pada sistem pencernaan bagian atas, terutama akibat melemahnya katup antara esofagus dan lambung. Masalahnya bukan pada pembuluh darah, melainkan pada paparan asam lambung yang berulang terhadap dinding esofagus.

Kesalahpahaman tetap sering terjadi karena sensasi nyeri yang muncul bisa terasa mirip, bahkan bagi tenaga medis sekalipun, sebelum pemeriksaan penunjang dilakukan.

Kenapa banyak orang mengira GERD berkaitan dengan serangan jantung?

Seorang pria mengalami nyeri karena refluks asam lambung.
ilustrasi pria mengalami nyeri karena refluks asam (pixabay.com/naturalherbsclinic)

Alasan utamanya adalah lokasi dan jalur saraf yang tumpang tindih. Esofagus dan jantung berada berdekatan di rongga dada dan berbagi jalur saraf yang sama, termasuk saraf vagus dan serabut simpatis. Akibatnya, otak bisa “salah menerjemahkan” sinyal nyeri dari esofagus sebagai nyeri jantung.

Penelitian menunjukkan bahwa nyeri dada non kardiak (tidak terkait dengan jantung), termasuk akibat GERD, menyumbang hingga 60 persen kasus nyeri dada yang datang ke unit gawat darurat, setelah penyebab jantung disingkirkan. Ini menjelaskan mengapa banyak orang merasa sangat yakin sedang mengalami serangan jantung, padahal sumber nyerinya berasal dari saluran cerna.

Selain itu, GERD dapat disertai kecemasan dan serangan panik, yang dapat memperparah sensasi sesak dada dan jantung berdebar—gejala yang makin menyerupai kondisi kardiovaskular akut.

Kemiripan gejala GERD dan serangan jantung

Baik GERD maupun serangan jantung dapat menimbulkan:

  • Nyeri atau rasa terbakar di dada.
  • Sensasi tertekan di bagian tengah dada.
  • Nyeri yang menjalar ke leher atau rahang.
  • Mual dan rasa tidak nyaman di perut bagian atas.

Inilah sebabnya mengapa dokter selalu menganggap nyeri dada sebagai masalah jantung hingga terbukti sebaliknya. Prinsip ini penting karena konsekuensi salah diagnosis pada serangan jantung jauh lebih berbahaya.

Perbedaan gejala GERD dan serangan jantung

ilustrasi orang terkena serangan jantung (freepik.com/Freepik)
ilustrasi orang terkena serangan jantung (freepik.com/Freepik)

Meski mirip, tetapi ada pola yang bisa membantu membedakan gejala GERD dan serangan jantung.

Nyeri GERD biasanya:

  • Muncul setelah makan besar atau makanan berlemak.
  • Memburuk saat berbaring atau membungkuk.
  • Disertai rasa asam atau pahit di mulut.
  • Mereda dengan antasida atau obat penekan asam.

Nyeri serangan jantung biasanya:

  • Dipicu aktivitas fisik atau stres emosional.
  • Tidak membaik dengan perubahan posisi.
  • Disertai keringat dingin, sesak napas, atau pusing.
  • Berlangsung lebih dari beberapa menit dan makin berat.

Namun, perbedaan ini tidak selalu mutlak, terutama pada perempuan, lansia, dan orang dengan diabetes, yang sering mengalami gejala serangan jantung tidak khas.

Tanda-tanda peringatan yang tidak boleh diabaikan

Apa pun riwayat GERD seseorang, nyeri dada harus segera dievaluasi secara medis jika disertai:

  • Nyeri hebat yang tiba-tiba.
  • Sesak napas.
  • Keringat dingin.
  • Nyeri menjalar ke lengan kiri atau punggung.
  • Pingsan atau hampir pingsan.

Ingat selalu bahwa lebih baik “salah curiga” daripada terlambat, karena waktu sangat menentukan keselamatan otot jantung.

Kesimpulannya, GERD tidak menyebabkan serangan jantung, tetapi gejalanya memang bisa menipu. Kesamaan lokasi, jalur saraf, dan sensasi nyeri membuat banyak orang, bahkan tenaga kesehatan sekalipun, harus ekstra hati-hati dalam menilai nyeri dada.

Pendekatan yang paling aman adalah memastikan jantung terlebih dahulu. Setelah itu, barulah GERD ditangani secara tepat. Dengan pemahaman yang benar, kecemasan bisa ditekan, dan risiko fatal akibat keterlambatan diagnosis dapat dihindari.

Referensi

Panagiotis Theofilis et al., “Pathophysiology of Acute Coronary Syndromes—Diagnostic and Treatment Considerations,” Life 13, no. 7 (July 12, 2023): 1543, https://doi.org/10.3390/life13071543.

Melissa A. Barnhart et al., “Know Your Guidelines Series: The ACG Clinical Guideline for the Diagnosis and Management of Gastroesophageal Reflux Disease Review,” Southern Medical Journal 115, no. 12 (December 1, 2022): 919–20, https://doi.org/10.14423/smj.0000000000001473.

Ronnie Fass and Sami R Achem, “Noncardiac Chest Pain: Epidemiology, Natural Course and Pathogenesis,” Journal of Neurogastroenterology and Motility 17, no. 2 (April 30, 2011): 110–23, https://doi.org/10.5056/jnm.2011.17.2.110.

Stanley F. Malamed and Daniel L. Orr, “Chest Pain,” in Elsevier eBooks, 2014, 475–78, https://doi.org/10.1016/b978-0-323-17122-9.00029-9.

“Noncardiac Chest Pain,” Australian Journal of General Practice, n.d., https://www1.racgp.org.au/ajgp/2022/november/noncardiac-chest-pain.

"When chest pain isn’t a heart attack." Michigan Medicine. Diakses Januari 2026.

Wertli MM, Dangma TD, Müller SE, Gort LM, Klauser BS, et al. (2019) Non-cardiac chest pain patients in the emergency department: Do physicians have a plan how to diagnose and treat them? A retrospective study. PLOS ONE 14(2): e0211615. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0211615

Monira Alwhaibi, “Anxiety and Depression and Health-Related Quality of Life in Adults With Gastroesophageal Reflux Disease: A Population-Based Study,” Healthcare 11, no. 19 (September 27, 2023): 2637, https://doi.org/10.3390/healthcare11192637.

Kristian Thygesen et al., “Fourth Universal Definition of Myocardial Infarction (2018),” Circulation 138, no. 20 (October 16, 2018), https://doi.org/10.1161/cir.0000000000000617.

"Heart Attack." American Heart Association. Diakses Januari 2026.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More

GERD Bisa Menyebabkan Serangan Jantung? Ini Faktanya

25 Jan 2026, 15:15 WIBHealth