Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kasus Serangan Jantung Meningkat setelah Liburan, Apa Penyebabnya?

Seorang dokter memeriksa jantung pasien dengan stetoskop.
ilustrasi dokter memeriksa jantung pasien dengan stetoskop (pexels.com/Pavel Danilyuk)
Intinya sih...
  • Data menunjukkan peningkatan kejadian serangan jantung dan kematian kardiak selama musim liburan, terutama sekitar Natal dan Tahun Baru.
  • Faktor perilaku liburan seperti konsumsi alkohol, stres emosional, pola makan berlebihan, suhu dingin, dan gangguan rutinitas kesehatan berkontribusi pada beban pada sistem kardiovaskular.
  • Holiday heart syndrome, yaitu kondisi irama jantung tidak normal setelah pesta minum minuman beralkohol, merupakan salah satu mekanisme yang sering dicatat dalam literatur medis.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Musim liburan sering identik dengan kebahagiaan, keluarga, dan makanan lezat. Namun, di balik itu, data medis menunjukkan fenomena yang tidak menyenangkan bahwa ada peningkatan kasus serangan jantung dan kematian akibat penyakit kardiovaskular selama periode liburan akhir tahun. Faktor budaya, lingkungan, dan kebiasaan tertentu tampaknya berdampak pada kesehatan jantung.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal-jurnal kardiologi serta statistik dari organisasi seperti American Heart Association mencatat bahwa hari-hari seperti Natal dan Tahun Baru memiliki angka kematian akibat serangan jantung yang lebih tinggi dibanding rata-rata tahunan. Fenomena ini bukan satu studi tunggal. Beberapa analisis historis lintas negara pun memberi gambaran serupa.

Para ahli kesehatan mulai memperhatikan pola ini bukan karena sekadar kebetulan, tetapi karena beragam faktor liburan. Mulai dari perubahan gaya hidup hingga temperatur lingkungan, itu semua bisa secara kumulatif meningkatkan beban kerja jantung. Memahami apa yang terjadi dapat membantu kita merencanakan liburan dengan lebih aman.

Berikut ini beberapa faktor terkait liburan yang dapat meningkatkan risiko serangan jantung.

1. Perubahan pola makan dan overindulgence

Saat liburan, perubahan drastis pada pola makan sering terjadi. Makanan tinggi lemak jenuh, garam, dan kalori menjadi lebih umum di meja makan keluarga atau acara sosial. Asupan berlebihan makanan semacam ini dapat memicu peningkatan kolesterol dan tekanan darah, dua faktor risiko utama penyakit kardiovaskular.

Belum lagi makanan besar yang dicerna setelah periode puasa panjang (misalnya sebelum acara besar), yang dapat memberikan beban metabolik mendadak pada tubuh, meningkatkan kebutuhan oksigen oleh jantung sambil memicu respon inflamasi sistemik.

Kondisi ini bisa menjadi “batu loncatan” bagi seseorang yang sudah memiliki plak arterosklerotik tersembunyi atau pembuluh darah yang rentan pecah, sehingga meningkatkan kemungkinan kejadian serangan jantung.

2. Konsumsi alkohol

Perubahan perilaku konsumsi alkohol sering menjadi bagian liburan, tetapi bagi jantung hal ini memiliki dampak tersendiri. Kondisi yang dikenal dalam literatur medis sebagai holiday heart syndrome merujuk pada aritmia atau irama jantung tidak normal yang terjadi setelah konsumsi alkohol secara berlebihan, terutama di kalangan orang yang biasanya tidak minum besar dalam jumlah banyak.

Sebuah tinjauan menunjukkan bahwa lebih dari setengah subjek dalam studi tertentu mengalami episode fibrilasi atrium (AFib), sebuah jenis aritmia, setelah mengonsumsi alkohol di atas jumlah sedang.

AFib sendiri bisa meningkatkan risiko penggumpalan darah, stroke, dan bahkan memperberat kondisi iskemik pada seseorang dengan penyakit jantung koroner dasar. Efek ini makin diperparah oleh elektrolit yang tidak seimbang dan dehidrasi akibat alkohol, yang memengaruhi konduksi listrik di otot jantung.

3. Stres emosional dan ketegangan dalam keluarga

Konflik dalam keluarga.
ilustrasi konflik dalam keluarga (freepik.com/freepik)

Musim liburan sering membawa dinamika emosional yang kuat, mulai dari kebahagiaan kumpul keluarga hingga tekanan finansial atau konflik interpersonal. Stres emosional ini memicu respons hormonal seperti peningkatan kortisol dan adrenalin, yang memaksa jantung bekerja lebih cepat dan meningkatkan tekanan darah.

Reaksi stres kronis tidak hanya membuat jantung bekerja lebih keras dalam jangka pendek, tetapi juga berhubungan dengan peradangan sistemik yang merupakan faktor penting dalam pembentukan plak aterosklerosis dan pembentukan trombus.

Siklus stres yang tidak diatasi juga dapat memengaruhi tidur, pola makan, dan kepatuhan terhadap pengobatan rutin, yang mana semuanya ini berkontribusi terhadap peningkatan risiko jantung selama masa ini.

4. Cuaca dingin dan respons fisiologis

Di banyak negara dengan musim dingin, liburan akhir tahun juga bertepatan dengan suhu yang sangat rendah. Udara dingin menyebabkan pembuluh darah perifer menyempit, meningkatkan tekanan darah dan beban kerja jantung yang mencoba memompa darah ke seluruh tubuh.

Fisiologis, tubuh harus bekerja lebih keras untuk mempertahankan suhu internal, sehingga jantung melakukan lebih banyak “usaha” dari biasanya. Pada individu yang memiliki penyakit kardiovaskular sebelumnya, respons ini dapat menjadi pemicu kejadian iskemik akut.

Efek dingin ini diperkuat oleh aktivitas fisik tak terduga yang terkadang muncul selama liburan, seperti menyekop salju atau berjalan jauh tanpa pemanasan yang cukup, hal yang disebut oleh para ahli sebagai faktor risiko tambahan.

Gejala yang harus diwaspadai

Mengetahui gejala serangan jantung bisa menyelamatkan nyawa. Gejala klasik serangan jantung dapat mencakup:

  • Nyeri atau tekanan di dada yang datang tiba-tiba atau berlangsung beberapa menit.
  • Nyeri yang menjalar ke lengan, punggung, leher, atau rahang.
  • Sesak napas, yang bisa hadir dengan atau tanpa rasa sakit dada.
  • Keringat dingin, mual, atau pusing.

Gejala mungkin berbeda antarindividu. Misalnya, perempuan dan pasien diabetes bisa mengalami nyeri ringan, kelelahan ekstrem, atau gangguan pencernaan sebagai tanda awal.

Jika salah satu tanda ini terjadi, terutama pada seseorang dengan faktor risiko, mendapatkan pertolongan medis darurat segera sangat penting.

Ada tips sehat yang bisa kamu lakukan selama masa liburan:

  • Batasi alkohol: moderasi membantu mengurangi risiko aritmia dan beban pada jantung.
  • Tetap aktif, bahkan berjalan singkat setiap hari membantu mengurangi stres dan menjaga sirkulasi darah.
  • Perhatikan nutrisi: pilih makanan lebih rendah garam, lemak jenuh, dan tinggi serat.
  • Jaga rutinitas kesehatan, termasuk tidak melewatkan obat tekanan darah atau gula darah jika diresepkan oleh dokter.
  • Kelola stres melalui tidur cukup, waktu santai, dan relaksasi sebelum menghadapi acara besar.

Referensi

“Heart Attack Deaths Spike During the Winter Holidays.” American Heart Association. Diakses Desember 2025.

“What is Holiday Heart Syndrome and How to Avoid It.” National Geographic. Diakses Desember 2025.

“Holiday Heart Syndrome: How Binge Drinking Affects the Heart.” Healthline. Diakses Desember 2025.

“Holidays and Heart Risk. ThedaCare. Diakses Desember 2025.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More

Kasus Serangan Jantung Meningkat setelah Liburan, Apa Penyebabnya?

02 Jan 2026, 05:04 WIBHealth