American Society for Nutrition, “Study Finds Teens Who Start the Day with Breakfast Eat Better Overall,” EurekAlert!, July 25, 2026.
University of Texas at Austin College of Natural Sciences, “Teens who Start the Day with Breakfast, Especially Foods with Protein, Eat Better Overall,” July 25, 2026
Studi: Sarapan Bikin Remaja Makan Lebih Sehat Sepanjang Hari

Studi terhadap 128 remaja dan dewasa muda yang terbiasa melewatkan sarapan menemukan bahwa mulai sarapan meningkatkan asupan serat, zat besi, zink, dan kolin tanpa meningkatkan total kalori harian.
Sarapan dengan sekitar 30 gram protein memberikan beberapa keuntungan tambahan dibandingkan sarapan dengan sekitar 15 gram protein, termasuk asupan protein, zat besi, dan kolin yang lebih tinggi serta konsumsi gula tambahan yang lebih rendah.
Temuan ini masih bersifat awal karena dipresentasikan pada konferensi NUTRITION 2026 dan belum dipublikasikan sebagai penelitian peer-reviewed.
Sarapan sering disebut sebagai makanan paling penting dalam sehari. Penelitian terbaru mencoba menjawab pertanyaan yang lebih spesifik, mengenai apa yang terjadi jika remaja yang hampir selalu melewatkan sarapan mulai makan pada pagi hari.
Hasil awalnya menunjukkan, remaja yang mulai sarapan mendapatkan lebih banyak sejumlah nutrisi penting dan cenderung mengonsumsi lebih sedikit makanan manis. Manfaatnya terlihat lebih kuat ketika sarapan mengandung lebih banyak protein.
Table of Content
Remaja yang sarapan mendapat lebih banyak nutrisi tanpa menambah kalori
Penelitian yang dipresentasikan pada pertemuan tahunan NUTRITION 2026 dari American Society for Nutrition melibatkan 128 peserta berusia 14–21 tahun. Kesamaan semuanya adalah mereka terbiasa melewatkan sarapan sedikitnya enam kali dalam seminggu.
Para peserta kemudian secara acak dibagi menjadi tiga kelompok. Satu kelompok tetap melewatkan sarapan, kelompok kedua mendapat sarapan dengan sekitar 15 gram protein, dan kelompok ketiga mendapat sarapan tinggi protein dengan sekitar 30 gram protein berkualitas tinggi.
Peneliti tidak sekadar meminta peserta “cobalah sarapan”. Lebih dari 18.000 porsi makanan disiapkan selama penelitian, termasuk burrito, quesadilla, telur orak-arik, dan smoothie. Pada awal penelitian serta setelah tiga dan enam bulan, peserta kelompok sarapan menerima makanan yang telah disiapkan dan konsumsi mereka dilacak melalui penimbangan wadah makanan serta 24-hour dietary recall (mereka diminta mengingat dan melaporkan semua makanan dan minuman yang dikonsumsi dalam 24 jam terakhir untuk menilai asupan gizi). Kepatuhan terhadap makanan yang diberikan dilaporkan lebih dari 90 persen.
Ketiga kelompok mengonsumsi jumlah kalori harian yang kurang lebih sama. Perbedaannya muncul pada apa yang terdapat di dalam kalori tersebut.
Remaja yang sarapan mendapat lebih banyak serat, zat besi, zink, dan kolin dibanding mereka yang tetap tidak sarapan. Pada kelompok tinggi protein, asupan protein, zat besi, dan kolin juga lebih tinggi daripada kelompok sarapan protein normal.
Masa remaja merupakan periode pertumbuhan yang mana kualitas pola makan sangat penting. Pola makan sehat butuh kecukupan dan keberagaman zat gizi.
Efeknya berlanjut ke makanan yang dipilih sepanjang hari

ilustrasi seorang remaja perempuan sedang mengecek HP-nya (pexels.com/cottonbro studio) Kedua kelompok yang mulai sarapan mengonsumsi lebih sedikit dessert, makanan manis, dan permen sepanjang hari dibanding kelompok yang tetap melewatkan sarapan. Pada kelompok yang mendapat sarapan tinggi protein, konsumsi gula tambahan bahkan lebih rendah daripada dua kelompok lainnya.
Dalam studi tersebut, terlihat bahwa mereka mendapatkan total kalori yang serupa, tetapi distribusi makanan mereka bergeser menuju asupan nutrisi yang lebih baik.
Akan tetapi, bukan berarti semua remaja harus mengonsumsi 30 gram protein setiap pagi. Penelitian ini secara khusus dilakukan pada remaja dan dewasa muda yang sebelumnya hampir selalu melewatkan sarapan. Temuan tersebut belum tentu berlaku sama bagi remaja yang sejak awal sudah rutin sarapan atau kelompok usia lain.
Keterbatasan lainnya, studi ini belum melalui proses peer review. Data dipresentasikan pada NUTRITION 2026, sehingga masih perlu menunggu publikasi ilmiah lengkap untuk menilai metode, hasil statistik, dan keterbatasannya secara lebih mendalam.
Sebagian data konsumsi makanan juga berasal dari ingatan peserta selama 24 jam, sehingga tetap berpotensi mengalami kesalahan pelaporan.
Referensi


![[QUIZ] Dari Kebiasaan Sarapan, Kami Tebak Masalah Kesehatan yang Perlu Diwaspadai](https://image.idntimes.com/post/20260626/freepik-369_55677fbd-81bb-4f64-9a21-2112bb05347a.jpg)



![[QUIZ] Dari Bentuk Fesesmu, Kami Bisa Tahu Kondisi Kesehatanmu](https://image.idntimes.com/post/20260718/upload_81eef7479c8aeb23b53726edf15fecd4_1085b833-0382-4947-ba19-8d7bad3edfd5.png)




![[QUIZ] Tes Kesiapan Lari 21K, Kamu Sudah Ready Belum?](https://image.idntimes.com/post/20260804/mwuep2hrca5w9qlbdxkci8rch_0a3c7963-22c0-42a8-afa2-de6c989c3307.png)







![[QUIZ] Pilih Otot yang Ingin Dibentuk, Kami Rekomendasikan Latihannya](https://image.idntimes.com/post/20240705/anastase-maragos-fp7cfyppukm-unsplash-77608e651ffd65a27bc7ca3ab51d5a4c-9ee8fcedf24c176618a81cd66dfe2478.jpg)

![[QUIZ] Apakah Kamu Punya Kecenderungan NPD? Cek di Sini](https://image.idntimes.com/post/20250625/freepik-29_eed1cb7e-fddb-49f3-a569-893aef034aa0.jpg)