Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Anak Pendek dan Berat Susah Naik, Perlu Pemeriksaan Apa?

Anak Pendek dan Berat Susah Naik, Perlu Pemeriksaan Apa?
ilustrasi anak bermain bola, aktivitas outdoor (magnific.com/pch.vector)
Intinya Sih
  • Evaluasi anak pendek dan berat sulit naik dimulai dari pengukuran akurat, kurva serta kecepatan pertumbuhan, lalu riwayat keluarga, kelahiran, pola makan, dan penyakit.
  • Berat sulit naik dapat terkait asupan kurang, gangguan penyerapan, atau kebutuhan energi meningkat akibat penyakit; kondisi ini tidak selalu menandakan kekurangan hormon pertumbuhan.
  • Tes darah, skrining celiac atau tiroid, usia tulang, hingga evaluasi hormon dan genetik dilakukan sesuai temuan klinis; rujukan diperlukan pada tanda pertumbuhan abnormal atau gejala tertentu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Ada anak yang tubuhnya lebih kecil daripada teman-teman sebayanya namun terus tumbuh mengikuti kurva pertumbuhannya. Ada juga anak yang sebelumnya tumbuh baik, tetapi kemudian berat badannya sulit naik dan perlahan tinggi badannya tertinggal.

Jika anak pendek dan berat badannya susah naik, orang tua atau pengasuh tentu bertanya-tanya apa penyebabnya dan apa saja langkah pemeriksaan yang diperlukan. Berikut ini panduannya.

1. Pemeriksaan diawali dengan melihat kurva pertumbuhan anak

Dokter perlu mengetahui bagaimana anak sampai pada ukurannya sekarang. Berat serta panjang atau tinggi badan harus diukur dengan teknik yang benar, kemudian dibandingkan dengan usia dan jenis kelamin pada kurva pertumbuhan.

Yang dicari tahu bukan cuma anak ada di persentil berapa, tetapi apakah:

  • Berat badan anak terus bertambah sesuai jalurnya.
  • Tinggi anak bertambah dengan kecepatan yang sesuai usia.
  • anak mulai turun melewati jalur pertumbuhan sebelumnya.
  • berat turun lebih dahulu kemudian tinggi ikut melambat.
  • atau tinggi memang rendah tetapi pertumbuhannya stabil dan sesuai potensi tinggi keluarga.

Kecepatan pertumbuhan (growth velocity) adalah petunjuk penting. Anak yang pendek tetapi terus tumbuh dengan kecepatan normal dapat saja memiliki familial short stature (perawakan pendek karena faktor keluarga) atau variasi pertumbuhan normal lainnya.

Sebaliknya, tinggi yang terus menjauh dari jalur sebelumnya, terutama setelah usia 3 tahun, lebih perlu dievaluasi.

Dokter biasanya menanyakan tinggi kedua orang tua, berat dan panjang lahir, apakah anak lahir prematur atau kecil untuk usia kehamilan, serta pola pubertas dalam keluarga sebagai komponen evaluasi anak berperawakan pendek.

2. Mencari tahu apakah asupan kalori anak kurang atau tubuh sulit menggunakannya

Seorang ibu memberikan minum kepada anaknya dalam ilustrasi tentang perhatian dan pemenuhan kebutuhan anak.
ilustrasi ibu memberikan minum kepada anaknya (unsplash.com/Jonathan Borba)

Berat badan yang tidak naik bisa terjadi karena energi yang masuk tidak memenuhi kebutuhan. Namun, bisa juga penyebabnya karena makanan tidak dapat diserap dengan baik atau tubuh menggunakan lebih banyak energi akibat penyakit tertentu.

Pedoman American Academy of Pediatrics (AAP) 2026 membagi penyebab faltering weight secara luas menjadi masalah asupan yang tidak memadai, absorpsi nutrisi yang terganggu, atau peningkatan kebutuhan/pengeluaran energi.

Dokter dapat menanyakan berapa kali anak makan, porsinya, apa yang diminum di antara waktu makan, apakah anak sulit mengunyah atau menelan, pilih-pilih makanan, sering muntah, atau butuh waktu lama untuk makan. Pada bayi, proses menyusu juga perlu dinilai. AAP merekomendasikan evaluasi riwayat makan dan kemampuan oral-motor pada anak yang berat badannya sulit bertambah.

Dokter juga akan menanyakan gejala yang dialami anak. Diare kronis, tinja berminyak, sakit perut, muntah berulang, darah dalam tinja, batuk atau infeksi berulang, sesak, mudah lelah, pucat, banyak minum dan buang air kecil, maupun penyakit ginjal dan jantung dapat mengarahkan pemeriksaan ke penyebab tertentu.

Jadi, anak bertubuh pendek dan berat badannya sulit naik tidak selalu disebabkan oleh kekurangan hormon pertumbuhan. Penyakit pencernaan seperti celiac, penyakit inflamasi, penyakit ginjal, anemia, penyakit paru, gangguan nutrisi, serta berbagai penyakit kronis juga dapat menghambat pertumbuhan.

3. Tes darah apa yang diperlukan?

AAP menyarankan untuk tidak melakukan pemeriksaan rutin tanpa arah pada anak dengan berat badan yang menurun jika riwayat dan pemeriksaan fisik tidak menunjukkan masalah tertentu.

Pemeriksaan baru diperlukan apabila:

  • Gangguan pertumbuhan menetap.
  • Cukup berat.
  • Ada riwayat keluarga tertentu.
  • Muncul gejala lain.

Jika dokter menilai pemeriksaan diperlukan, pilihan berikut dapat dipertimbangkan sesuai temuan:

Pemeriksaan

Yang dicari

Tes Darah lengkap (CBC)

Anemia, tanda tertentu yang mengarah ke penyakit kronis

Elektrolit, fungsi ginjal dan hati

Gangguan metabolik, ginjal, hati, atau kondisi sistemik

ESR/CRP

Petunjuk adanya proses inflamasi

TSH dan free T4

Hipotiroidisme

tTG-IgA + total IgA

Skrining penyakit celiac

Urinalisis

Kelainan ginjal atau saluran kemih tertentu

IGF-1 dan IGFBP-3

Membantu mengevaluasi sumbu hormon pertumbuhan dalam konteks yang tepat

Usia tulang (bone age)

Menilai kematangan tulang dan membantu memahami pola pertumbuhan

Pediatric Endocrine Society (PES) mencantumkan CBC, panel metabolik komprehensif, ESR/CRP, pemeriksaan tiroid, IGF-1, IGFBP-3, skrining celiac, dan rontgen usia tulang tangan kiri sebagai beberapa pemeriksaan yang dapat digunakan dalam evaluasi anak dengan dugaan perawakan pendek.

Penyakit celiac bisa dipertimbangkan karena gangguan pertumbuhan terkadang muncul tanpa diare atau keluhan pencernaan yang jelas. Perawakan pendek dan berat badan sulit naik dapat menjadi manifestasi gangguan penyerapan nutrisi.

Namun, tes IGF-1 juga tidak boleh dibaca sendirian sebagai bukti kekurangan hormon pertumbuhan. Status nutrisi dan penyakit kronis dapat memengaruhi kadar IGF-1. Tes stimulasi hormon pertumbuhan merupakan pemeriksaan yang lebih khusus dan biasanya diputuskan oleh dokter anak konsultan endokrin setelah evaluasi awal.

Hal serupa berlaku pada endoskopi. Pedoman AAP 2026 tidak merekomendasikan endoskopi sebagai pemeriksaan awal rutin untuk berat badan yang sulit naik. Ini baru dipertimbangkan jika ada indikasi seperti keluhan menetap, disfagia, muntah, skrining celiac positif, atau kecurigaan penyakit gastrointestinal tertentu.

4. Kapan perlu bertemu dokter anak atau konsultan endokrin?

Ilustrasi dokter ramah anak dengan jas putih yang siap mendampingi pemeriksaan kesehatan anak secara nyaman.
ilustrasi dokter ramah anak (magnific.com/magnific)

PES menyarankan evaluasi atau rujukan jika tinggi berada di bawah persentil ketiga, kecepatan pertumbuhan abnormal setelah usia 3 tahun, tinggi jauh di bawah potensi tinggi keluarga, anak lahir kecil untuk usia kehamilan tetapi tidak mengalami catch-up growth hingga sekitar usia 2 tahun, atau bentuk tubuh tidak proporsional serta ciri sindrom tertentu.

Pada anak perempuan dengan perawakan pendek yang tidak dapat dijelaskan, dokter juga dapat mempertimbangkan pemeriksaan kromosom untuk kondisi seperti sindrom Turner, terutama jika ada petunjuk klinis lain. Anak dengan ciri dismorfik, proporsi tubuh abnormal, atau perawakan sangat pendek dapat membutuhkan evaluasi genetik.

Sementara itu, gangguan pertumbuhan yang disertai sakit kepala atau gangguan penglihatan perlu mendapat perhatian lebih cepat karena, meski jarang, dapat menjadi tanda kelainan di area hipofisis atau otak. Kombinasi pertumbuhan buruk dengan sakit kepala atau perubahan penglihatan merupakan alasan rujukan segera.

Jadi, ketika anak tubuhnya pendek dan beratnya sulit naik, tenaga kesehatan biasanya akan memulai pemeriksaan dengan mengecek kurva pertumbuhan, kecepatan pertumbuhan, pola makan, riwayat penyakit, dan selanjutnya pemeriksaan fisik. Dari situ, barulah dokter menentukan apakah anak butuh tes darah, skrining celiac atau tiroid, usia tulang, evaluasi hormon pertumbuhan, hingga pemeriksaan genetik.

Pendekatan di atas menghindarkan anak dari tes yang tidak perlu sekaligus memperbesar kemungkinan menemukan penyebab yang relevan. Pemeriksaan diagnostik tanpa petunjuk klinis manfaatnya dinilai kecil, serta dapat menghasilkan temuan positif palsu, biaya tambahan, dan kecemasan yang tidak perlu.

Referensi

Hans B. Kersten et al., “Clinical Practice Guideline for Diagnosis and Management of Faltering Weight,” Pediatrics 157, no. 4 (2026): e2025075764, https://doi.org/10.1542/peds.2025-075764.

Alejandro Diaz, Lina Ayala Castro, and Adriana Carrillo-Iregui, “Short Stature for the General Pediatrician,” Pediatrics in Review 46, no. 6 (2025): 304–316, https://doi.org/10.1542/pir.2024-006538.

Ibrahim K. El Mikati et al., “The Benefits and Harms of Endoscopy and Other Diagnostic Tests to Detect Underlying Conditions in Children With Faltering Weight: Technical Report,” Pediatrics 157, no. 4 (2026): e2026076120, https://doi.org/10.1542/peds.2026-076120.

Alan D. Rogol and Gregory F. Hayden, “Etiologies and Early Diagnosis of Short Stature and Growth Failure in Children and Adolescents,” The Journal of Pediatrics 164, no. 5 suppl. (2014): S1–S14.e6, https://doi.org/10.1016/j.jpeds.2014.02.027.

World Health Organization, “Child Growth Standards,” diakses Agustus 2026.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak (Jakarta: Kementerian Kesehatan RI, 2020).

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More