Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Studi: Makan Telur 5 Kali Seminggu, Risiko Alzheimer Lebih Rendah

Studi: Makan Telur 5 Kali Seminggu, Risiko Alzheimer Lebih Rendah
ilustrasi telur rebus (unsplash.com/Rasa Kasparaviciene)
Intinya Sih
  • Studi terbaru terhadap 39.498 orang menemukan konsumsi telur ≥5 kali per minggu dikaitkan dengan risiko diagnosis Alzheimer 27 persen lebih rendah dibanding tidak atau sangat jarang makan telur.

  • Angka 27 persen adalah penurunan risiko relatif, bukan bukti bahwa makan lima telur pasti mencegah Alzheimer.

  • Telur menyediakan nutrisi yang relevan bagi fungsi otak, terutama kolin, tetapi penelitian lain tentang telur dan demensia belum seluruhnya memberikan hasil yang sama.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Telur tidak biasanya masuk daftar makanan yang pertama kali terlintas ketika membicarakan pencegahan penyakit Alzheimer. Namun, penelitian terbaru yang mengikuti hampir 40 ribu orang selama lebih dari satu dekade menemukan bahwa mereka yang rutin mengonsumsi telur memiliki kemungkinan lebih rendah mendapat diagnosis penyakit Alzheimer hingga 27 persen.

1. Studi mengikuti hampir 40 ribu orang selama 15 tahun

Penelitian yang diterbitkan dalam The Journal of Nutrition ini menggunakan data Adventist Health Study-2 (AHS-2), sebuah kohort besar anggota Seventh-day Adventist di Amerika Serikat. Untuk analisis ini, peneliti menghubungkan data pola makan peserta dengan catatan Medicare guna mengidentifikasi diagnosis penyakit Alzheimer.

Total terdapat 39.498 peserta, dengan rata-rata masa pemantauan 15,3 tahun. Selama periode tersebut, 2.858 orang mendapat diagnosis penyakit Alzheimer.

Pada awal penelitian, pola makan dinilai menggunakan food frequency questionnaire (FFQ) yang telah divalidasi. Untuk konsumsi telur yang terlihat jelas—misalnya telur rebus, orak-arik, goreng, omelet, atau egg salad—para peserta dikelompokkan menjadi:

  • Tidak pernah atau sangat jarang.
  • 1–3 kali per bulan.
  • Sekali seminggu.
  • 2–4 kali per minggu.
  • ≥5 kali per minggu.

Setelah peneliti menyesuaikan hasil terhadap berbagai faktor—termasuk jenis kelamin, ras, pendidikan, indeks massa tubuh (IMT), aktivitas fisik, tidur, merokok, alkohol, asupan energi, kelompok makanan lain, serta sejumlah penyakit penyerta—hubungan tersebut tetap terlihat.

Dibandingkan peserta yang tidak atau hampir tidak pernah makan telur, risiko relatif diagnosis Alzheimer adalah:

Frekuensi makan telur

Risiko relatif dibanding hampir tidak pernah

1–3 kali per bulan

17  persen lebih rendah

1 kali per minggu

17 persen lebih rendah

2–4 kali per minggu

20 persen lebih rendah

≥5 kali per minggu

27 persen lebih rendah

Pada kelompok ≥5 kali per minggu, hazard ratio (HR) adalah 0,73 dengan 95% CI 0,60–0,89. Dengan kata lain, kelompok tersebut memiliki laju diagnosis penyakit Alzheimer sekitar 27 persen lebih rendah selama masa penelitian dibandingkan kelompok referensi.

Ini adalah perbedaan relatif, bukan berarti risiko setiap orang berkurang tepat 27 poin persentase.

2. Hubungan antara telur dan kesehatan otak

Ilustrasi demensia Alzheimer karya Aditya Pratama untuk IDN Times yang menggambarkan tema gangguan neurodegeneratif.
ilustrasi demensia Alzheimer (IDN Times/Aditya Pratama)

Para peneliti menyoroti sejumlah nutrisi dalam telur yang memiliki fungsi biologis relevan bagi otak. Salah satunya adalah kolin.

Kolin diperlukan tubuh untuk menghasilkan asetilkolin, neurotransmiter yang terlibat dalam fungsi memori dan sistem saraf. Kolin juga digunakan untuk membuat fosfatidilkolin, komponen penting membran sel. Otak dan sistem saraf membutuhkan kolin untuk membantu mengatur memori, suasana hati, dan berbagai fungsi lainnya.

Telur juga menyediakan lutein dan zeaksanthin, karotenoid yang dapat ditemukan dalam jaringan otak. Tim peneliti mengusulkan bahwa kombinasi nutrisi tersebut mungkin ikut menjelaskan hubungan yang mereka temukan, tetapi penelitian ini tidak mengukur apakah kolin atau nutrisi tertentu memang menjadi mediator hubungan tersebut.

Penelitian yang berbeda memberi sedikit dukungan terhadap hipotesis kolin. Studi tahun 2024 dari Rush Memory and Aging Project mengikuti 1.024 orang lanjut usia selama rata-rata 6,7 tahun. Konsumsi lebih dari satu telur per minggu maupun ≥2 telur per minggu dikaitkan dengan risiko demensia Alzheimer yang lebih rendah. Dalam analisis mediasi, peneliti memperkirakan sekitar 39 persen hubungan antara konsumsi telur dan kejadian demensia Alzheimer dimediasi oleh asupan kolin dari makanan.

Namun, buktinya belum seragam. Studi prospektif EPIC-Spain terhadap lebih dari 25 ribu peserta yang diikuti rata-rata 21,5 tahun tidak menemukan hubungan signifikan antara konsumsi telur dan risiko Alzheimer pada populasi secara keseluruhan. Hubungan terbalik hanya terlihat pada analisis subkelompok dengan kepatuhan rendah terhadap pola makan Mediterania.

Jadi, efek dari satu makanan sulit dipisahkan sepenuhnya dari keseluruhan pola makan dan gaya hidup.

3. Makan lima telur seminggu tetap bukan solusi ajaib pencegah Alzheimer

Makan lima telur seminggu bisa membantu menurunkan risiko penyakit Alzheimer terdengar menjanjikan, ya?

Namun, penelitian baru ini memiliki keterbatasan.

Pertama, ini bukan randomized controlled trial; peneliti tidak secara acak meminta satu kelompok makan telur dan kelompok lain tidak. Karena itu, faktor lain yang tidak sepenuhnya terukur masih mungkin menjelaskan sebagian hubungan tersebut.

Kedua, pola makan terutama ditentukan dari data dasar penelitian. Sekitar 74 persen peserta yang memiliki data tindak lanjut pada 2015 mempertahankan pola konsumsi telur yang konsisten, tetapi perubahan pola makan selama belasan tahun tetap mungkin terjadi.

Selain itu, fase biologis Alzheimer dapat dimulai bertahun-tahun sebelum diagnosis sehingga perubahan pola makan akibat proses penyakit awal juga tidak dapat sepenuhnya dikesampingkan.

Ketiga, pesertanya merupakan kelompok Seventh-day Adventist yang relatif sadar akan kesehatan, dengan tingkat merokok dan konsumsi alkohol yang rendah serta pola makan yang berbeda dari populasi umum. Jadi, diperlukan penelitian pada populasi yang lebih beragam.

Penelitian terbaru menemukan bahwa makan telur ≥5 kali per minggu dikaitkan dengan risiko diagnosis Alzheimer 27 persen lebih rendah dibanding tidak atau sangat jarang makan telur.

Telur dapat menjadi bagian dari pola makan bergizi dan menyediakan kolin serta nutrisi penting lainnya. Namun, bukti saat ini belum cukup untuk menetapkan jumlah telur tertentu sebagai strategi khusus pencegahan Alzheimer.

Pencegahan demensia melibatkan berbagai faktor yang dapat dimodifikasi sepanjang hidup, antara lain aktivitas fisik, merokok, hipertensi, diabetes, kolesterol LDL tinggi, gangguan pendengaran, dan isolasi sosial.

Referensi

Jisoo Oh, Keiji Oda, Gabriela Chiriac, Gary E. Fraser, Rawiwan Sirirat, and Joan Sabaté, “Egg Intake and the Incidence of Alzheimer’s Disease in the Adventist Health Study-2 Cohort Linked with Medicare Data,” The Journal of Nutrition 156, no. 6 (2026): 101541, https://doi.org/10.1016/j.tjnut.2026.101541.

Taylor C. Wallace et al., “Association of Egg Intake With Alzheimer’s Dementia Risk in Older Adults: The Rush Memory and Aging Project,” The Journal of Nutrition 154 (2024), PubMed PMID 38782209.

Ainhoa Margara-Escudero et al., “Association Between Egg Consumption and Dementia Risk in the EPIC-Spain Dementia Cohort,” Frontiers in Nutrition 9 (2022): 827307, https://doi.org/10.3389/fnut.2022.827307.

Gill Livingston et al., “Dementia Prevention, Intervention, and Care: 2024 Report of the Lancet Standing Commission,” The Lancet 404, no. 10452 (2024): 572–628, https://doi.org/10.1016/S0140-6736(24)01296-0

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More