Janette Vazquez et al., “Longitudinal Association between Midlife Cardiovascular Health and Cognitive Change in a Bi-Ethnic Cohort,” Alzheimer's & Dementia: Behavior & Socioeconomics of Aging 2, no. 3 (2026): e70096, https://doi.org/10.1002/bsa3.70096.
Yuhan Li et al., “Association of Long-Term Physical Activity Levels with Dementia Risk and Cognitive Function in US Adults: A Prospective Cohort Study,” The Lancet Public Health 11, no. 8 (2026), https://doi.org/10.1016/S2468-2667(26)00123-4.
Fiona C. Bull et al., “World Health Organization 2020 Guidelines on Physical Activity and Sedentary Behaviour,” British Journal of Sports Medicine 54, no. 24 (2020): 1451–1462, https://doi.org/10.1136/bjsports-2020-102955.
World Health Organization, Risk Reduction of Cognitive Decline and Dementia: WHO Guidelines, 2nd ed. (Geneva: World Health Organization, 2026).
Setiap Tingkat Aktivitas Fisik Bisa Perlambat Penurunan Kognitif

Studi pada 402 warga San Antonio, Amerika Serikat, menemukan aktivitas fisik apa pun di usia paruh baya berkaitan dengan penurunan skor kognitif yang lebih lambat selama rata-rata 9,5 tahun.
Hubungan aktivitas fisik dan perlambatan penurunan kognitif paling kuat pada peserta Mexican American, sementara pada peserta non-Hispanic White, gula darah puasa lebih terkait dengan perubahan kognitif.
Studi ini bersifat observasional dan tidak mengukur Alzheimer atau demensia, sehingga belum menentukan durasi, intensitas, maupun jenis aktivitas fisik optimal untuk pencegahan demensia.
Menjaga otak sampai usia tua mungkin tidak harus selalu dimulai dari program olahraga yang berat. Sebuah studi terbaru menemukan bahwa pada usia paruh baya, fisik yang tidak pasif saja sudah berkaitan dengan perjalanan fungsi kognitif yang lebih baik beberapa tahun kemudian.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Alzheimer's & Dementia: Behavior & Socioeconomics of Aging pada Juli 2026 ini meneliti hubungan antara kesehatan kardiovaskular pada usia paruh baya dan perubahan fungsi kognitif saat peserta bertambah tua.
Table of Content
1. Bergerak sedikit pun dikaitkan dengan penurunan kognitif lebih lambat
Para peneliti mengikuti 402 penduduk San Antonio, Amerika Serikat (AS), dengan usia rata-rata sekitar 57,9 tahun ketika kesehatan kardiovaskular mereka dinilai.
Sebanyak 58,5 persen peserta adalah perempuan dan 52 persen merupakan Mexican American, sedangkan sisanya non-Hispanik White.
Kesehatan jantung dinilai menggunakan kerangka Life's Simple 7 dari American Heart Association AHA, yang saat itu mencakup pola makan, merokok, aktivitas fisik, tekanan darah, indeks massa tubuh (IMT, kolesterol total, dan gula darah puasa.
Fungsi kognitif kemudian dinilai hingga empat kali selama rata-rata 9,5 tahun menggunakan Mini-Mental State Examination (MMSE), tes skrining yang menilai sejumlah kemampuan seperti orientasi, perhatian, dan memori.
Hasilnya, peserta yang melakukan aktivitas fisik memiliki penurunan skor kognitif yang lebih lambat dibandingkan mereka yang tidak berolahraga sama sekali.
Dalam seluruh kelompok, memenuhi kategori aktivitas fisik minimal intermediate dikaitkan dengan perlambatan penurunan MMSE sekitar 0,073 poin per tahun.
Dalam analisis tersebut, kelompok poor terdiri dari peserta yang melaporkan 0 menit olahraga per minggu, sementara kategori intermediate dan ideal digabung menjadi mereka yang melaporkan lebih dari 0 menit. Jadi, penelitian ini tidak menentukan bahwa satu jumlah minimal—misalnya 5 atau 10 menit—sudah cukup untuk menghasilkan efek tersebut.
2. Hubungannya paling kuat pada peserta Mexican American

ilustrasi jogging di taman (pexels.com/Tirachard Kumtanom) Pada peserta Mexican American, melakukan aktivitas fisik dalam jumlah berapa pun dikaitkan dengan penurunan MMSE sekitar 0,127 poin per tahun lebih lambat dibanding mereka yang tidak melakukan aktivitas fisik.
Sebaliknya, pada peserta non-Hispanic White, hubungan aktivitas fisik dengan perubahan kognitif tidak mencapai signifikansi statistik.
Pada kelompok non-Hispanic White, faktor yang justru terlihat penting adalah gula darah puasa. Kadar di bawah 126 mg/dL dikaitkan dengan penurunan fungsi kognitif sekitar 0,182 poin per tahun lebih lambat dibandingkan kadar yang lebih tinggi.
Menurut studi tersebut, faktor kesehatan jantung yang berkaitan dengan penuaan kognitif belum tentu menunjukkan pola identik pada setiap populasi. Para penulis menyebut diperlukan studi dengan jumlah peserta lebih besar untuk memastikan apakah perbedaan berdasarkan kelompok etnis tersebut dapat direplikasi.
Ada juga bukti lain yang temuannya serupa. Studi prospektif besar dalam jurnal The Lancet Public Health pada Juli 2026 mengikuti lebih dari 100 ribu laki-laki dan perempuan di AS. Kelompok dengan aktivitas fisik total tertinggi memiliki risiko demensia sekitar 28 persen lebih rendah dibandingkan kelompok dengan aktivitas terendah; berjalan kaki maupun aktivitas aerobik berat juga berkaitan dengan risiko yang lebih rendah.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun memasukkan peningkatan aktivitas fisik sebagai salah satu intervensi dalam pedoman terbaru 2026 untuk mengurangi risiko penurunan kognitif dan demensia, bersama pengendalian hipertensi, diabetes, kolesterol, penggunaan tembakau, pola makan, dan faktor risiko lainnya
3. Jadi, sedikit berolahraga pasti mencegah Alzheimer?
Penelitian tidak mengukur kejadian Alzheimer atau demensia sebagai hasil akhirnya. Yang diamati adalah perubahan skor kognitif MMSE selama bertahun-tahun. Penurunan skor kognitif dan diagnosis Alzheimer merupakan dua hal yang berkaitan, tetapi tidak sama.
Kedua, penelitian bersifat observasional. Peneliti tidak secara acak menugaskan peserta untuk berolahraga atau tidak berolahraga. Aktivitas fisik juga berasal dari laporan peserta sendiri sehingga dapat mengalami recall bias. Selain itu, jumlah sampelnya relatif kecil, terutama setelah peserta dibagi menjadi kelompok etnis dan lingkungan tempat tinggal.
Ketiga, penelitian tidak dapat menjawab berapa menit, seberapa berat, dan jenis aktivitas apa yang paling optimal untuk menjaga otak.
Ini juga tidak menggantikan target aktivitas fisik yang sudah direkomendasikan untuk kesehatan secara keseluruhan. Pedoman WHO menganjurkan orang dewasa melakukan sekitar 150–300 menit aktivitas aerobik intensitas sedang atau 75–150 menit aktivitas berat per minggu, atau kombinasi keduanya.
Menjaga kesehatan otak tidak harus menunggu seseorang sanggup berolahraga berat. Pada studi ini, orang usia paruh baya yang setidaknya melakukan aktivitas fisik menunjukkan perjalanan penurunan kognitif yang lebih lambat daripada mereka yang benar-benar tidak aktif. Namun, masih butuh penelitian lebih lanjut sebelum para ahli dapat menentukan dosis aktivitas fisik tertentu sebagai strategi pencegahan demensia.
Referensi





![[QUIZ] Dari Bentuk Fesesmu, Kami Bisa Tahu Kondisi Kesehatanmu](https://image.idntimes.com/post/20260718/upload_81eef7479c8aeb23b53726edf15fecd4_1085b833-0382-4947-ba19-8d7bad3edfd5.png)




![[QUIZ] Tes Kesiapan Lari 21K, Kamu Sudah Ready Belum?](https://image.idntimes.com/post/20260804/mwuep2hrca5w9qlbdxkci8rch_0a3c7963-22c0-42a8-afa2-de6c989c3307.png)






![[QUIZ] Pilih Otot yang Ingin Dibentuk, Kami Rekomendasikan Latihannya](https://image.idntimes.com/post/20240705/anastase-maragos-fp7cfyppukm-unsplash-77608e651ffd65a27bc7ca3ab51d5a4c-9ee8fcedf24c176618a81cd66dfe2478.jpg)

![[QUIZ] Apakah Kamu Punya Kecenderungan NPD? Cek di Sini](https://image.idntimes.com/post/20250625/freepik-29_eed1cb7e-fddb-49f3-a569-893aef034aa0.jpg)
