Walaupun sering marah tidak langsung menyebabkan hipertensi, tetapi tubuh yang berulang kali mengalami respons stres dapat lebih sering mengalami lonjakan tekanan darah.
Amarah juga bisa disertai kebiasaan yang ikut meningkatkan risiko, seperti kurang tidur, merokok, minum alkohol berlebihan, atau makan secara tidak teratur.
Sebuah studi mengikuti 3.308 orang dewasa muda selama hingga 15 tahun. Peserta dengan tingkat permusuhan serta rasa tidak sabar atau terburu-buru yang lebih tinggi memiliki risiko lebih besar mengalami hipertensi. Hubungannya membentuk pola bertingkat, bahwa makin tinggi karakteristik tersebut, makin tinggi pula risikonya.
Meski demikian, penelitian observasional seperti itu hanya menunjukkan keterkaitan, bukan membuktikan bahwa amarah merupakan penyebab langsung.
Hipertensi berkembang melalui gabungan banyak faktor, termasuk riwayat keluarga, usia, asupan garam, berat badan, aktivitas fisik, kualitas tidur, penyakit tertentu, dan kondisi lingkungan.