Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Studi: HIV Membuat Risiko Kanker Anal Meningkat
ilustrasi HIV (IDN Times/NRF)
  • Studi besar di Swedia menemukan orang dengan HIV memiliki risiko kanker terkait HPV 4,5 kali lebih tinggi dibanding populasi tanpa HIV atau transplantasi organ.

  • Risiko paling mencolok terlihat pada kanker anal: orang dengan HIV memiliki odds hampir 59 kali lebih tinggi.

  • Pencegahan tetap mungkin dilakukan lewat vaksinasi HPV, kontrol HIV yang baik, skrining pada kelompok berisiko tinggi, dan penanganan lesi prakanker.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Human papillomavirus (HPV) sering dibicarakan terkait dengan kanker serviks. Padahal, virus ini juga bisa berkaitan dengan kanker lainnya, seperti kanker anal, penis, vagina, vulva, serta sebagian kanker kepala dan leher.

Pada kebanyakan orang, sistem imun dapat mengendalikan infeksi HPV sebelum berkembang menjadi masalah serius. Namun, ini bisa berbeda pada orang dengan sistem imun yang lemah.

Sebuah studi baru yang terbit dalam jurnal JAMA Network Open menyoroti hal ini. Peneliti dari Swedia menganalisis data nasional orang yang lahir antara 1940–2000 dan tinggal di Swedia dalam periode 1983–2024. Studi ini mencakup lebih dari 32 ribu kasus kanker terkait HPV dan lebih dari 320 ribu kontrol populasi.

Hasilnya menunjukkan bahwa orang dengan human immunodeficiency virus (HIV) memiliki peluang kanker terkait HPV 4,5 kali lebih tinggi dibanding orang tanpa HIV atau riwayat transplantasi organ. Penerima transplantasi organ padat juga punya risiko lebih tinggi, sekitar 2,23 kali.

1. Risiko paling besar terlihat pada kanker anal

Temuan paling menonjol dari studi ini adalah kanker anal. Orang dengan HIV memiliki risiko kanker anal hampir 59 kali lebih tinggi dibanding kelompok kontrol. Risiko kanker penis juga lebih tinggi, sekitar 8 kali.

Para peneliti juga menemukan bahwa kondisi HIV yang tidak terkontrol berkaitan dengan risiko lebih besar. Pada orang dengan HIV, kadar CD4 yang lebih rendah, durasi supresi virus yang lebih pendek, dan kadar HIV RNA yang pernah tinggi dikaitkan dengan peningkatan odds kanker terkait HPV.

Itu berarti pengobatan HIV bukan cumapenting untuk menekan virus HIV, tetapi juga dapat menjadi bagian dari strategi menurunkan risiko penyakit lain yang berkaitan dengan sistem imun.

Ini tidak berarti semua orang dengan HIV pasti akan mengalami kanker terkait HPV, tetapi data ini menunjukkan bahwa kelompok ini perlu mendapat perhatian pencegahan yang lebih terarah.

2. Kenapa HPV bisa menjadi kanker?

ilustrasi penyintas HIV (pexels.com/Anna Shvets)

HPV adalah kelompok virus yang sangat umum dan dapat menular melalui kontak kulit ke kulit yang intim, termasuk aktivitas seksual.

Banyak infeksi HPV tidak menimbulkan gejala dan dapat hilang sendiri. Yang menjadi masalah adalah ketika infeksi HPV risiko tinggi menetap selama bertahun-tahun. Dalam jangka panjang, virus dapat memicu perubahan sel. Jika perubahan ini tidak terdeteksi atau tidak ditangani, sebagian dapat berkembang menjadi lesi prakanker, lalu kanker.

Pada orang dengan sistem imun yang lebih lemah, tubuh bisa lebih sulit membersihkan HPV. Karena itu, orang dengan HIV, penerima transplantasi organ, atau orang yang menggunakan obat penekan sistem imun bisa memiliki risiko lebih tinggi.

Namun, pembahasan ini perlu dilakukan tanpa stigma. HPV sangat umum, dan kanker terkait HPV bukan tanda perilaku buruk. Ini adalah isu kesehatan yang butuh pencegahan, pemeriksaan, dan akses layanan yang tidak menghakimi.

3. Lindungi diri dari kanker terkait HPV

Kabar baiknya, kanker terkait HPV termasuk area pencegahan yang terus berkembang. Vaksin HPV dapat membantu mencegah infeksi HPV penyebab kanker.

Vaksin paling efektif diberikan sebelum seseorang terpapar HPV, tetapi pada sebagian orang dewasa yang belum pernah divaksinasi, manfaat dan risikonya masih bisa didiskusikan dengan dokter.

Bagi orang dengan HIV, kontrol rutin tetap penting. Menjaga terapi antiretroviral, memantau viral load, dan menjaga CD4 adalah bagian dari perawatan jangka panjang. Jika ada faktor risiko kanker anal, diskusi dengan dokter soal skrining juga perlu dilakukan.

Skrining kanker anal dapat melibatkan pemeriksaan gejala, pemeriksaan anus, anal Pap test, tes HPV, dan prosedur anoskopi resolusi tinggi jika tersedia. Studi menunjukkan bahwa mengobati lesi prakanker anal pada orang dengan HIV dapat menurunkan risiko berkembang menjadi kanker anal.

Segera periksa jika ada perdarahan dari anus, nyeri rektal, benjolan di sekitar anus, gatal menetap, perubahan pola buang air besar, keluar cairan tidak biasa, atau rasa tidak nyaman yang tidak membaik.

Temuan studi ini tidak dimaksudkan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk menekankan bahkan HPV bukan cuma terkait dengan kanker serviks dan kesehatan anal bukanlah topik yang tabu. Jika risiko dikenali lebih awal, pencegahan dan penanganan bisa dilakukan lebih cepat.

Referensi

Eva Meglic, Alexander Ploner, Yunyang Deng, et al., “Human Papillomavirus–Related Cancer in People With HIV and Solid Organ Transplant Recipients,” JAMA Network Open 9, no. 6 (2026): e2620512, https://doi.org/10.1001/jamanetworkopen.2026.20512.

National Cancer Institute. “HPV and Cancer,” Diakses Juni 2026.

World Health Organization. “Human Papillomavirus and Cancer.” Diakses Juni 2026.

Panel on Guidelines for the Prevention and Treatment of Opportunistic Infections in Adults and Adolescents With HIV, “Human Papillomavirus Disease,” NIH ClinicalInfo HIV.gov, updated July 9, 2024.

Joel M. Palefsky, J. Michael Lee, Naomi Jay, et al., “Treatment of Anal High-Grade Squamous Intraepithelial Lesions to Prevent Anal Cancer,” New England Journal of Medicine 386 (2022): 2273–2282, https://doi.org/10.1056/NEJMoa2201048.

Elizabeth A. Stier, Joel M. Palefsky, et al., “International Anal Neoplasia Society’s Consensus Guidelines for Anal Cancer Screening,” International Journal of Cancer 154, no. 10 (2024): 1694–1702.

Centers for Disease Control and Prevention. “HPV Vaccine Recommendations.” Diakses Juni 2026.

Taito Kitano and Sayaka Yoshida, “Nine-Valent Human Papillomavirus Vaccination and Related Cancers in Males,” JAMA Oncology 12, no. 6 (April 9, 2026): 592, https://doi.org/10.1001/jamaoncol.2026.0496.

American Cancer Society. “Key Statistics for Anal Cancer." Diakses Juni 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article