Dokter menilai HUS melalui pemeriksaan darah, urine, dan tinja. Penanganan di rumah sakit dapat mencakup pengaturan cairan serta elektrolit, transfusi sel darah merah jika diperlukan, dan dialisis atau cuci darah untuk membantu menyaring zat sisa.
Cuci darah tidak selalu diperlukan seumur hidup. Banyak anak dapat pulih dengan penanganan yang tepat, tetapi sebagian mengalami hipertensi atau penyakit ginjal kronis. Karena itu, pemantauan fungsi ginjal setelah pulang tetap penting.
Pencegahan dimulai dengan memasak makanan hingga matang, memisahkan bahan mentah dari makanan siap santap, memilih susu pasteurisasi, serta mencuci tangan setelah dari toilet dan sebelum menyiapkan makanan.
Referensi
Mayo Clinic, “Hemolytic Uremic Syndrome (HUS),” diakses September 2026.
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, “Hemolytic Uremic Syndrome in Children,” diakses September 2026.
Centers for Disease Control and Prevention, “Signs of Hemolytic Uremic Syndrome,” diakses September 2026.
Centers for Disease Control and Prevention, “Treatment of E. coli Infection,” diakses September 2026.
Stephen B. Freedman et al., “Shiga Toxin–Producing Escherichia coli Infection, Antibiotics, and Risk of Developing Hemolytic Uremic Syndrome: A Meta-analysis,” Clinical Infectious Diseases 62, no. 10 (2016): 1251–58, https://doi.org/10.1093/cid/ciw099.
Centers for Disease Control and Prevention, “How to Prevent E. coli Infection,” diakses September 2026.