Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Infeksi E. coli dan Gagal Ginjal, Apa Hubungannya?
ilustrasi gagal ginjal (IDN Times/NRF)
  • E. coli penghasil toksin Shiga dapat memicu sindrom hemolitik uremik (HUS), komplikasi yang merusak darah dan ginjal.

  • Berkurangnya urine, pucat, lemas berat, dan memar tanpa sebab setelah diare membutuhkan pemeriksaan segera.

  • Antibiotik dan obat penghenti diare tertentu perlu dihindari pada infeksi STEC karena dapat meningkatkan risiko HUS.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kekhawatiran terbesar diare biasanya adalah kehilangan cairan. Namun, jika setelahnya seseorang menjadi sangat pucat, lemas, dan jarang kencing, keluhannya bisa menandakan komplikasi yang lebih serius. Pada sebagian infeksi Escherichia coli (E. coli), racun bakteri dapat memicu kerusakan pembuluh darah kecil hingga mengganggu fungsi ginjal.

Komplikasi ini disebut sindrom hemolitik uremik atau hemolytic uremic syndrome (HUS). Namun, tidak semua jenis E. coli memiliki risiko yang sama, dan tidak setiap orang yang terinfeksi akan mengalaminya.

1. Pemicunya terutama E. coli penghasil toksin Shiga

Banyak jenis E. coli hidup di usus tanpa menyebabkan penyakit. Yang menjadi perhatian dalam komplikasi ini adalah Shiga toxin-producing E. coli (STEC), yaitu kelompok yang menghasilkan toksin Shiga. Salah satu contohnya adalah E. coli O157:H7.

Infeksi dapat bermula dari makanan atau air tercemar, misalnya kasus keracunan makanan. Setelah masuk ke saluran cerna, bakteri menghasilkan toksin yang dapat masuk ke aliran darah. Jadi, gangguan ginjal pada HUS tidak harus terjadi karena bakterinya menginfeksi ginjal secara langsung.

2. Toksin merusak pembuluh darah kecil dan menghambat penyaringan

Toksin Shiga dapat merusak lapisan dalam pembuluh darah kecil. Kerusakan ini memicu terbentuknya gumpalan darah kecil yang mengganggu aliran darah, termasuk pada ginjal. Sel darah merah ikut rusak, sementara trombosit, keping darah yang membantu pembekuan, berkurang.

Akibatnya, HUS ditandai oleh tiga masalah, yaitu:

  • Anemia akibat hancurnya sel darah merah.

  • Jumlah trombosit rendah.

  • Cedera ginjal akut.

Ginjal menjadi kesulitan menyaring zat sisa serta membuang kelebihan cairan. Pada kondisi berat, gangguan ini dapat berkembang menjadi gagal ginjal.

3. Jarang kencing setelah diare adalah tanda bahaya

ilustrasi ginjal (IDN Times/Aditya Pratama)

HUS dapat terjadi pada siapa saja, tetapi lebih sering ditemukan pada anak di bawah usia 5 tahun yang mengalami diare. Segera cari pertolongan medis jika muncul:

  • Urine sangat sedikit atau tidak kencing.

  • Wajah atau bagian dalam kelopak mata tampak pucat.

  • Lemas berat atau sangat mudah lelah.

  • Memar tanpa sebab atau bintik merah kecil pada kulit.

  • Darah dalam urine atau kesadaran menurun.

HUS merupakan kondisi darurat. Jangan menganggap seluruh keluhan tersebut hanya akibat kelelahan setelah diare.

4. Antibiotik tidak boleh dikonsumsi sembarangan

Pada infeksi STEC, sebaiknya tidak menggunakan antibiotik karena dapat meningkatkan kemungkinan HUS. Obat yang memperlambat gerakan usus, seperti loperamide, juga perlu dihindari pada STEC.

Metaanalisis dalam Clinical Infectious Diseases pada 2016 menelaah hubungan antibiotik dengan HUS. Analisis keseluruhan tidak menemukan hubungan yang bermakna secara statistik. Namun, ketika peneliti membatasi analisis pada studi dengan risiko bias rendah dan definisi HUS yang sesuai, penggunaan antibiotik berkaitan dengan peningkatan kemungkinan HUS.

Karena itu, diare berdarah perlu diperiksa, bukan langsung ditangani dengan antibiotik atau obat penghenti diare tanpa evaluasi dokter.

5. Apakah fungsi ginjal bisa pulih?

Dokter menilai HUS melalui pemeriksaan darah, urine, dan tinja. Penanganan di rumah sakit dapat mencakup pengaturan cairan serta elektrolit, transfusi sel darah merah jika diperlukan, dan dialisis atau cuci darah untuk membantu menyaring zat sisa.

Cuci darah tidak selalu diperlukan seumur hidup. Banyak anak dapat pulih dengan penanganan yang tepat, tetapi sebagian mengalami hipertensi atau penyakit ginjal kronis. Karena itu, pemantauan fungsi ginjal setelah pulang tetap penting.

Pencegahan dimulai dengan memasak makanan hingga matang, memisahkan bahan mentah dari makanan siap santap, memilih susu pasteurisasi, serta mencuci tangan setelah dari toilet dan sebelum menyiapkan makanan.

Referensi

Mayo Clinic, “Hemolytic Uremic Syndrome (HUS),” diakses September 2026.

National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, “Hemolytic Uremic Syndrome in Children,” diakses September 2026.

Centers for Disease Control and Prevention, “Signs of Hemolytic Uremic Syndrome,” diakses September 2026.

Centers for Disease Control and Prevention, “Treatment of E. coli Infection,” diakses September 2026.

Stephen B. Freedman et al., “Shiga Toxin–Producing Escherichia coli Infection, Antibiotics, and Risk of Developing Hemolytic Uremic Syndrome: A Meta-analysis,” Clinical Infectious Diseases 62, no. 10 (2016): 1251–58, https://doi.org/10.1093/cid/ciw099.

Centers for Disease Control and Prevention, “How to Prevent E. coli Infection,” diakses September 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article