Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Cat Rambut Naikkan Risiko Kanker Payudara 60 Persen? Ini Faktanya

Cat Rambut Naikkan Risiko Kanker Payudara 60 Persen? Ini Faktanya
ilustrasi mewarnai rambut (pexels.com/Nataliya Vaitkevich)
  • Angka 60 persen ditemukan pada kelompok tertentu yang sering menggunakan pewarna permanen, bukan semua pengguna cat rambut.

  • Peningkatan risiko relatif tidak berarti 60 dari 100 pengguna akan terkena kanker payudara.

  • Penelitian menunjukkan hubungan, belum membuktikan sebab-akibat; hasil antarpenelitian juga belum konsisten.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Menutup uban atau mencoba warna baru bisa menjadi bagian dari rutinitas merawat diri. Namun, kabar bahwa cat rambut meningkatkan risiko kanker payudara hingga 60 persen dapat membuat orang mempertanyakan tindakan tersebut.

Angka itu memang berasal dari penelitian. Akan tetapi. Temuan tersebut berlaku pada kelompok dengan pola penggunaan tertentu, sehingga tidak tepat diterapkan kepada semua orang yang mengecat rambut.

  1. 1. Dari mana angka 60 persen berasal?

    Angka tersebut berasal dari analisis Sister Study terhadap 46.709 perempuan di Amerika Serikat (AS). Penelitian dipublikasikan daring pada 2019 dan dimuat dalam International Journal of Cancer edisi 2020. Peserta belum pernah mengalami kanker payudara saat bergabung, tetapi memiliki saudara perempuan yang pernah didiagnosis penyakit tersebut.

    Hasilnya berbeda menurut kelompok yang diteliti:

    Kelompok pengguna pewarna rambut permanen

    Peningkatan risiko relatif

    Seluruh peserta pengguna

    Sekitar 9 persen

    Perempuan kulit putih non-Hispanik pengguna

    Sekitar 7 persen

    Perempuan kulit hitam pengguna

    Sekitar 45 persen

    Perempuan kulit hitam yang memakai setiap 5–8 minggu atau lebih sering

    Sekitar 60 persen

    Angka-angka di atas dibandingkan dengan kelompok yang tidak menggunakan pewarna permanen dalam analisis terkait. Jadi, 60 persen bukan angka yang mewakili seluruh pengguna cat rambut.

  2. 2. Risiko naik 60 persen bukan berarti risiko terkena kanker menjadi 60 persen

    Ilustrasi bertema kanker payudara yang digunakan untuk menyertai informasi tentang kesehatan dan kesadaran perempuan.
    ilustrasi kanker payudara (IDN Times/Aditya Pratama)

    Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, dr. Samuel Stemi, MBiomed, AIFO-K, Dipl AAAM, menanggapi isu tersebut. Menurutnya, meskipun berasal dari penelitian, hasil riset ini perlu dipahami secara hati-hati.

    “Ini adalah peningkatan risiko relatif, bukan berarti 60 persen pengguna cat rambut akan terkena kanker payudara. Selain itu, penelitian tersebut merupakan studi observasional sehingga menunjukkan hubungan (association), bukan membuktikan hubungan sebab-akibat,” ujar dr. Samual dikutip dari laman IPB University.

    Risiko relatif membandingkan dua kelompok. Angka tersebut tidak menunjukkan peluang pribadi seseorang terkena kanker dan bukan penambahan 60 poin persentase. Peneliti juga menjelaskan bahwa mereka tidak menghitung tambahan jumlah kasus kanker yang disebabkan oleh penggunaan produk tersebut.

  3. 3. Hubungan belum membuktikan penyebab

    Studi ini bersifat observasional, artinya peneliti mengamati penggunaan produk dan kejadian kanker, bukan melakukan percobaan yang menetapkan siapa harus mengecat rambut. Karena itu, hasilnya menunjukkan keterkaitan, tetapi belum memastikan bahwa cat rambutlah penyebab kanker.

    National Cancer Institute menyebut hasil penelitian tentang pewarna rambut dan kanker payudara masih beragam dan belum konsisten. Beberapa penelitian menemukan hubungan pada jenis paparan tertentu, sementara hasil lainnya berbeda.

    Angka penelitian ini juga tidak dapat langsung dipakai untuk menghitung risiko perempuan Indonesia. Jumlah peserta Asia belum cukup untuk menilai hubungan tersebut secara terpisah.

  4. 4. Bagaimana jika tetap ingin mengecat rambut?

    Dokter Samuel menyarankan penggunaan yang bijak, termasuk mengikuti petunjuk dan menghindari pemakaian lebih sering daripada yang diperlukan, serta pastikan kulit kepala tidak sedang terluka atau iritasi merupakan langkah pengurangan risiko yang dapat dilakukan.

    “Jika seseorang sesekali mengecat rambut, tidak ada dasar ilmiah yang kuat untuk mengatakan bahwa ia harus takut akan terkena kanker payudara karena aktivitas tersebut," kata dr. Samuel.

    Akan tetapi, untuk penggunaan yang sangat sering dan berlangsung bertahun-tahun, terutama dengan produk permanen, masuk akal untuk mempertimbangkan pengurangan frekuensi dan memilih produk dengan profil keamanan yang baik,” ujarnya lagi.

    Untuk keamanan pemakaian, FDA menganjurkan penggunaan sarung tangan, uji tempel sesuai petunjuk setiap kali akan mengecat rambut, serta membilas kulit kepala dengan baik. Jangan membiarkan produk menempel lebih lama daripada waktu yang dianjurkan. Langkah ini membantu mengurangi risiko reaksi yang tidak diinginkan.

    Referensi

    National Institute of Environmental Health Sciences, “Frequently Asked Questions,” bagian “Hair Dye,” diakses September 2026.

    Carolyn E. Eberle, Dale P. Sandler, Kyla W. Taylor, dan Alexandra J. White, “Hair Dye and Chemical Straightener Use and Breast Cancer Risk in a Large US Population of Black and White Women,” International Journal of Cancer 147, no. 2 (2020): 383–91, https://doi.org/10.1002/ijc.32738.

    IPB University, “Benarkah Cat Rambut Tingkatkan Risiko Kanker Payudara hingga 60 Persen? Ini Kata Dosen FKGiz IPB University,” diakses September 2026.

    National Cancer Institute, “Hair Products and Cancer Risk,” diakses September 2026.

    U.S. Food and Drug Administration, “Hair Dyes,” diakses September 2026.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More