Comscore Tracker

Skizofrenia Hebefrenik: Saat Perilaku dan Ucapan Tidak Teratur

Pola bicara tak biasa merupakan salah satu gejalanya

Skizofrenia sering dikaitkan dengan gangguan mental yang kompleks dan kronis. Kondisi ini ditunjukkan dengan beberapa gejala seperti pemikiran yang terdistorsi, masalah terhadap perilaku, atau persepsi yang salah mengenai realitas.

Menurut perhitungan beban penyakit tahun 2017 dalam Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, jenis gangguan mental yang diprediksi dialami oleh warga Indonesia salah satunya adalah skizofrenia. Dalam tiga dekade terakhir antara tahun 1990 sampai 2017 terjadi perubahan pola penyakit mental terkait kontributor terbesar beban penyakit (DALYs) di antaranya adalah skizofrenia, bipolar, autis, dan gangguan perilaku makan.

Terdapat beberapa jenis skizofrenia, salah satunya adalah skizofrenia hebefrenik. Meskipun tidak lagi menjadi diagnosis resmi, istilah hebefrenik (tidak teratur) masih digunakan untuk menggambarkan sekelompok gejala skizofrenia. Menarik untuk diketahui, simak ulasan lengkap terkait skizofrenia hebefrenik sampai habis berikut ini.

1. Apa itu skizofrenia hebefrenik?

Skizofrenia Hebefrenik: Saat Perilaku dan Ucapan Tidak Teraturilustrasi pria mengalami masalah pada pola pemikirannya (freepik.com/wayhomestudio)

Seorang individu dengan skizofrenia hebefrenik cenderung tidak menunjukkan halusinasi atau delusi. Namun, individu tersebut memiliki perilaku dan ucapan yang terkesan tidak teratur. 

Kondisi ini digambarkan dengan beberapa gejala yang signifikan, meliputi:

  • Pemikiran tidak teratur
  • Pola berbicara tidak biasa
  • Ekspresi cenderung datar
  • Emosi tidak sesuai dengan situasi yang sedang terjadi
  • Reaksi wajah sering kali tidak sinkron
  • Kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari

Saat ini skizofrenia hebefrenik tidak lagi menjadi diagnosis resmi dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Edition 5 (DSM-5). Akan tetapi, istilah ini masih dianggap sebagai diagnosis dalam International Classification of Diseases and Related Health Problems (ICD-10) untuk mengkategorikannya sebagai kondisi medis.

2. Gejala yang mengindikasikan skizofrenia

Skizofrenia Hebefrenik: Saat Perilaku dan Ucapan Tidak Teraturilustrasi wanita dengan ekspresi datar (freepik.com/kroshka__nastya)

Dilansir organisasi kesehatan dunia, WHO, gejala skizofrenia yang mungkin tampak di antaranya adalah:

  • Halusinasi: ditunjukkan dengan perilaku mendengar, melihat, atau merasakan hal-hal yang sebenarnya tidak ada
  • Delusi: keyakinan atau kecurigaan salah mengenai suatu hal yang sering menyebabkan kontradiksi
  • Gejala negatif: termanifestasi sebagai respons datar secara emosional, gaya bicara yang aneh, serta perilaku apatis
  • Masalah kognitif: sering kali tercetus pemikiran yang tidak teratur
  • Perilaku abnormal: meliputi perilaku menertawakan diri sendiri, mengabaikan diri sendiri, atau berkeliaran tanpa tujuan

Baca Juga: 6 Mitos dan Fakta mengenai Skizofrenia, Jangan Sampai Keliru!

3. Penyebab pasti skizofrenia belum diketahui

Skizofrenia Hebefrenik: Saat Perilaku dan Ucapan Tidak Teraturilustrasi penyalahgunaan obat (freepik.com/rawpixel.com)

Penyebab pasti skizofrenia masih belum diketahui. Meskipun demikian, para ahli berasumsi terkait beberapa faktor yang mungkin menjadi kontributor penyebab skizofrenia, di antaranya adalah:

  • Genetika
  • Faktor biologis
  • Faktor lingkungan
  • Penyalahgunaan zat

Variabel-variabel tersebut dianggap saling berinteraksi satu sama lain yang kemudian dalam beberapa cara dapat menyebabkan skizofrenia. Menurut studi tahun 2014 dalam Pharmacy and Therapeutics, faktor yang berbeda dapat menjadi penyebab berbagai jenis skizofrenia, salah satunya hebefrenik.

4. Diagnosis skizofrenia

Skizofrenia Hebefrenik: Saat Perilaku dan Ucapan Tidak Teraturilustrasi proses diagnosis skizofrenia (freepik.com/senivpetro)

Untuk menggalakkan diagnosis skizofrenia, dokter atau ahli kesehatan mental harus mengamati gejala yang ditunjukkan pasien setidaknya selama 6 bulan. Hal ini sesuai dengan studi yang terpublikasi dalam jurnal Psychiatry and Clinical Neurosciences tahun 2015. Individu yang didiagnosis mengalami skizofrenia cenderung menunjukkan penurunan fungsi yang berkaitan dengan halusinasi, delusi, gejala negatif, katatonia, dan perilaku tidak teratur.

Sementara itu, terdapat beberapa kondisi tertentu seperti psikosis, gangguan bipolar, gangguan delusi, gangguan skizoafektif, gangguan skizofreniform, dan penyalahgunaan zat yang harus dikesampingkan untuk menegakkan diagnosis skizofrenia hebefrenik agar semakin akurat.

5. Pengobatan dan perawatan skizofrenia

Skizofrenia Hebefrenik: Saat Perilaku dan Ucapan Tidak Teraturilustrasi perawatan skizofrenia melalui terapi (freepik.com/prostooleh)

Skizofrenia diatasi dengan menerapkan pengobatan dan perawatan sesuai gejala spesifik yang ditunjukkan pasien. Bentuk pengobatan dan perawatan meliputi:

  • Psikoterapi: mencakup terapi perilaku kognitif (CBT), terapi individu, dan terapi kelompok
  • Terapi farmakologi: seperti penggunaan obat antipsikotik
  • Optimalisasi komunitas asertif: melibatkan pendekatan tim terapi multidisiplin

Konsumsi obat dan terapi, keduanya sering diterapkan secara kombinasi sebagai bentuk sistem pendukung untuk membantu memanajemen gejala. Meskipun belum ditetapkan bentuk perawatan khusus untuk skizofrenia hebefrenik, terapi perilaku kognitif (CBT) dapat membantu mengatasi pemikiran dan perilaku yang tidak teratur serta memberikan bentuk dukungan yang kooperatif.

6. Faktor risiko umum terkait skizofrenia

Skizofrenia Hebefrenik: Saat Perilaku dan Ucapan Tidak Teraturilustrasi remaja meminum obat penenang (freepik.com/freepik)

Menurut National Alliance on Mental Illness (NAMI), individu yang memiliki kerabat dengan diagnosis skizofrenia, enam kali lebih mungkin mengembangkan kondisi serupa. Hal ini memperkuat dugaan faktor risiko terkait interaksi antara genetika dan lingkungan.

Studi tahun 2018 dalam Schizophrenia Research menjelaskan, obat penenang yang digunakan selama masa remaja dapat meningkatkan risiko skizofrenia. Hal ini menunjukkan jika semakin sering seseorang mengonsumsi suatu zat, semakin tinggi pula risiko mengalami skizofrenia.

Sementara itu, studi lain dalam Current Psychiatry Reports tahun 2019 menyoroti paparan virus dan malnutrisi saat bayi masih dalam kandungan (terutama pada trimester pertama dan kedua) yang dikaitkan dengan peningkatan risiko pengembangan skizofrenia.

Skizofrenia adalah masalah mental yang kompleks, serius, dan kronis. Meskipun skizofrenia jenis hebefrenik tidak lagi menjadi diagnosis tersendiri dalam DSM-5, karakteristik dan gejala sering kali ditunjukkan.

Jika kamu atau orang terdekatmu merasa mengalami tanda dan gejala skizofrenia hebefrenik, sebaiknya segera berkonsultasi pada ahli kesehatan mental, ya.

Baca Juga: 5 Film Ini Kisahkan Penderita Skizofrenia, Coba Tonton Deh!

Indriyani Photo Verified Writer Indriyani

Business inquiries: indriyaniann124@gmail.com

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Novaya

Berita Terkini Lainnya