Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Infeksi Meningitis Meningokokus saat Haji, Seberapa Berbahaya?

Infeksi Meningitis Meningokokus saat Haji, Seberapa Berbahaya?
ilustrasi jemaah haji di rumah sakit akibat meningitis (pexels.com/Anna Shvets)
Intinya Sih
Sisi Positif
  • Meningitis meningokokus dapat menyebar lebih mudah selama haji karena jutaan orang berkumpul dalam jarak dekat dan tinggal bersama dalam waktu lama.

  • Penyakit ini bisa berkembang sangat cepat, menyebabkan kerusakan otak, gangguan organ, bahkan kematian hanya dalam hitungan jam.

  • Vaksin meningokokus ACWY menjadi perlindungan utama dan diwajibkan untuk semua jemaah haji oleh pemerintah Arab Saudi.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Haji adalah salah satu pertemuan manusia terbesar di dunia. Jutaan orang dari berbagai negara datang ke tempat yang sama, tinggal berdekatan, berbagi transportasi, makan bersama, dan menjalani ibadah dalam kerumunan besar. Walaupun bermakna secara spiritual, tetapi situasi seperti ini di sisi lain juga menciptakan kondisi ideal bagi penyebaran penyakit menular.

Salah satu penyakit yang paling lama menjadi perhatian selama haji adalah meningitis meningokokus, yaitu infeksi serius akibat bakteri Neisseria meningitidis. Penyakit ini dapat menyebabkan radang selaput otak dan sumsum tulang belakang, tetapi juga bisa menyebar ke aliran darah dan memicu kondisi yang lebih berbahaya, yaitu meningococcemia atau infeksi darah berat.

Walaupun kasusnya tidak sebanyak flu atau batuk pilek, tetapi meningitis termasuk penyakit yang sangat ditakuti karena dapat berkembang sangat cepat dan berakibat fatal.

Table of Content

1. Mengapa risiko meningitis meningkat saat haji?

1. Mengapa risiko meningitis meningkat saat haji?

Penularan meningitis meningokokus terjadi melalui percikan droplet saat seseorang batuk, bersin, berbicara dekat, atau tinggal lama dalam ruangan yang sama.

Selama haji, jemaah sering tidur bersama di tenda, berdesakan di transportasi umum, dan menghabiskan waktu lama di tengah kerumunan besar. Kondisi tersebut membuat bakteri lebih mudah berpindah dari satu orang ke orang lain. Bahkan, seseorang yang tampak sehat dapat membawa bakteri meningokokus di hidung atau tenggorokannya tanpa gejala, lalu tanpa sadar menularkannya ke orang lain.

Menurut sebuah studi tentang pembawa (carrier) bakteri meningokokus pada jemaah haji dan umrah, kepadatan tinggi, kontak dekat, dan kedatangan jemaah dari berbagai wilayah dunia menciptakan lingkungan yang ideal untuk penyebaran bakteri ini. Risiko bukan hanya terjadi di Arab Saudi, tetapi juga dapat terbawa kembali ke negara asal para jemaah.

2. Seberapa berbahaya meningitis?

Ilustrasi bakteri Neisseria meningitidis.
ilustrasi bakteri Neisseria meningitidis, penyebab meningitis meningokokus (unsplash.com/CDC)

Meningitis meningokokus bukan sekadar sakit kepala atau demam biasa. Gejala awalnya memang bisa menyerupai flu, seperti demam, nyeri kepala, nyeri otot, muntah, atau rasa lelah. Namun, dalam waktu singkat kondisi dapat memburuk menjadi leher kaku, gangguan kesadaran, kejang, sesak napas, hingga syok.

Pada sebagian pasien, bakteri masuk ke aliran darah dan menyebabkan sepsis berat. Ini dapat memicu tekanan darah turun drastis, kerusakan organ, gangguan pembekuan darah, bahkan amputasi akibat gangguan aliran darah ke tangan atau kaki.

Yang membuat penyakit ini sangat berbahaya adalah kecepatannya. Meningitis meningokokus bisa berkembang hanya dalam hitungan jam. Bahkan dengan pengobatan antibiotik dan perawatan intensif, angka kematiannya tetap tinggi.

Sebagian penyintas juga dapat mengalami komplikasi jangka panjang seperti gangguan pendengaran, gangguan saraf, kesulitan belajar, atau kerusakan jaringan tubuh.

3. Seberapa sering kasus ini terjadi?

Wabah meningitis meningokokus pernah beberapa kali terjadi terkait haji, terutama pada akhir 1980-an dan awal 2000-an.

Salah satu wabah terbesar terjadi pada tahun 2000 dan 2001 akibat strain serogrup W-135, yang kemudian menyebar ke banyak negara setelah jemaah pulang dari Arab Saudi.

Sejak saat itu, Arab Saudi menerapkan aturan vaksinasi wajib untuk semua jemaah haji dan umrah. Kebijakan ini terbukti sangat efektif menurunkan risiko wabah besar dan mencegah penyebaran internasional.

Namun, risiko belum benar-benar hilang. Menurut laporan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pada 2024 terdapat 12 kasus meningokokus yang terkait dengan umrah atau perjalanan religius ke Arab Saudi di beberapa negara seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis. Sebanyak 9 dari 12 pasien tersebut diketahui belum divaksinasi, sedangkan status vaksinasi tiga pasien lainnya tidak diketahui. Hingga 2025, sudah ada 17 kasus terkait perjalanan religius ke Arab Saudi yang dilaporkan dari berbagai negara.

4. Kenapa vaksin meningitis wajib untuk jemaah haji?

Ilustrasi vaksin meningitis.
ilustrasi suntik vaksin meningitis (pexels.com/SHVETS production)

Vaksin meningitis yang diwajibkan untuk haji adalah vaksin meningokokus quadrivalent atau MenACWY. Vaksin ini melindungi terhadap empat kelompok utama bakteri meningokokus, yaitu A, C, W, dan Y.

Pemerintah Arab Saudi mewajibkan semua jemaah haji dan umrah berusia 1 tahun ke atas untuk mendapatkan vaksin ini setidaknya 10 hari sebelum keberangkatan. Sertifikat vaksin juga harus ditunjukkan sebagai bagian dari persyaratan perjalanan.

Aturan ini bukan sekadar formalitas administrasi. Menurut WHO dan Kementerian Kesehatan Arab Saudi, kebijakan vaksinasi wajib sejak 2001 terbukti berhasil menurunkan risiko wabah meningitis selama haji secara signifikan. Karena itu, vaksin meningokokus tetap menjadi salah satu syarat kesehatan paling penting bagi jemaah.

5. Siapa yang paling rentan?

Meski semua jemaah bisa tertular, tetapi ada beberapa kelompok yang lebih rentan mengalami komplikasi berat bila terkena meningitis. Misalnya pada lansia, anak kecil, orang dengan gangguan sistem imun, diabetes, penyakit ginjal, atau penyakit paru kronis.

Jemaah yang mengalami kelelahan berat, kurang tidur, dehidrasi, atau infeksi saluran napas juga mungkin lebih rentan. Kondisi fisik yang menurun dapat membuat tubuh lebih sulit melawan infeksi.

Karena itu, orang dengan penyakit kronis sebaiknya berkonsultasi dengan dokter sebelum berangkat. Selain vaksin meningitis, dokter mungkin juga akan menyarankan vaksin lain seperti influenza, COVID-19, atau pneumonia untuk membantu mengurangi risiko penyakit selama haji.

6. Apa lagi yang bisa dilakukan untuk mencegah meningitis?

Jemaah haji usai salat subuh di Masjid Nabawi, Madinah.
Jemaah haji usai salat subuh di Masjid Nabawi, Madinah. (Media Center Haji 2025/Rochmanudin)

Selain vaksinasi, menjaga kebersihan tangan dan menggunakan masker di tempat ramai dapat membantu mengurangi risiko penularan infeksi saluran napas. Hindari berbagi alat makan, botol minum, handuk, atau alat pribadi lain dengan orang lain.

Jemaah haji juga sebaiknya segera memeriksakan diri jika mengalami demam tinggi, sakit kepala berat, muntah, leher kaku, ruam, atau penurunan kesadaran.

Pada meningitis, penanganan dini sangat penting karena penyakit ini dapat memburuk dengan sangat cepat.

Vaksinasi tetap menjadi perlindungan utama, tetapi langkah-langkah sederhana seperti cukup istirahat, cukup minum, dan menjaga kebersihan tetap penting untuk membantu tubuh menghadapi risiko infeksi selama haji.

Meningitis meningokokus memang tidak sesering flu atau batuk pilek selama haji, tetapi dampaknya bisa fatal. Penyakit ini dapat berkembang cepat dan menyebabkan komplikasi serius, bahkan kematian, jika tidak segera ditangani.

Karena itu, vaksin meningitis bukan cuma syarat administratif haji. Vaksin ini adalah salah satu perlindungan paling penting bagi jemaah, keluarga, dan orang-orang di sekitar mereka setelah pulang ke tanah air.

Referensi

Jaffar A. Al-Tawfiq, Shui-Shan Lee, and Ziad A. Memish, “Emergence of Invasive Meningococcal Disease During Hajj Pilgrimage – Vigilance and Preparedness, in the Post-pandemic Year,” International Journal of Infectious Diseases 145 (May 8, 2024): 107092, https://doi.org/10.1016/j.ijid.2024.107092.

Raghad Alhajaji et al., “Neisseria Meningitidis Carriage Among Hajj and Umrah Pilgrims: A Systematic Review and Meta-Analysis,” European Journal of Medical Research 30, no. 1 (August 5, 2025): 710, https://doi.org/10.1186/s40001-025-02926-4.

World Health Organization. “Invasive Meningococcal Disease – Kingdom of Saudi Arabia.” Diakses April 2026.

World Health Organization Regional Office for the Eastern Mediterranean. “Umrah and Hajj Safety.” Diakses April 2026.

Ministry of Health Saudi Arabia. “Hajj Vaccinations 1446.” Diakses April 2026.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More