Comscore Tracker

Seks di Usia Remaja Bahaya untuk Kesehatan Reproduksi, Ini Kata Ahli!

Pihak perempuanlah yang banyak menanggung konsekuensinya

Sebanyak 33 persen remaja berusia di bawah 20 tahun mengaku pernah melakukan hubungan seksual penetrasi. Lebih mencengangkan lagi, 50 persennya mengatakan bahwa mereka sama sekali tidak menggunakan alat kontrasepsi saat melakukannya.

Data tersebut didapatkan oleh Durex saat melakukan survei kesehatan seksual remaja di Indonesia tahun 2019. Temuan tersebut menunjukkan bahwa mereka aktif secara seksual, tapi sayangnya minim pengetahuan tentang seks, kesehatan reproduksi, dan kehamilan. 

Sumber yang sama mengungkapkan bahwa para remaja ini hanya mengkhawatirkan risiko kehamilan. Di sisi lain, mereka tidak paham bahwa masih banyak risiko lain dari hubungan seks di usia dini. 

Dalam rangka menyambut Hari Anak Nasional sekaligus Hari Kependudukan Dunia, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyelenggarakan webinar bertajuk "Kesehatan Reproduksi Anak Remaja Raih Peluang Bonus Demografi".

Dalam kesempatan ini, Kepala BKKBN sekaligus dokter spesialis obstetri dan ginekologi dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG(K) mengupas bahayanya seks di usia remaja. Para remaja wajib nyimak, nih!

1. Risiko terjadinya perdarahan rahim saat melahirkan

Seks di Usia Remaja Bahaya untuk Kesehatan Reproduksi, Ini Kata Ahli!unsplash.com/annaelise

Risiko seks di usia remaja yang pertama adalah persalinan yang berbahaya. Sang ibu berpotensi mengalami perdarahan rahim saat melahirkan, akibat belum siapnya tubuh untuk melakukan persalinan. 

Kenapa ini bisa terjadi? Dalam penjelasannya, dr. Hasto mengatakan bahwa lebar rongga pada tulang panggul perempuan dewasa idealnya berukuran sepuluh sentimeter (cm). Dengan begitu, kepala bayi yang rata-rata berdiameter 9,6-9,8 cm bisa keluar dengan lancar. 

"Namun, pada remaja perempuan, biasanya ukuran panggul ini belum ideal. Nah kalau tinggal di kota, aman bisa sesar, tapi kalau tinggalnya di desa atau pedalaman? Mungkin bayinya bisa terjepit di situ, bisa sobek rahimnya, bisa pendarahan," jelas Hasto

2. Pertumbuhan tulang yang terhambat berujung pada osteoporosis

Seks di Usia Remaja Bahaya untuk Kesehatan Reproduksi, Ini Kata Ahli!medpagetoday.net

Seks yang berujung pada kehamilan di usia dini ternyata juga merenggut hak perempuan untuk tumbuh. Bukan hanya secara psikologis dan pemikiran, tapi juga fisik. 

Dokter Hasto mengatakan bahwa sebenarnya di usia 16 hingga 19 tahun, tulang para remaja masih dalam masa pertumbuhan. Kepadatan tulang masih terus bertambah dan menguat. Nah, kehamilan yang terjadi di usia tersebut akan menghentikan pertumbuhan ini. 

"Kalau seandainya usia 16, 17, dan 18 ini sudah hamil, maka berhentilah kepadatan tulang ini. Manusia ini belum tumbuh sempurna, sudah hamil. Kalsiumnya diambil bayi yang dikandungnya itu. Akhirnya, tulangnya jadi keropos," jelasnya.

Hal ini akan meningkatkan risiko osteoporosis, bahkan sebelum perempuan berusia 50 tahun. Tubuh akan membungkuk, kepadatan tulang menyusut, sehingga rentan untuk mengalami cedera berat ketika jatuh sedikit saja. 

Baca Juga: 7 Perbedaan Hubungan Seks Setelah Menopause, Apakah Kualitas Menurun?

3. Kehamilan yang tidak diinginkan

Seks di Usia Remaja Bahaya untuk Kesehatan Reproduksi, Ini Kata Ahli!unsplash.com/freestocks

Tahukah kamu bahwa 36 dari 1.000 perempuan menjadi ibu di usia 15-19 tahun? Data dari BKKBN tahun 2017 ini menunjukkan bahwa masih banyaknya fenomena pernikahan dini dan hubungan seksual di usia remaja. 

Sering kali hal ini merupakan kehamilan yang tidak diinginkan. Menurut dr. Hasto, karena Indonesia adalah negara yang pro-life, para remaja pun dipaksa siap untuk menjadi orang tua, padahal secara psikologis mereka masih anak-anak. 

4. Meningkatkan risiko kanker serviks

Seks di Usia Remaja Bahaya untuk Kesehatan Reproduksi, Ini Kata Ahli!unsplash/Timothy Meinberg

Kanker serviks atau kanker mulut rahim menempati posisi kedua untuk jenis kanker yang paling banyak diderita perempuan Indonesia. Salah satu faktor yang meningkatkan risikonya adalah hubungan seksual di usia remaja, saat organ reproduksi belum sepenuhnya siap. 

Kanker serviks bermula dari luka pada mulut rahim yang bisa didapatkan ketika berhubungan seksual. Luka tersebut kemudian berpotensi terpapar human papillomavirus (HPV) yang bisa ditemukan di udara, vagina, dan penis.

Seks di Usia Remaja Bahaya untuk Kesehatan Reproduksi, Ini Kata Ahli!youtube.com/BKKBN OFFICIAL

Risiko tersebut lebih besar dialami oleh remaja. Coba lihat gambar di atas, dr. Hasto mengatakan bahwa squamous epithelial cells yang bertugas melindungi mulut rahim belum tumbuh sempurna.

Squamocolumnar junction pun masih berada di luar. Dokter Hasto menegaskan bahwa area tersebutlah yang rentan untuk terserang patogen. Jika squamocolumnar junction terluka akibat hubungan seks, luka tersebut bisa berubah menjadi kanker. 

"Sekitar 15 sampai 20 tahun lagi mudah jadi kanker. Karena apa, initial process of pathology atau permulaan patologisnya di dareah ini. Batas antara sel pipih dan sel lonjong, namanya squamocolumnar junction," terang Kepala BKKBN tersebut. 

5. Risiko tertular penyakit seksual karena pengetahuan yang belum cukup

Seks di Usia Remaja Bahaya untuk Kesehatan Reproduksi, Ini Kata Ahli!cloudfront.net

Dalam materi yang dibawakannya, dr. Hasto juga menyebutkan bahwa seks di usia remaja bisa meningkatkan risiko penyakit menular seksual. Kenapa seperti itu?

Sebagian besar remaja belum memiliki pengetahuan yang cukup tentang seks, reproduksi, dan kehamilan. Alhasil, tak jarang mereka pun melakukan hubungan seksual yang tidak aman atau tanpa kondom.

Padahal, ini bukan hanya untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan, tapi juga untuk mencegah penularan penyakit seksual. Contohnya klamidia, gonore, sifilis, trikomoniasis, hingga HIV/AIDS.

6. Risiko kematian saat melahirkan

Seks di Usia Remaja Bahaya untuk Kesehatan Reproduksi, Ini Kata Ahli!unsplash.com/heathermount

Ketidaksiapan tubuh dan organ reproduksi remaja untuk melahirkan sering kali berujung pada hal yang fatal, yakni kematian. Menurut data dari BKKBN, komplikasi saat kehamilan dan melahirkan adalah penyebab kematian nomor dua terbesar pada perempuan berusia 15-19 tahun. 

Tak hanya itu, ibu berusia muda juga rentan mengalami kerusakan organ reproduksi. Tak jarang, hebatnya perdarahan saat persalinan memaksa mereka untuk menjalani pengangkatan rahim. 

Melihat begitu berisikonya hubungan seksual di usia dini, penting untuk melakukan edukasi kepada anak-anak dan remaja.

Keluarga adalah pihak pertama yang harus memberikan pengetahuan ini kepada mereka. Jangan biarkan anak-anak menanggung berbagai risiko di atas. 

Baca Juga: Ini 7 Cara Mencegah Kanker Serviks Menurut Ahli, Wanita Perlu Tahu!

Topic:

  • Izza Namira
  • Nurulia R. Fitri

Berita Terkini Lainnya