Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kapan Anak yang Stunting Perlu Dirujuk ke Dokter Spesialis?
ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/Tyo | Khalifa Malik)
  • Pada balita, stunting ditetapkan ketika panjang atau tinggi badan menurut umur berada di bawah −2 standar deviasi kurva pertumbuhan WHO.

  • Pedoman Indonesia menyebut balita dengan PB/U atau TB/U <−2 SD perlu mendapat tata laksana stunting dan dirujuk, bukan menunggu sampai kondisinya berat.

  • Pertumbuhan yang terus melambat, berat badan sulit naik, penyakit berulang, gangguan perkembangan, bentuk tubuh tidak proporsional, atau tidak membaik setelah intervensi nutrisi dapat mengarah pada penyebab medis yang perlu ditelusuri.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ketika tinggi badan anak berada jauh di bawah teman seusianya, respons pertama orang tua mungkin menambah porsi makan anak. Namun, anak yang tumbuh pendek tidak selalu cuma butuh lebih banyak makanan.

Pada anak di bawah 5 tahun, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan stunting sebagai panjang atau tinggi badan menurut umur di bawah −2 standar deviasi (SD) dari median standar pertumbuhan WHO. Angka tersebut menunjukkan adanya gangguan pertumbuhan linear, tetapi belum menjelaskan mengapa anak tidak tumbuh sebagaimana mestinya.

Penyebabnya dapat berkaitan dengan kekurangan nutrisi dan infeksi berulang, tetapi pertumbuhan yang terhambat juga bisa menandakan penyakit kronis, gangguan hormon, masalah penyerapan makanan, atau kelainan genetik. Inilah sebabnya evaluasi stunting sebaiknya tidak berhenti setelah mengukur tinggi badan.

1. Stunting yang sudah terkonfirmasi perlu dirujuk

Orang tua tidak perlu menunggu tinggi badan anak berada jauh di bawah kurva sebelum mencari evaluasi lanjutan.

Permenkes Nomor 2 Tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak menyebut anak dengan PB/U atau TB/U di bawah −2 SD sebagai anak berperawakan pendek. Anak tersebut wajib ditindaklanjuti dengan tata laksana stunting dan dirujuk.

IDAI juga menjelaskan bahwa stunting merupakan bagian dari masalah perawakan pendek dan diagnosis serta tata laksana komprehensifnya merupakan kompetensi dokter spesialis anak. Tujuannya antara lain memastikan penyebab anak pendek tidak terlewat sekaligus mencegah diagnosis dan pengobatan yang tidak diperlukan.

Setelah hasil pengukuran dikonfirmasi dengan benar, dokter perlu menilai pola pertumbuhan dan mencari penyebabnya.

2. Tinggi badan terus turun menjauhi kurva pertumbuhan

Tinggi badan memberi informasi penting, tetapi arah pertumbuhan dari waktu ke waktu sering kali memberi petunjuk lebih besar.

Anak yang memang bertubuh pendek karena faktor keluarga dapat tetap tumbuh dengan kecepatan yang relatif normal mengikuti jalur pertumbuhannya. Sebaliknya, anak yang sebelumnya mengikuti satu jalur kemudian terus turun melewati garis-garis pada kurva pertumbuhan patut dievaluasi lebih lanjut.

Pediatric Endocrine Society memasukkan penurunan kecepatan pertumbuhan dan crossing percentiles setelah usia 3 tahun sebagai salah satu indikasi rujukan ke endokrinologi anak.

Untuk anak usia 0–24 bulan, kenaikan panjang badan yang lebih rendah dari standar length increment sebagai tanda perlambatan pertumbuhan linear yang membutuhkan evaluasi lengkap untuk mencari kemungkinan penyakit penyerta atau rujukan.

Karena itu, pemantauan berkala lebih penting daripada membandingkan tinggi anak dengan teman sekelas atau saudara kandung.

3. Stunting sangat berat

ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/Marcial Comeron)

WHO mengategorikan tinggi badan menurut umur di bawah −3 SD sebagai severe stunting atau stunting berat.

Makin jauh tinggi anak dari standar pertumbuhan, makin penting memastikan tidak ada masalah lain yang mendasarinya.

Dokter dapat mengevaluasi riwayat kehamilan dan kelahiran, pola makan, penyakit sebelumnya, tinggi orang tua, perkembangan anak, proporsi tubuh, hingga pemeriksaan laboratorium atau pemeriksaan lain jika memang diperlukan.

Namun, anak dengan −2 SD tidak perlu menunggu sampai mencapai −3 SD untuk diperiksa lebih lanjut.

4. Berat badan juga sulit naik atau tetap turun

Jika anak pendek sekaligus sulit menambah berat badan, kehilangan berat badan, atau mengalami wasting, dokter perlu menilai apakah asupan nutrisi memang cukup dan apakah ada kondisi yang membuat tubuh kesulitan menyerap atau menggunakan zat gizi.

Beberapa penyakit kronis dapat mengganggu pertumbuhan sebelum diagnosisnya terlihat jelas.

Anemia, penyakit celiac, penyakit radang usus, gangguan ginjal, penyakit metabolik tulang, dan penyakit sistemik lainnya merupakan kondisi yang dapat ditemukan saat menelusuri penyebab pertumbuhan yang tidak normal.

Penyakit celiac, misalnya, terkadang muncul hanya sebagai perawakan pendek tanpa gejala saluran cerna yang jelas.

5. Ada gejala penyakit atau gangguan perkembangan

Rujukan menjadi makin penting jika pertumbuhan pendek disertai keluhan lain.

Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:

  • Diare atau muntah berulang.

  • Infeksi berat atau sering berulang.

  • Gangguan jantung, ginjal, atau penyakit kronis lain.

  • Kesulitan makan.

  • Kehilangan kemampuan perkembangan yang sebelumnya sudah dikuasai.

  • Keterlambatan perkembangan.

  • Bentuk wajah atau tubuh yang tidak biasa.

  • Lengan, tungkai, atau bagian tubuh lain tampak tidak proporsional.

  • Pertumbuhan tetap buruk meskipun asupan energi dinilai mencukupi.

Penyakit berulang, muntah atau diare berulang, gangguan perkembangan, ciri dismorfik, kelainan jantung, serta kegagalan menambah berat badan meskipun asupan kalori sudah memadai merupakan tanda-tanda yang membutuhkan evaluasi lebih lanjut.

Kelainan proporsi tubuh atau ciri fisik tertentu juga dapat mengarahkan dokter pada gangguan tulang atau kelainan genetik.

6. Anak lahir kecil tetapi tidak mengalami catch-up growth

ilustrasi ibu dan anak perempuan di dalam tenda (pexels.com/Werner Pfennig)

Bayi yang lahir small for gestational age (SGA) atau berukuran lebih kecil daripada yang diharapkan untuk usia kehamilannya dapat mengalami pertumbuhan mengejar atau catch-up growth setelah lahir.

Namun, jika pertumbuhan tersebut tidak terjadi, evaluasi lebih lanjut diperlukan.

Riwayat pertumbuhan janin terhambat tanpa catch-up growth pada usia sekitar 2 tahun merupakan salah satu keadaan yang perlu mendapat perhatian khusus dalam evaluasi perawakan pendek.

7. Pertumbuhan tidak membaik setelah masalah nutrisi ditangani

Jika anak memang mengalami kekurangan nutrisi, memperbaiki asupan merupakan bagian penting dari terapi. Namun, tidak adanya perbaikan pertumbuhan setelah kebutuhan nutrisi sudah terpenuhi perlu pemeriksaan lebih lanjut.

Tinjauan sistematis pada 2026 mengenai evaluasi anak pendek di layanan primer menekankan bahwa sebagian besar anak pendek memang tidak memiliki penyakit serius, tetapi gangguan pertumbuhan juga dapat menjadi manifestasi awal penyakit endokrin, genetik, penyakit celiac, maupun penyakit radang usus.

Evaluasi dokter spesialis anak kemudian dapat menentukan apakah dibutuhkan keterlibatan subspesialis lain, misalnya endokrinologi anak, gastrohepatologi, nutrisi dan penyakit metabolik, nefrologi, atau genetika.

Ada kondisi yang perlu dinilai lebih cepat

Sebagian besar kasus perawakan pendek bukan keadaan darurat. Namun, Pediatric Endocrine Society menyarankan rujukan segera jika anak pertumbuhannya buruk sekaligus mengalami sakit kepala atau gangguan penglihatan, atau jika ada kecurigaan kekurangan beberapa hormon sekaligus.

Kombinasi tersebut dapat mengarah pada masalah di area otak atau kelenjar pituitari yang mengatur berbagai hormon tubuh.

Jadi, ketika stunting sudah terkonfirmasi, tidak perlu menunggu sampai kondisi anak makin parah. Rujukan menjadi makin penting jika pertumbuhan terus melambat, tinggi berada di bawah −3 SD, berat badan ikut bermasalah, terdapat penyakit berulang atau keterlambatan perkembangan, tubuh tidak proporsional, atau pertumbuhan tidak membaik setelah kebutuhan nutrisi diperbaiki.

Tujuannya utamanya adalah mencari alasan mengapa tubuhnya tidak tumbuh sesuai potensinya sehingga penyebab yang dapat ditangani segera ditemukan.

Referensi

World Health Organization, “Global Nutrition Targets 2030: Stunting Brief,” October 22, 2025; World Health Organization, “Malnutrition in Children,” diakses Agustus 2026.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, "Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak," diakses Agustus 2026.

Damayanti Rusli Sjarif et al., "Petunjuk Teknis Berbasis Bukti: Diagnosis dan Tata Laksana Stunting secara Komprehensif untuk Dokter Spesialis Anak, ed. 2", diakses Agustus 2026.

Pediatric Endocrine Society, “Short Stature: A Guide for Families,” diakses Agustus 2026.

Pediatric Endocrine Society, “Child with Suspected Short Stature,” diakses Agustus 2026.

World Health Organization, "Global Nutrition Monitoring Framework: Operational Guidance for Tracking Progress in Meeting Targets for 2025," diakses Agustus 2026.

Jan M. Wit, Gerdine A. Kamp, and Wilma Oostdijk, “Towards a Rational and Efficient Diagnostic Approach in Children Referred for Growth Failure to the General Paediatrician,” Hormone Research in Paediatrics 91, no. 4 (2019): 223–240, https://doi.org/10.1159/000499915.

Maurizio C. Meazza et al., “Celiac Disease and Short Stature in Children,” Expert Review of Endocrinology & Metabolism 14, no. 5 (2019): 299–305.

“Clinical and Biochemical Evaluation of Children with Short Stature in the Primary Care Setting: A Systematic Review,” Italian Journal of Pediatrics (2026).

Curated For You

Editorial Team

Related Article