Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kenapa Asam Lambung Mudah Naik saat Puasa? Cek Alasannya!
ilustrasi alasan asam lambung naik (pexels.com/cottonbro studio)

Saat menjalani puasa, sebagian orang justru lebih sering merasakan gejala asam lambung naik, seperti perih di dada, mual, atau sensasi panas di tenggorokan. Kondisi ini kerap membuat aktivitas puasa terasa tidak nyaman, bahkan memicu kekhawatiran bagi mereka yang memiliki riwayat gangguan lambung seperti GERD.

Ketika asam lambung naik, dada terasa terbakar, mual, bahkan muncul rasa pahit atau asam di mulut. Kamu mungkin bertanya-tanya, mengapa asam lambung lebih mudah naik ketika berpuasa Ramadan? Nah, coba evaluasi mungkin salah satu alasan ini penyebabnya.

1. Perut kosong dalam kurun waktu yang lama

ilustrasi perut kosong (pexels.com/www.kaboompics.com)

Waktu berpuasa setiap negara berbeda-beda. Di Indonesia kita berpuasa Ramadan kisaran 13 jam sehari. Bukan waktu yang sebentar lambung tidak terisi makanan selama berpuasa. Meskipun perut kosong, lambung tetap memproduksi cairan asam lambung tanpa berhenti.

Perpaduan perut kosong dan cairan lambung berlebih memicu luka pada dinding lambung. Hal ini menyebabkan munculnya gejala seperti perut perih, kembung, asal lambung naik ke kerongkongan.

2. Pilihan menu makanan yang pedas, asam, atau berlemak

ilustrasi makanan pedas (pexels.com/Giovanna Kamimura)

Apa kamu suka berburu takjil? Salah satu kegiatan ngabuburit paling asyik yaitu mencari takjil untuk berbuka puasa. Takjil beragam jenis bermunculan di bulan Ramadan. Semua seakan memanggil untuk dibawa ke rumah.

Jika kamu tidak ingin asam lambungmu naik, sebaiknya lebih selektif lagi untuk memilih menu sahur dan berbuka. Tidak lengkap memang makan tanpa gorengan atau menu pedas. Kombinasi makanan pedas, asam, serta berlemak dapat meningkatkan asam lambung.

3. Beban pikiran yang meningkat

ilustrasi stres (pexels.com/David Garrison)

Ilmu kesehatan bersifat menyeluruh. Badan terlihat sehat, tetapi belum tentu psikologis tidak terbebani. Stres dan kecemasan dapat menimbulkan asam lambung naik.

Sebuah studi dalam Jurnal Ilmiah Kesehatan Pencerah menjelaskan respon tubuh ketika mengalami stress berupa pengeluaran hormon kortisol. Kinerja hormon ini dapat meningkatkan produksi asam lambung. Stres juga memicu kontraksi otot sfingter esofagus yang bertugas mencegah aliran balik asam lambung.

4. Berbuka jumlah banyak dengan cepat

ilustrasi makan banyak (freepik.com/wayhomestudio)

Waktu berbuka puasa memang ditunggu-tunggu. Kita memang disunnahkan untuk menyegerakan waktu berbuka, tetapi makanlah secara perlahan. Selain menyebabkan tersedak, makan terlalu cepat tidak baik untuk sistem pencernaan.

Ketika berpuasa perut kosong dalam waktu yang lama. Dilansir dari laman Cleveland Clinic, berbuka puasa dengan jumlah langsung banyak dan makan terlalu cepat menyebabkan kram perut dan asam lambung naik. Kamu bisa memulai dengan makanan ringan, selanjutnya beri jarak untuk konsumsi makanan berat secara bertahap.

5. Tidur setelah sahur atau berbuka

ilustrasi tidur (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Perut kenyang memang sering kali membuat gampang mengantuk. Setelah adzan magrib berkumandang, kita kalap menghabiskan menu berbuka sampai kekenyangan dan berakhir tertidur. Apalagi sahur di pagi buta, kita kembali ke tempat tidur setelah menyelesaikan sahur. Apakah kamu juga melakukannya?

Sejatinya, kita butuh jeda supaya makanan dicerna baik oleh sistem pencernaan. Buku berjudul Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) menyebutkan pasien sebaiknya memberikan waktu makan setidaknya tiga jam sebelum tidur. Berbaring setelah makan dapat menimbulkan asam lambung naik ke kerongkongan.

6. Konsumsi minuman berkafein atau berkarbonasi

ilustrasi minuman berkafein (freepik.com/freepik)

Ketika menjalankan ibadah puasa, umat muslim rentan sekali mengalami dehidrasi. Pastikan kamu mengonsumsi air mineral yang cukup. Namun, tidak semua jenis minuman baik untuk tubuh.

Sebaiknya, hindari minuman berkafein dan berkarbonasi. Beragam jenis es teh dan kopi kekinian memang menggoda, tetapi jenis minuman ini sering membuatmu buang air kecil. Kandungan kafein juga menimbulkan gejala tidak nyaman pada perut. Sedangkan minuman bersoda menimbulkan perut cepat begah dan kembung.

Sekarang, kamu sudah mengetahui alasan-alasan asam lambung naik ketika puasa Ramadan. Kamu bisa mengubah pola hidup yang sehat supaya gejala sakit lambung tidak kembali. Semoga kamu tetap sehat di bulan Ramadan ini.

Referensi

"Fasting and Digestive Disorders". Cleveland Clinic. Diakses pada Maret 2026.

"Stomach Acid Interferes When Fasting? Here's How to Overcome It". EMC Healthcare. Diakses pada Maret 2026.

Dadung, P. (2025). Hubungan Stress Dan Kebiasaan Makan Dengan Kejadian Gastroesophageal Refluks Disease (Gerd) Pada Masyarakat Kelurahan Kaleke Kabupaten Banggai. Jurnal Ilmiah Kesehatan Pencerah, 14(1), 11-18.

Azer SA, Goosenberg E. Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) [Updated 2025 Jul 6]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2025 Jan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team