Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Asap Karhutla Bisa Bikin Sakit Kepala? Ini Penjelasannya!
ilustrasi sakit kepala (pexels.com/https://kaboompics.com/)
  • Asap karhutla mengandung partikel halus, senyawa organik volatil, serta gas iritan yang dapat memicu stres oksidatif dan peradangan sistem saraf, sehingga menimbulkan sakit kepala.
  • Migrain menjadi jenis sakit kepala yang paling sering dilaporkan setelah paparan asap kebakaran hutan, dengan sejumlah studi mencatat peningkatan kunjungan IGD terkait keluhan tersebut.
  • Selain sakit kepala, paparan asap karhutla dikaitkan dengan penurunan fungsi kognitif, peningkatan risiko penyakit serebrovaskular dan demensia, serta kecemasan dan PTSD pada paparan berkepanjangan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi besar-besaran di berbagai wilayah Indonesia akhir-akhir ini, menimbulkan kepulan asap yang begitu tebal di langit dan udara. Selain mengganggu pandangan, kepulan asap ini juga banyak menyebabkan berbagai macam gangguan kesehatan, seperti gangguan pernapasan dan iritasi. Selain itu, dampak negatif dari asap karhutla juga dilaporkan menyebabkan orang-orang yang terdampak mengalami sakit kepala.

Kenapa asap karhutla bisa menyebabkan sakit kepala? Apakah ini menyebabkan kondisi medis yang serius? Yuk, simak ulasan berikut untuk memahaminya lebih lanjut.

1. Kenapa asap karhutla menyebabkan sakit kepala?

ilustrasi sakit kepala (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Asap karhutla mengandung banyak sekali campuran senyawa kimia beracun, mulai dari gas hingga partikel-partikel kecil yang sangat halus. Partikel-partikel halus ini sering disebut dengan material partikulat (PM) yang berukuran sekitar 10 hingga 2,5 mikron atau lebih kecil. Jika dibayangkan, ukuran partikel ini tak lebih besar dari diameter rambut manusia karena saking halusnya.

Mengutip dari jurnal Neurology tahun 2025, asap kebakaran hutan merupakan campuran kompleks partikel berukuran sangat halus, senyawa organik volatil, dan gas iritan seperti nitrogen dioksida dan ozon. Semua komponen-komponen tersebut berpotensi menimbulkan efek berbahaya pada sistem saraf melalui berbagai jalur. Di mana pada akhirnya, memengaruhi sistem neurologis dan menyebabkan sakit kepala.

Mekanisme bagaimana asap karhutla menyebabkan sakit kepala masih belum dipahami dengan jelas, sebab masih terbatasnya studi yang tersedia. Namun, para ahli beranggapan, bahwa materi partikulat dalam asap karhutla ini bisa melewati sawar darah-otak melalui transportasi sistem aksonal saraf sinus mencapai otak. Sedangkan gas beracun dapat mengaktifkan saraf sensorik di saluran pernapasan yang menyebabkan timbulnya gangguan neurologis melalui stres oksidatif dan peradangan pada sistem saraf. Stres oksidatif dan peradangan inilah yang kemudian memicu timbulnya gejala sakit kepala setelah terpapar asap karhutla.

2. Jenis sakit kepala apa yang kerap terjadi akibat asap karhutla?

ilustrasi sakit kepala (pexels.com/https://kaboompics.com/)

Asap karhutla dapat menyebabkan berbagai gejala sakit kepala. Namun, jenis sakit kepala yang paling sering dilaporkan adalah sakit kepala migrain. Dalam jurnal Headache tahun 2023 yang meneliti tentang hubungan paparan asap kebakaran hutan dengan jumlah kunjungan ke IGD akibat sakit kepala periode 2006-2020 di California, dilaporkan bahwa migrain adalah sakit kepala yang sering didiagnosis akibat asap karhutla, yaitu sekitar 47,6 persen. Jumlah ini kemudian disusul dengan sakit kepala primer lainnya (40,6 persen) dari total 9898 individu unik yang menjadi subjek penelitian.

Laman European Medical Journal juga melaporkan hal serupa. Dalam penelitian tentang dampak paparan asap karhutla terhadap sakit kepala pada periode 2010-2023 di Kanada, dari 622.753 individu yang diteliti dengan 997.701 kunjungan UGD akibat paparan asap kebakaran hutan, 87,2 persen kunjungan melaporkan pasien dengan sakit kepala migrain dan 13,8 persen untuk sindrom sakit kepala primer. Studi-studi besar ini menunjukkan bahwa material partikulat dalam asap karhutla meningkatkan risiko sakit kepala yang serius hingga memicu kunjungan medis.

3. Dampak neurologis lainnya dari asap karhutla

ilustrasi demensia (pexels.com/Kampus Production)

Selain sakit kepala, asap karhutla juga bisa berdampak pada beberapa masalah neurologis lainnya. Dikutip dari jurnal berjudul “Wildfire Smoke and Its Neurological Impact” tahun 2025, dalam sejumlah studi terbatas, asap kebakaran hutan dapat meningkatkan risiko demensia dan penyakit serebrovaskular. Paparan akut dari asap kebakaran hutan dapat menyebabkan penurunan fungsi kognitif dalam beberapa jam atau hari setelah paparan.

Tak berhenti di situ, asap karhutla ternyata juga bisa berdampak pada kesehatan mental. Masih dari studi yang sama, disebutkan bahwa asap karhutla dikaitkan dengan peningkatan risiko kecemasan umum dan gangguan stres pasca-trauma (PTSD). Di mana risiko ini meningkat ketika paparan asap terjadi dalam episode asap kronis dan terus-menerus.

Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengandung banyak sekali campuran senyawa kimia berbahaya. Senyawa-senyawa ini selain memengaruhi sistem pernapasan juga bisa menyebabkan gangguan pada sistem neurologis. Salah satu akibat yang sering dilaporkan adalah asap kebakaran hutan menyebabkan sakit kepala karena menyebabkan stres oksidatif dan peradangan di dalam sistem saraf.

Referensi

“Wildfire Smoke Pollution Linked to Increased Migraines”. European Medical Journal (EMJ). Diakses Agustus 2026.

“Wildfire smoke exposure and emergency department visits for headache: A case-crossover analysis in California, 2006–2020L. Headache. Diakses Agustus 2026.

“Wildfire smoke and its neurological impact”. National Library of Medicine. Diakses Agustus 2026.

“How wildfires and climate change impact headache and migraine symptoms”. WHYY. Diakses Agustus 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article