Berit Skretting Solberg et al., “Breastfeeding and Development of Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder Symptoms Across Childhood,” Biological Psychiatry, published online June 19, 2026, doi:10.1016/j.biopsych.2026.06.009.
National Institute of Mental Health, “Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder: What You Need to Know,” diakses Agustus 2026.
Stephen V. Faraone and Henrik Larsson, “Genetics of Attention Deficit Hyperactivity Disorder,” Molecular Psychiatry 24 (2019): 562–575, doi:10.1038/s41380-018-0070-0.
Ping-Tao Tseng et al., “Maternal Breastfeeding and Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder in Children: A Meta-analysis,” European Child & Adolescent Psychiatry 28, no. 1 (2019): 19–30, doi:10.1007/s00787-018-1182-4.
World Health Organization, “Infant and Young Child Feeding,” diakses Agustus 2026.
Studi: Menyusui Lebih Lama, Gejala ADHD Anak Lebih Rendah

Studi terbaru terhadap lebih dari 37 ribu anak menemukan bahwa durasi menyusui penuh yang lebih lama hingga usia 6 bulan berkaitan dengan gejala ADHD yang sedikit lebih rendah pada usia 3, 5, dan 8 tahun.
Hubungan tersebut tetap terlihat setelah peneliti memperhitungkan faktor genetik ADHD, sosial ekonomi, kondisi sekitar kehamilan dan kelahiran, serta membandingkan saudara kandung.
Efek yang ditemukan tergolong kecil dan penelitian ini tidak membuktikan bahwa menyusui dapat mencegah ADHD.
ASI memberikan berbagai nutrisi dan komponen biologis yang mendukung pertumbuhan bayi. Sebuah studi besar dari Norwegia menambah satu pertanyaan menarik, apakah lamanya menyusui juga berkaitan dengan perkembangan gejala attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD) pada anak?
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Biological Psychiatry pada Juni 2026 ini menemukan bahwa makin lama bayi menyusu penuh hingga usia 6 bulan, makin rendah rata-rata gejala ADHD yang dilaporkan orang tua ketika anak berusia 3, 5, dan 8 tahun. Hubungannya tetap terlihat bahkan setelah berbagai faktor genetik dan lingkungan ikut diperhitungkan.
Table of Content
1. Peneliti mengikuti lebih dari 37 ribu anak
Penelitian menggunakan data 37.643 anak dari Norwegian Mother, Father and Child Cohort Study (MoBa), sebuah studi kohort besar di Norwegia.
Ketika anak berusia 6 bulan, ibu melaporkan pola pemberian ASI, termasuk berapa lama bayi mendapat full breastfeeding atau ASI eksklusif. Dalam studi, istilah ini mencakup menyusui eksklusif atau predominan hingga usia 6 bulan. Kemudian, ketika anak berusia 3, 5, dan 8 tahun, orang tua mengisi penilaian mengenai gejala ADHD anak.
ADHD sendiri merupakan gangguan perkembangan saraf yang ditandai pola menetap berupa kesulitan memusatkan perhatian, hiperaktivitas, impulsivitas, atau kombinasinya. Namun, memiliki beberapa gejala ADHD tidak sama dengan mendapat diagnosis ADHD.
Diagnosis memerlukan evaluasi lebih lengkap, termasuk melihat apakah gejala menetap, muncul dalam lebih dari satu situasi, dan mengganggu fungsi sehari-hari.
2. Setiap tambahan bulan dikaitkan dengan sedikit penurunan gejala
Setelah memperhitungkan berbagai faktor, setiap tambahan satu bulan ASI eksklusif dikaitkan dengan penurunan skor gejala ADHD sekitar 0,08 poin pada usia 3 tahun, 0,07 poin pada usia 5 tahun, dan 0,06 poin pada usia 8 tahun.
Artinya, hubungan tersebut terlihat paling kuat pada usia 3 tahun, kemudian sedikit melemah ketika anak bertambah besar.
Ketika durasi menyusui dibagi dalam beberapa kategori, pola serupa muncul: anak yang mendapat menyusui penuh lebih singkat rata-rata memiliki skor gejala ADHD yang sedikit lebih tinggi dibanding anak yang mendapat ASI eksklusif selama 6 bulan. Para peneliti juga menemukan pola serupa ketika menyusui parsial ikut diperhitungkan.
Namun, peneliti menekankan bahwa besarnya efek relatif kecil dan tidak dianggap sebagai perubahan yang bermakna secara klinis pada tingkat individu. Dampak kecil seperti ini lebih mungkin memiliki arti ketika dilihat pada tingkat populasi.
3. Menariknya, peneliti juga memperhitungkan faktor genetik

ilustrasi ibu menyusui bayinya (IDN Times/NRF) ADHD memiliki komponen genetik yang kuat. Studi pada keluarga dan anak kembar memperkirakan heritabilitas ADHD sekitar 74 persen, meskipun angka tersebut tidak berarti 74 persen ADHD pada seorang individu disebabkan oleh gen. Heritabilitas menggambarkan seberapa besar variasi suatu karakteristik dalam populasi yang berkaitan dengan perbedaan genetik.
Masalahnya, faktor genetik juga dapat berhubungan dengan pola menyusui. Misalnya, orang tua dengan karakteristik ADHD tertentu mungkin memiliki pengalaman menyusui yang berbeda, sementara karakteristik awal pada bayi juga mungkin membuat proses menyusui lebih menantang.
Untuk mengurangi kemungkinan tersebut, peneliti memasukkan polygenic risk score ADHD pada anak, ibu, dan ayah dalam sebagian analisis. Mereka juga memperhitungkan pendidikan ibu, usia orang tua, usia kehamilan dan berat lahir, serta faktor perinatal lainnya.
Analisis terhadap ribuan pasangan saudara kandung dengan pengalaman menyusui yang berbeda juga menghasilkan pola yang serupa. Menurut peneliti, hal ini memperkuat kemungkinan bahwa hubungan tersebut tidak sepenuhnya dijelaskan oleh faktor keluarga atau genetik yang sama.
4. Apakah berarti ASI dapat mencegah ADHD?
Studi ini bersifat observasional. Walaupun peneliti sudah melakukan berbagai analisis untuk mengurangi faktor perancu, tetapi penelitian seperti ini tidak dapat sepenuhnya membuktikan hubungan sebab-akibat.
Peneliti sendiri mengakui bahwa peserta MoBa juga tidak sepenuhnya mewakili populasi Norwegia. Pesertanya cenderung memiliki pendidikan lebih tinggi serta lebih sering dan lebih lama menyusui dibanding populasi umum.
Selain itu, hasil penelitian yang diukur adalah skor gejala ADHD, bukan jumlah anak yang kemudian mendapat diagnosis ADHD.
Temuan ini juga tidak berarti bahwa anak yang tidak mendapat ASI akan mengalami ADHD atau penggunaan susu formula menyebabkan ADHD.
ADHD merupakan kondisi multifaktorial, dengan peran besar faktor genetik dan kemungkinan kontribusi berbagai faktor perkembangan serta lingkungan.
5. Kenapa menyusui mungkin berkaitan dengan perkembangan otak?
Penelitian ini tidak dirancang untuk menentukan mekanismenya.
ASI mengandung berbagai komponen yang terlibat dalam pertumbuhan dan perkembangan, termasuk asam lemak rantai panjang, asam amino, komponen imun, dan mikroorganisme yang dapat memengaruhi perkembangan bayi.
Para peneliti menduga nutrisi, perkembangan sistem imun, atau jalur biologis lainnya mungkin ikut berperan, tetapi mekanisme tersebut masih perlu diteliti lebih lanjut.
Hubungan antara menyusui dan ADHD bukan temuan yang sepenuhnya baru. Metaanalisis tahun 2019 terhadap 11 penelitian juga menemukan bahwa durasi menyusui cenderung lebih pendek pada anak dengan ADHD dibanding kelompok kontrol. Namun, para peneliti saat itu juga menekankan perlunya penelitian longitudinal untuk memahami apakah hubungannya benar-benar bersifat kausal.
Para ahli saat ini merekomendasikan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan, kemudian melanjutkan menyusui hingga usia 2 tahun atau lebih bersama makanan pendamping yang sesuai. Rekomendasi tersebut didasarkan pada manfaat kesehatan dan nutrisi yang luas, bukan pada pencegahan ADHD secara spesifik.
Jadi, studi terbaru ini menambah bukti bahwa durasi menyusui mungkin menjadi salah satu dari banyak faktor yang berkaitan dengan perkembangan gejala ADHD pada masa kanak-kanak. Namun, efeknya kecil dan masih perlu penelitian lebih lanjut.
Referensi

![[QUIZ] Apakah Kamu Punya Kecenderungan ADHD? Cari Tahu di Sini](https://image.idntimes.com/post/20250228/pexels-yankrukov-7314671-34ad38a2ffe93ff890d5524b702be458-82e07f431da68c123414a72f8856cef5.jpg)


![[QUIZ] Tebak Mana Olahraga Low Impact dan High Impact](https://image.idntimes.com/post/20260811/gambar-artikel-88_a0d2c204-98d6-41f0-954e-b4f448a7c9b1.png)



![[QUIZ] Mana yang Lebih Tinggi Natrium? Kamu Bisa Tebak?](https://image.idntimes.com/post/20260804/mwuep2hrca5w9qlbdxkci8rch_0a3c7963-22c0-42a8-afa2-de6c989c3307.png)











