Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Pakai Softlens saat Terpapar Asap Karhutla, Apakah Aman?

Pakai Softlens saat Terpapar Asap Karhutla, Apakah Aman?
ilustrasi memakai softlens (pexels.com/Nataliya Vaitkevich)
  • Asap karhutla dapat membuat lapisan air mata tidak stabil serta memicu mata kering, perih, merah, dan meradang.

  • Jika mata mulai tidak nyaman, softlens sebaiknya dilepas dan sementara diganti dengan kacamata.

  • Jangan membilas softlens dengan air keran. Nyeri, sensitif terhadap cahaya, atau penglihatan mendadak kabur membutuhkan pemeriksaan mata.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Kabut asap karhutla tidak hanya menyebabkan gangguan pernapasan. Mata berkontak langsung dengan udara sehingga asap dan partikulat juga dapat mengenai permukaannya.

Selain mata kering, bagi pengguna softlens, bisa juga terjadi mata terasa seperti berpasir, merah, atau terasa panas setelah berada di luar rumah. Dalam kondisi seperti ini, softlens sebaiknya dilepas dan untuk sementara beralih menggunakan kacamata.

  1. 1. Asap karhutla bisa mengganggu permukaan mata

    Dalam sebuah studi eksperimental, 18 orang dewasa sehat terpapar asap dari pembakaran vegetasi selama 15 menit. Konsentrasi rata-rata PM2.5 dalam eksperimen mencapai 1.903 mikrogram per meter kubik, menggambarkan kondisi paparan yang sangat berat.

    Setelah paparan, peserta mengalami peningkatan rasa kering, tidak nyaman, dan sensasi terbakar. Peneliti juga menemukan lebih banyak kemerahan serta kerusakan ringan pada permukaan kornea dan konjungtiva.

    Tear breakup time—ukuran berapa lama lapisan air mata tetap stabil setelah berkedip—turun dari rata-rata 4,3 detik menjadi 2,8 detik. Kadar interleukin-1β, penanda yang berkaitan dengan peradangan, juga meningkat pada sebagian besar peserta.

    Artinya, asap dapat mengganggu kestabilan lapisan air mata dan memicu respons peradangan pada permukaan mata.

    Namun, penelitian ini kecil dan menggunakan paparan sangat tinggi selama 15 menit. Hasilnya belum memberi tahu secara pasti apa yang terjadi pada paparan karhutla berkadar lebih rendah selama berhari-hari.

  2. 2. Softlens bisa membuat mata terasa makin tidak nyaman

    Penggunaan lensa kontak merupakan salah satu faktor risiko mata kering. Saat kualitas udara buruk, ada masalah tambahan. Partikel dari udara dapat menempel pada permukaan lensa.

    Sebuah penelitian laboratorium menguji enam jenis softlens yang dipaparkan PM10 selama 8 jam. Peneliti menemukan sejumlah logam yang terkandung dalam particulate matter dapat terdeposit pada beberapa jenis lensa. Pada salah satu material, transmisibilitas oksigen juga mengalami perubahan kecil, meski masih berada dalam batas toleransi standar.

    Asap dan partikulat halus dapat terperangkap di sekitar lensa sehingga meningkatkan rasa tidak nyaman dan inflamasi.

  3. 3. Jadi, kapan softlens harus dilepas?

    Ilustrasi softlens sebagai lensa kontak yang digunakan pada mata untuk membantu penglihatan sehari-hari.
    ilustrasi softlens (pexels.com/Nataliya Vaitkevich)

    Tidak ada angka AQI tertentu yang secara universal menetapkan bahwa semua pengguna wajib langsung melepas softlens. Namun, jangan memaksakan penggunaannya ketika muncul:

    • Mata kering atau terasa berpasir.
    • Perih atau sensasi terbakar.
    • Kemerahan.
    • Mata terus berair.
    • Softlens terasa mengganjal.
    • Penglihatan menjadi kabur saat menggunakannya.
    • Keluar cairan yang tidak biasa.
    • Sensitif terhadap cahaya.

    Beralihlah ke kacamata sampai mata kembali nyaman dan kualitas udara membaik. Saat berada di luar, kacamata model wraparound dapat membantu mengurangi paparan langsung partikel pada mata, meski tidak dapat sepenuhnya menghalangi asap.

  4. 4. Mata telanjur perih, apa yang bisa dilakukan?

    Jangan menggosok mata. Gesekan justru dapat memperburuk iritasi permukaan mata, terutama jika terdapat debu atau partikulat.

    Gunakan air mata buatan tanpa pengawet untuk membantu melumasi sekaligus membersihkan partikel dari permukaan mata. Mata juga dapat dibilas menggunakan larutan saline steril.

    Jika menggunakan softlens sekali pakai harian dan sudah dilepas setelah terpapar asap, gunakan set baru ketika ingin kembali memakainya. Untuk lensa yang dapat digunakan kembali, ikuti petunjuk pembersihan dan disinfeksi produk.

    Jangan pernah membersihkan atau menyimpan softlens menggunakan air keran. Air dapat mengandung mikroorganisme yang membahayakan kornea. Selalu menggunakan cairan khusus lensa kontak untuk membersihkan, membilas, dan menyimpannya.

  5. 5. Jangan anggap semua mata perih hanya akibat asap

    Mata yang terasa sedikit kering atau perih akibat asap umumnya membaik setelah paparan berkurang. Namun, pada pengguna softlens ada kondisi lain yang perlu diwaspadai, termasuk infeksi kornea.

    Segera lepas lensa dan periksa ke dokter mata jika muncul nyeri yang berat atau makin memburuk, mata sangat merah, sensitif terhadap cahaya, penglihatan tiba-tiba kabur, keluar cairan dari mata, atau keluhan tidak membaik setelah softlens dilepas. Gejala-gejala dapat menandakan keratitis terkait lensa kontak dan membutuhkan evaluasi segera.

    Jadi, mata yang kering dan perih saat terpapar asap karhutla adalah alahsan kuat untuk mengistirahatkan softlens. Beralihlah ke kacamata untuk sementara, kurangi paparan asap, jangan mengucek mata, serta gunakan pelumas mata untuk memberi kesempatan pada permukaan mata untuk pulih.

    Referensi

    University of New South Wales, “New Research Uncovers How Bushfire Smoke Affects Eye Health,” diakses Agustus 2026.

    Sukanya Jaiswal et al., “Wildfire Smoke Induces Eye Surface Inflammation and Tear Film Changes in a Human Experimental Model,” Translational Vision Science & Technology 14, no. 9 (2025): 13, https://doi.org/10.1167/tvst.14.9.13.

    National Eye Institute, “Dry Eye,” National Institutes of Health, diakses Agustus 2026.

    Won Young Jung, Jin Woo Kim, So Ra Kim, and Mijung Park, “Heavy Metal Deposition and Parameter Change of Soft Contact Lenses by Exposure to Particulate Matter,” BMC Ophthalmology 23 (2023): 423, https://doi.org/10.1186/s12886-023-03154-2.

    American Optometric Association, “‘Unprecedented’ Human Impact of Western Wildfires: How Optometry Is Affected,” diakses Agustus 2026.

    National Eye Institute, “Contact Lenses,” National Institutes of Health, diakses Agustus 2026.

    Centers for Disease Control and Prevention, “What Causes Contact Lens-Related Eye Infections,” diakses Agustus 2026.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More