Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Perut Laki-laki Lebih Mudah Membesar?
ilustrasi perut buncit (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)
  • Laki-laki cenderung lebih sering menumpuk lemak di area perut, terutama lemak viseral yang berada di rongga perut dan mengelilingi organ.

  • Lemak perut lebih berisiko dibanding lemak di bawah kulit karena berkaitan dengan diabetes tipe 2, hipertensi, penyakit jantung, fatty liver, dan gangguan metabolik.

  • Lingkar pinggang dan rasio lingkar pinggang terhadap tinggi badan bisa membantu menilai risiko, bukan hanya angka berat badan atau BMI.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bagi banyak laki-laki, perut membesar kerap dianggap sebagai bagian normal dari bertambahnya usia meski bagian tubuh lain tidak banyak berubah. Di masyarakat, kondisi ini sering dilabeli "perut bapak-bapak" atau tanda hidup nyaman.

Pada banyak laki-laki, lemak lebih sering menumpuk di area perut, terutama sebagai lemak viseral. Ini adalah lemak yang berada lebih dalam di rongga perut dan mengelilingi organ seperti hati, usus, dan pankreas. Ini berbeda dari lemak subkutan, yaitu lemak di bawah kulit yang bisa dicubit.

1. Laki-laki lebih sering menyimpan lemak di perut

Perbedaan distribusi lemak antara laki-laki dan perempuan sudah lama diamati.

Secara umum, perempuan pramenopause cenderung lebih banyak menyimpan lemak di area pinggul dan paha, sedangkan laki-laki lebih cenderung menyimpan lemak di area perut.

Sebuah tinjauan dalam jurnal Biology of Sex Differences menjelaskan bahwa perempuan memiliki persentase lemak tubuh lebih tinggi, tetapi pola penyimpanannya lebih banyak di pinggul dan paha. Pola ini relatif lebih protektif terhadap penyakit metabolik dibanding penumpukan lemak perut.

Pada laki-laki, penumpukan lemak perut dipengaruhi banyak faktor, termasuk hormon seks, genetik, usia, pola makan, aktivitas fisik, dan cara tubuh menyimpan serta memproses lemak.

Sebuah artikel tinjauan dalam jurnal Frontiers in Physiology menjelaskan bahwa perbedaan jenis kelamin dalam pembentukan lemak viseral perut kemungkinan dipengaruhi oleh regulasi hormonal dan metabolisme lemak setelah makan.

Perut laki-laki sering membesar bukan cuma karena kurang melatih perut

Jadi, perut laki-laki lebih sering membesar bukan hanya karena “kurang sit-up”. Sit-up bisa melatih otot perut, tetapi tidak secara spesifik membakar lemak viseral. Yang lebih berpengaruh adalah keseimbangan energi, kualitas makan, aktivitas fisik harian, latihan teratur, tidur, stres, alkohol, dan kondisi metabolik.

Jadi, perut laki-laki lebih sering membesar bukan hanya karena kurang olahraga. Yang lebih berpengaruh adalah keseimbangan energi, kualitas makan, aktivitas fisik harian, latihan teratur, tidur, stres, alkohol, dan kondisi metabolik.

2. Lemak viseral lebih aktif secara metabolik

Lemak viseral lebih aktif secara metabolik dan berkaitan dengan resistansi insulin, peradangan kronis, gangguan lemak darah, serta tekanan darah tinggi.

Kelebihan berat badan (overweight) dan obesitas meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, terutama jika lemak ekstra banyak tersimpan di sekitar pinggang. Risiko ini mencakup diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, stroke, sindrom metabolik, perlemakan hati (fatty liver), sleep apnea, osteoartritis, gout, penyakit ginjal, hingga beberapa kanker.

Karena itu, dua orang dengan berat badan yang sama bisa punya risiko kesehatan yang berbeda jika distribusi lemaknya berbeda. Orang yang lemak perutnya lebih banyak bisa memiliki risiko metabolik lebih tinggi dibanding orang yang lemaknya lebih banyak di pinggul atau paha.

Inilah alasan indeks massa tubuh (IMT atau BMI) tidak bisa menjadi satu-satunya acuan. Saat menilai kesehatan seseorang, BMI adalah ukuran skrining, bukan diagnosis tunggal, dan perlu dipertimbangkan bersama faktor lain.

3. Lingkar pinggang bisa memberi petunjuk risiko

ilustrasi perut buncit (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)

Buat laki-laki, lingkar pinggang perlu diperhatikan. Apabila sebagian besar lemak berada di pinggang, risiko penyakit jantung dan diabetes tipe 2 lebih tinggi. Lingkar pinggang lebih dari 40 inci atau sekitar 102 cm dikaitkan dengan peningkatan risiko.

Namun, untuk populasi Asia, batas yang sering digunakan lebih rendah. Pada sebagian besar orang dewasa Asia, obesitas sentral didefinisikan sebagai lingkar pinggang 90 cm atau lebih pada laki-laki dan 80 cm atau lebih pada perempuan.

Cara lain yang makin sering dipakai adalah rasio lingkar pinggang terhadap tinggi badan. Orang dewasa dengan BMI di bawah 35 kg/m² disarankan mengukur rasio ini untuk memperkirakan adipositas sentral. Rasio 0,5–0,59 menunjukkan peningkatan risiko, sedangkan 0,6 atau lebih menunjukkan risiko yang lebih tinggi.

Usahakan lingkar pinggang kurang dari setengah tinggi badan.

4. Perut buncit bisa membaik, tetapi perlu strategi yang realistis

Ada kabar baik, lemak viseral cukup responsif terhadap perubahan gaya hidup. Sebuah pernyataan konsensus dalam jurnal Nature Reviews Endocrinology menekankan bahwa lingkar pinggang sebaiknya diperlakukan seperti tanda vital dalam praktik klinis karena memberi informasi tambahan di luar BMI, dan penurunan lingkar pinggang merupakan target penting untuk menurunkan risiko kesehatan.

Langkah pertama, buatlah defisit energi yang masuk akal. Kurangi minuman manis, alkohol, camilan tinggi kalori, porsi makan berlebihan pada malam hari, serta makanan ultraproses. Prioritaskan protein, sayur, buah utuh, biji-bijian, dan sumber lemak sehat agar kenyang lebih lama.

Olahraga juga perlu kombinasi. Latihan aerobik seperti jalan cepat, joging, bersepeda, berenang, atau olahraga intensitas sedang membantu menurunkan lemak tubuh. Menurut studi, latihan aerobik setidaknya 150 menit per minggu berkaitan dengan penurunan bermakna pada lingkar pinggang dan ukuran lemak tubuh pada orang dewasa dengan overweight atau obesitas.

Latihan kekuatan juga penting karena membantu mempertahankan massa otot, membuat tubuh lebih fungsional, dan mendukung metabolisme jangka panjang.

5. Kapan perlu cek kesehatan?

Jangan meremehkan perut buncit jika kamu juga mengalami tekanan darah tinggi, gula darah naik, trigliserida tinggi, HDL rendah, perlemakan hati, mendengkur, mudah mengantuk pada siang hari, cepat lelah, atau riwayat keluarga diabetes dan penyakit jantung.

Pemeriksaan dasar yang bisa dipertimbangkan meliputi lingkar pinggang, BMI, tekanan darah, gula darah puasa atau HbA1c, profil lipid, fungsi hati, dan jika perlu evaluasi sleep apnea. Komorbiditas perlu diidentifikasi dan ditangani segera setelah overweight atau obesitas dinilai, tidak perlu menunggu berat badan turun dulu.

Referensi

Nauli, Andromeda M., and Sahar Matin. “Why Do Men Accumulate Abdominal Visceral Fat?” Frontiers in Physiology 10 (2019): 1486.

Karastergiou, Kalypso, Steven R. Smith, Andrew S. Greenberg, and Susan K. Fried. “Sex Differences in Human Adipose Tissues—The Biology of Pear Shape.” Biology of Sex Differences 3, no. 1 (2012): 13.

Ross, Robert, Ian J. Neeland, Shizuya Yamashita, et al. “Waist Circumference as a Vital Sign in Clinical Practice: A Consensus Statement from the IAS and ICCR Working Group on Visceral Obesity.” Nature Reviews Endocrinology 16 (2020): 177–189.

Centers for Disease Control and Prevention. “Adult BMI Categories.” Diakses Juli 2026.

National Heart, Lung, and Blood Institute. “Heart-Healthy Living: Aim for a Healthy Weight.” Diakses Juli 2026.

National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. “Health Risks of Overweight & Obesity.” Diakses Juli 2026.

National Institute for Health and Care Excellence. “Identifying and Assessing Overweight, Obesity and Central Adiposity.” In Overweight and Obesity Management. NICE Guideline NG246. Diakses Juli 2026.

Centre for Health Protection, Department of Health, Hong Kong SAR. “Waist Size, Body Shape and Health.” Non-Communicable Diseases Watch, February 2025.

Jayedi, Ahmad, et al. “Aerobic Exercise and Weight Loss in Adults: A Systematic Review and Dose-Response Meta-Analysis.” JAMA Network Open 7, no. 12 (2024).

Curated For You

Editorial Team

Related Article