Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kenapa Risiko Penyakit saat Haji Lebih Tinggi Dibanding Umrah?
Ribuan jemaah calon haji masih bermukim di Madinah, Arab Saudi, sebelum mereka menuju puncak haji di Mekkah, Arab Saudi, Selasa (13/5/2025). (Media Center Haji/Rochmanudin)
  • Haji memiliki risiko penyakit lebih tinggi dibanding umrah karena jumlah jemaah yang jauh lebih besar dan kepadatan ekstrem meningkatkan peluang penularan virus serta bakteri.
  • Aktivitas fisik saat haji jauh lebih berat, melibatkan perjalanan panjang, kurang tidur, dan paparan panas yang menurunkan daya tahan tubuh serta memicu kelelahan.
  • Infeksi saluran pernapasan, dehidrasi, dan heat exhaustion menjadi masalah kesehatan paling umum selama haji, terutama pada jemaah lansia atau dengan penyakit kronis.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Umrah dan haji sama-sama dilakukan di Tanah Suci, tetapi beban fisik dan risikonya tidak sama. Banyak jemaah merasa tubuh lebih cepat lelah, lebih mudah batuk pilek, atau lebih rentan dehidrasi saat haji dibanding ketika umrah.

Perbedaannya bukan cuma soal durasi. Haji dilakukan dalam waktu yang sangat terbatas, dengan jutaan orang berkumpul di lokasi yang sama dan bergerak pada waktu yang hampir bersamaan. Dalam situasi seperti itu, tubuh harus menghadapi panas, kelelahan, kurang tidur, keramaian, dan risiko penularan penyakit dalam waktu bersamaan.

1. Jumlah jemaah haji jauh lebih besar

Umrah bisa dilakukan sepanjang tahun, sehingga keramaian relatif lebih tersebar. Sebaliknya, haji berlangsung hanya pada waktu tertentu dan diikuti jutaan orang secara bersamaan.

Haji termasuk salah satu pertemuan massal terbesar di dunia. Dalam beberapa hari, mungkin lebih dari dua juta jemaah dari ratusan negara berkumpul di area yang relatif terbatas. Kepadatan seperti ini membuat risiko penularan virus dan bakteri jauh lebih tinggi dibanding saat umrah.

Pada puncak ritual haji, terutama di Mina, Arafah, Muzdalifah, dan area sekitar Masjidil Haram, jemaah bisa berada sangat berdekatan. Di Mina, satu tenda bisa diisi puluhan orang, sedangkan di Masjidil Haram kepadatan dapat mencapai sekitar enam orang per meter persegi. Kondisi ini membuat orang lebih mudah terkena batuk, pilek, influenza, dan infeksi pernapasan lainnya.

2. Aktivitas fisik saat haji lebih berat

Umrah umumnya selesai dalam hitungan jam atau beberapa hari. Sementara itu, haji berlangsung lebih lama dan melibatkan perpindahan lokasi yang berulang, seperti dari Makkah ke Mina, Arafah, Muzdalifah, lalu kembali lagi.

Jemaah juga harus berjalan jauh, berdiri lama, menunggu antrean, dan tidur lebih sedikit dibanding biasanya. Kombinasi kelelahan fisik, kurang tidur, dan stres panas dapat membuat daya tahan tubuh turun.

Kelelahan, kurang tidur, dan heat stress menjadi faktor penting yang meningkatkan risiko infeksi selama haji. Ketika tubuh terlalu lelah, kemampuan sistem imun untuk melawan virus dan bakteri ikut menurun.

3. Risiko infeksi saluran pernapasan lebih tinggi

ilustrasi jemaah haji di Ka'bah Mekkah (commons.wikimedia.org/Adliwahid)

Infeksi saluran pernapasan adalah masalah kesehatan yang paling sering terjadi saat haji. Batuk, pilek, sakit tenggorokan, hingga pneumonia jauh lebih sering ditemukan dibanding saat umrah.

Tinjauan sistematis menemukan bahwa gejala seperti batuk, sakit tenggorokan, dan demam sangat umum dialami jemaah haji. Dalam beberapa kelompok jemaah, angka batuk bahkan bisa mencapai lebih dari 90 persen. Influenza, rhinovirus, dan bakteri seperti Streptococcus pneumoniae termasuk penyebab yang paling sering ditemukan.

Di fasilitas kesehatan haji, infeksi saluran napas bahkan menjadi salah satu penyebab rawat inap paling sering. Pneumonia juga menyumbang sebagian besar kasus yang butuh perawatan intensif.

4. Risiko heat exhaustion dan dehidrasi lebih besar

Haji sering berlangsung dalam cuaca yang sangat panas. Banyak ritual dilakukan di luar ruangan, sementara jemaah harus berjalan jauh dan berada di tengah kerumunan.

Pada musim haji 2024, ribuan jemaah tercatat mengalami heat exhaustion dan heat stroke. Sebagian besar kasus terjadi pada jemaah lansia dan mereka yang memiliki penyakit kronis.

Paparan panas ekstrem tidak hanya membuat tubuh cepat lelah, tetapi juga meningkatkan risiko pusing, mual, dehidrasi, gangguan ginjal, bahkan penurunan kesadaran. Risiko ini biasanya lebih rendah saat umrah karena waktu pelaksanaannya lebih fleksibel dan jumlah orang tidak sebanyak haji.

5. Jemaah haji sering lebih rentan

Banyak jemaah haji berasal dari kelompok usia yang lebih tua. Sebagian juga memiliki hipertensi, diabetes, penyakit jantung, atau gangguan paru.

Kondisi ini membuat tubuh lebih sulit beradaptasi dengan panas, keramaian, dan kurang tidur. Karena itu, penyakit ringan yang mungkin tidak terlalu mengganggu saat umrah bisa terasa lebih berat saat haji.

Dalam forum online, tak sedikit jemaah melaporkan batuk, pilek, kelelahan, dan sakit tenggorokan sangat sering dialami setelah beberapa hari berada di tengah kerumunan haji atau umrah. Namun, banyak yang merasa gejalanya lebih berat saat haji karena kondisi fisik lebih terkuras dan paparan kerumunan lebih intens.

Haji memang bukan cuma perjalanan spiritual, tetapi juga tantangan fisik yang besar. Dibanding umrah, risiko penyakit saat haji lebih tinggi karena jumlah jemaah lebih banyak, aktivitas lebih berat, dan paparan panas serta infeksi lebih besar.

Karena itu, persiapan kesehatan sebelum berangkat sangat penting. Vaksinasi, istirahat yang cukup, menjaga kebersihan tangan, memakai masker di area padat, serta minum cukup air dapat membantu menurunkan risiko sakit selama menjalani ibadah haji.

Referensi

Samir Benkouiten et al., “Clinical Respiratory Infections and Pneumonia During the Hajj Pilgrimage: A Systematic Review,” Travel Medicine and Infectious Disease 28 (December 4, 2018): 15–26, https://doi.org/10.1016/j.tmaid.2018.12.002.

Phillipe Gautret et al., “Hajj-associated Viral Respiratory Infections: A Systematic Review,” Travel Medicine and Infectious Disease 14, no. 2 (December 31, 2015): 92–109, https://doi.org/10.1016/j.tmaid.2015.12.008.

AbdulazizH Alzeer, “Respiratory Tract Infection During Hajj,” Annals of Thoracic Medicine 4, no. 2 (January 1, 2009): 50, https://doi.org/10.4103/1817-1737.49412.

Darin Mansor Mathkor et al., “Respiratory and Gastrointestinal Infections Among Hajj Pilgrims During the 2012–2025 Seasons: A Systematic Review,” Journal of Infection and Public Health 18, no. 11 (September 3, 2025): 102951, https://doi.org/10.1016/j.jiph.2025.102951.

Z.A. Memish et al., “Mass Gathering and Globalization of Respiratory Pathogens During the 2013 Hajj,” Clinical Microbiology and Infection 21, no. 6 (February 18, 2015): 571.e1-571.e8, https://doi.org/10.1016/j.cmi.2015.02.008.

Parvaiz A. Koul et al., “Respiratory Viruses in Returning Hajj &Amp; Umrah Pilgrims With Acute Respiratory Illness in 2014-2015,” The Indian Journal of Medical Research 148, no. 3 (September 1, 2018): 329–33, https://doi.org/10.4103/ijmr.ijmr_890_17.

Editorial Team