Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

6 Bahaya Nyata Minum Terlalu Banyak Air, Jangan Berlebihan

6 Bahaya Nyata Minum Terlalu Banyak Air, Jangan Berlebihan
ilustrasi seseorang minum air putih (pexels.com/RDNE Stock project)
Intinya Sih
  • Minum air berlebihan bisa menyebabkan hiponatremia, yaitu kadar natrium darah terlalu rendah yang memicu pembengkakan sel dan gangguan fungsi tubuh.
  • Kelebihan cairan dapat membebani ginjal, menimbulkan keracunan air, serta menyebabkan penumpukan cairan di otak dan organ lain hingga berisiko fatal.
  • Pakar menyarankan minum sesuai rasa haus dan memperhatikan warna urine sebagai indikator hidrasi agar keseimbangan cairan tubuh tetap terjaga.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Selama ini air dianggap sebagai obat paling mujarab untuk segala kondisi, baik untuk mencegah penyakit maupun sebagai pemulihan penyakit. Maka tak heran apabila selama ini kamu sering mendengar nasihat untuk minum air putih sebanyak-banyaknya.

Namun, apakah minum air putih dalam jumlah yang besar baik bagi tubuh? Kenyataannya tidak begitu. Asupan cairan yang berlebihan justru dapat membuat kamu merasa tidak nyaman bahkan menimbulkan sejumlah dampak negatif yang tidak bisa disepelekan.

Ketahui apa saja dampak nyata akibat terlalu banyak mengonsumsi air bagi kesehatan.

Table of Content

1. Risiko hiponatremia

1. Risiko hiponatremia

Bahaya paling terkenal dan paling serius dari minum terlalu banyak air adalah hiponatremia, yaitu kondisi ketika kadar natrium (sodium) dalam darah menjadi terlalu rendah.

Natrium adalah elektrolit penting yang membantu mengatur keseimbangan cairan, fungsi saraf, serta kontraksi otot. Kalau kamu minum air dalam jumlah yang sangat banyak dalam waktu singkat, darah menjadi terlalu encer sehingga konsentrasi natrium menurun.

Kadar natrium yang terlalu rendah dapat mengganggu perpindahan cairan antara darah dan sel-sel tubuh. Akibatnya, air masuk ke dalam sel dan membuatnya membengkak.

Masalahnya, tidak semua organ memiliki ruang untuk mengembang. Otak berada di dalam tengkorak yang kaku sehingga pembengkakan sedikit saja dapat menimbulkan konsekuensi besar.

Gejala awal hiponatremia sering kali tampak ringan, seperti:

  • Mual.
  • Sakit kepala.
  • Kelelahan.
  • Kebingungan.
  • Sulit berkonsentrasi.

Namun, ketika kadar natrium terus turun, kondisi dapat berkembang menjadi:

  • Kejang.
  • Penurunan kesadaran.
  • Koma.
  • Kematian.

Sebuah studi menyebut hiponatremia akibat konsumsi air berlebihan sebagai salah satu gangguan elektrolit yang paling sering ditemukan pada aktivitas ketahanan ekstrem seperti maraton dan triatlon.

2. Pembengkakan otak yang bisa mengancam nyawa

Hiponatremia menjadi berbahaya karena efek lanjutannya terhadap otak. Saat kadar natrium darah turun, air bergerak masuk ke sel otak melalui proses osmosis. Sel-sel otak kemudian membengkak, kondisi yang disebut sebagai edema serebri.

Pada orang dewasa, tengkorak tidak dapat mengembang mengikuti pembengkakan tersebut. Akibatnya, tekanan di dalam kepala meningkat.

Pembengkakan otak akibat hiponatremia akut dapat menyebabkan herniasi otak, yaitu kondisi ketika jaringan otak terdorong dari posisi normalnya karena tekanan yang sangat tinggi. Ini merupakan keadaan darurat medis yang dapat berujung fatal. Inilah alasan mengapa seseorang yang terlihat hanya kebanyakan minum air bisa mengalami kejang atau kehilangan kesadaran secara mendadak.

3. Meningkatkan risiko keracunan air

Seorang pria duduk bersila di jalan sambil minum air putih dari botol plastik besar dengan latar belakang alam terbuka.
ilustrasi minum air putih dalam jumlah banyak sekaligus (pexels.com/Gustavo Fring)

Keracunan air? Kok, bisa!?

Dalam dunia medis, istilah ini digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika konsumsi air yang berlebihan menyebabkan gangguan fungsi tubuh akibat pengenceran elektrolit secara ekstrem.

Keracunan air (water intoxication) bukan berarti tubuh keracunan oleh zat beracun dalam air, melainkan kondisi hilangnya keseimbangan antara cairan dan elektrolit. Risiko ini paling sering ditemukan pada:

  • Pelari maraton.
  • Peserta ultramaraton.
  • Atlet triatlon.
  • Personel militer dalam latihan berat.
  • Individu yang memaksa minum melebihi rasa haus.

Dalam beberapa kasus yang dilaporkan dalam literatur medis, korban mengonsumsi beberapa liter air dalam waktu sangat singkat hingga ginjal tidak mampu membuang kelebihan cairan secepat itu.

4. Membebani kerja ginjal

Ginjal punya kemampuan untuk mengatur keseimbangan cairan tubuh. Pada orang sehat, ginjal dapat membuang sekitar 0,8 hingga 1 liter cairan per jam, meskipun angka ini dapat bervariasi tergantung kondisi individu. Namun, bisa muncul masalah ketika asupan cairan jauh melampaui kapasitas tersebut.

Jika air masuk lebih cepat daripada kemampuan ginjal untuk mengeluarkannya, cairan mulai menumpuk dalam tubuh dan meningkatkan risiko hiponatremia.

Tubuh memiliki sistem regulasi yang sangat efektif melalui rasa haus dan hormon antidiuretik. Karena itu, kebanyakan orang sebenarnya tidak perlu memaksakan diri minum melebihi kebutuhan tubuh.

5. Menyebabkan gangguan saraf dan fungsi mental

Otak sangat sensitif terhadap perubahan kadar natrium. Ketika natrium menurun, aktivitas listrik sel saraf menjadi terganggu. Akibatnya, seseorang dapat mengalami berbagai gejala neurologis.

Beberapa tanda yang perlu diwaspadai meliputi:

  • Linglung.
  • Sulit fokus.
  • Perubahan perilaku.
  • Bicara tidak jelas.
  • Gangguan keseimbangan.
  • Kejang.

Yang membuat kondisi ini berbahaya adalah gejalanya sering dikira kelelahan biasa atau dehidrasi.

Dalam sejumlah kasus pada atlet, gejala awal hiponatremia bahkan sempat dianggap sebagai tanda kurang minum sehingga korban justru diberi lebih banyak air. Padahal, kondisi yang terjadi adalah kebalikannya.

6. Cairan bisa menumpuk di organ tubuh

Seorang pria mengenakan kaus hitam sedang minum air putih dari botol besar di luar ruangan dengan latar belakang taman dan tembok.
ilustrasi minum air putih dalam jumlah banyak (pexels.com/mauricio mascaro)

Pada kasus yang berat, kelebihan cairan tidak hanya memengaruhi otak. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit dapat menyebabkan penumpukan cairan pada berbagai jaringan tubuh. Kondisi ini dapat menyebabkan:

  • Tangan dan kaki bengkak.
  • Kembung.
  • Peningkatan berat badan mendadak.
  • Sesak napas akibat penumpukan cairan di paru-paru pada kasus tertentu.

Risiko ini lebih tinggi pada orang yang memiliki penyakit ginjal, gagal jantung, atau gangguan hati karena kemampuan tubuh mengatur cairan sudah terganggu sejak awal.

Jadi, berapa jumlah air yang terlalu banyak?

Tidak ada satu angka yang berlaku untuk semua orang. Kebutuhan cairan dipengaruhi oleh:

  • Berat badan.
  • Aktivitas fisik.
  • Cuaca.
  • Kondisi kesehatan.
  • Kehamilan dan menyusui.
  • Konsumsi makanan.

Karena itu, target umum seperti harus 2 liter sehari belum tentu cocok untuk semua orang.

Banyak ahli kini menekankan bahwa rasa haus merupakan indikator biologis yang baik bagi kebanyakan orang sehat.

Warna urine juga bisa menjadi petunjuk. Urine kuning pucat umumnya menandakan hidrasi yang baik, sedangkan urine yang selalu bening seperti air sepanjang hari dapat menjadi tanda bahwa kamu minum lebih banyak dari yang dibutuhkan.

Minum air putih lebih banyak tidak selalu berarti lebih baik. Ketika dikonsumsi secara berlebihan, terutama dalam waktu singkat, air dapat mengencerkan natrium dalam darah dan memicu hiponatremia. Kondisi ini berpotensi menyebabkan pembengkakan otak, gangguan saraf, kejang, hingga kematian pada kasus ekstrem.

Kabar baiknya, kondisi ini relatif jarang terjadi pada orang sehat yang minum sesuai rasa haus dan kebutuhan tubuh.

Pendekatan hidrasi yang lebih aman adalah mendengarkan sinyal tubuh, menyesuaikan asupan cairan dengan aktivitas, serta memperhatikan tanda-tanda hidrasi yang sebenarnya.

Referensi

William G. Schucany, “Exercise-Associated Hyponatremia,” Baylor University Medical Center Proceedings 20, no. 4 (October 1, 2007): 398–401, https://doi.org/10.1080/08998280.2007.11928331.

Mark Klingert et al., “Exercise-Associated Hyponatremia in Marathon Runners,” Journal of Clinical Medicine 11, no. 22 (November 16, 2022): 6775, https://doi.org/10.3390/jcm11226775.

Christopher S.D. Almond et al., “Hyponatremia Among Runners in the Boston Marathon,” New England Journal of Medicine 352, no. 15 (April 13, 2005): 1550–56, https://doi.org/10.1056/nejmoa043901.

“Hyponatremia in Athletes - Gatorade Sports Science Institute,” Gatorade Sports Science Institute, n.d., https://www.gssiweb.org/sports-science-exchange/article/sse-88-hyponatremia-in-athletes.

Tamara Hew-Butler et al., “Statement of the Third International Exercise-Associated Hyponatremia Consensus Development Conference, Carlsbad, California, 2015,” Clinical Journal of Sport Medicine 25, no. 4 (June 23, 2015): 303–20, https://doi.org/10.1097/jsm.0000000000000221.

National Kidney Foundation. “Hyponatremia (Low Sodium Level in the Blood).” Diakses Juni 2026.

National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine. "Dietary Reference Intakes for Water, Potassium, Sodium, Chloride, and Sulfate." Washington, DC: National Academies Press, 2005. Diakses Juni 2026.

Joseph G. Verbalis et al., “Diagnosis, Evaluation, and Treatment of Hyponatremia: Expert Panel Recommendations,” The American Journal of Medicine 126, no. 10 (September 25, 2013): S1–42, https://doi.org/10.1016/j.amjmed.2013.07.006.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Febrianti Diah Kusumaningrum
Nuruliar F
Febrianti Diah Kusumaningrum
EditorFebrianti Diah Kusumaningrum

Related Articles

See More