Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Warna Keputihan Berubah Jadi Hijau, Apa Penyebabnya?

Warna Keputihan Berubah Jadi Hijau, Apa Penyebabnya?
ilustrasi penyebab keputihan berwarna hijau (pexels.com/Sora Shimazaki)
Intinya Sih
  • Keputihan berwarna hijau umumnya bukan keputihan normal dan sering kali menandakan adanya infeksi.

  • Penyebab tersering meliputi trikomoniasis, gonore, dan infeksi campuran pada vagina atau serviks.

  • Keputihan hijau yang disertai bau menyengat, nyeri, gatal, atau perdarahan perlu segera diperiksakan ke dokter.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Keputihan, jika normal, merupakan bagian dari mekanisme alami tubuh. Cairan ini membantu menjaga kelembapan vagina, membersihkan sel-sel mati, dan mempertahankan keseimbangan mikroorganisme yang sehat. Namun, ketika warna keputihan berubah menjadi hijau, terutama jika disertai bau tidak sedap atau rasa tidak nyaman, ini tak lagi bisa dianggap normal.

Keputihan berwarna hijau sering berkaitan dengan infeksi pada vagina atau saluran reproduksi. Karena penyebabnya beragam, penting untuk memahami apa saja kondisi yang dapat menyebabkan perubahan warna tersebut.

Table of Content

Seperti apa keputihan yang normal?

Seperti apa keputihan yang normal?

Sebelum membahas penyebab keputihan hijau, penting untuk mengetahui seperti apa keputihan yang normal.

Ciri-ciri keputihan yang normal di antaranya:

  • Berwarna bening atau putih susu.
  • Tidak berbau menyengat.
  • Tidak menimbulkan gatal atau nyeri.
  • Jumlahnya dapat berubah mengikuti siklus menstruasi.

Variasi ringan dalam jumlah dan konsistensi keputihan merupakan hal yang wajar. Namun, perubahan warna menjadi hijau, kuning kehijauan, atau abu-abu biasanya perlu perhatian lebih lanjut.

Ketahui apa saja kemungkinan penyebab keputihan berwarna hijau di bawah ini.

1. Trikomoniasis

Trikomoniasis merupakan salah satu penyebab paling umum keputihan berwarna hijau.

Penyakit ini disebabkan oleh parasit Trichomonas vaginalis dan termasuk infeksi menular seksual (IMS) yang paling umum.

Perempuan yang mengalami trikomoniasis dapat mengalami:

  • Keputihan hijau atau kuning kehijauan.
  • Keputihan berbusa.
  • Bau tidak sedap.
  • Gatal atau iritasi pada vagina.
  • Nyeri saat buang air kecil.
  • Nyeri saat berhubungan seksual.

Yang membuat trikomoniasis sering luput dikenali adalah tidak kasus bergejala. Diperkirakan sekitar 70 persen orang yang terinfeksi tidak menunjukkan keluhan yang jelas.

Trikomoniasis juga berkaitan dengan peningkatan risiko infeksi HIV dan komplikasi kehamilan jika tidak ditangani.

2. Gonore

Ilustrasi organ reproduksi perempuan dengan cairan keputihan berwarna hijau keluar dari vagina di latar berwarna merah muda.
ilustrasi keputihan berwarna hijau (IDN Times/NRF)

Gonore disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae yang menginfeksi serviks, uretra, rektum, atau tenggorokan.

Pada perempuan, gejalanya dapat berupa:

  • Keputihan berwarna kuning atau hijau.
  • Nyeri panggul.
  • Sensasi terbakar saat buang air kecil.
  • Perdarahan di luar jadwal menstruasi.

Gonore yang tidak diobati dapat menyebar ke organ reproduksi bagian atas dan menyebabkan penyakit radang panggul, yang berisiko mengganggu kesuburan.

3. Penyakit radang panggul

Penyakit radang panggul bukanlah satu jenis infeksi tertentu, melainkan komplikasi akibat infeksi bakteri yang naik dari vagina atau serviks menuju rahim, tuba falopi, dan ovarium. Gonore dan klamidia merupakan penyebab tersering.

Gejalanya meliputi:

  • Keputihan abnormal berwarna hijau atau kuning.
  • Nyeri perut bagian bawah.
  • Demam.
  • Nyeri saat berhubungan seksual.
  • Perdarahan tidak normal.

Penyakit radang panggul yang terlambat ditangani dapat meningkatkan risiko infertilitas, kehamilan ektopik, dan nyeri panggul kronis.

4. Servisitis

Servisitis adalah peradangan pada leher rahim (serviks).

Kondisi ini dapat dipicu oleh gonore, klamidia, trikomoniasis, dan infeksi bakteri lainnya.

Servisitis dapat menyebabkan peningkatan produksi cairan serviks sehingga keputihan tampak lebih banyak, berwarna kuning atau hijau, dan kadang bercampur darah.

Sebagian perempuan tidak mengalami gejala yang jelas sehingga untuk diagnosis sering perlu pemeriksaan oleh dokter.

5. Beberapa infeksi pada vagina

Seorang perempuan mengenakan kemeja merah muda dan celana pendek merah marun berdiri dengan tangan menutupi area panggul.
ilustrasi seorang perempuan mengalami infeksi pada vagina (vecteezy.com/114902090457753899543)

Dalam praktik klinis, tidak semua keputihan hijau disebabkan oleh satu jenis infeksi. Penelitian menunjukkan, sebagian perempuan mengalami infeksi campuran yang melibatkan lebih dari satu mikroorganisme sekaligus.

Misalnya:

  • Trikomoniasis dan vaginosis bakterialis.
  • Gonore dan klamidia.
  • Vaginosis bakterialis dengan infeksi bakteri lainnya.

Ketika beberapa infeksi terjadi bersamaan, warna, bau, dan tekstur keputihan dapat menjadi lebih bervariasi, termasuk tampak hijau.

6. Benda asing yang tertinggal di vagina

Meski lebih jarang, tetapi benda asing yang tertinggal di vagina juga dapat menyebabkan keputihan berwarna hijau.

Contohnya pada kasus tampon yang lupa dilepas, menstrual sponge, atau kondom yang tertinggal.

Benda asing dapat memicu pertumbuhan bakteri berlebihan dan menyebabkan:

  • Keputihan berwarna hijau atau cokelat.
  • Bau menyengat.
  • Iritasi vagina.

Dalam beberapa kasus, kondisi ini memerlukan tindakan medis untuk mengeluarkan benda tersebut secara aman.

Apakah infeksi jamur bisa menyebabkan keputihan hijau?

Banyak orang mengira semua keputihan abnormal disebabkan oleh infeksi jamur. Padahal, infeksi jamur vagina (vulvovaginal candidiasis) biasanya menghasilkan keputihan dengan ciri-ciri:

  • Berwarna putih.
  • Kental seperti keju cottage.
  • Disertai gatal.

Warna hijau bukan karakteristik khas infeksi jamur. Karena itu, keputihan hijau lebih sering mengarah pada infeksi bakteri atau parasit dibanding infeksi jamur.

Kapan harus segera ke dokter?

Seorang dokter mengenakan masker berbicara dengan pasien yang juga memakai masker di ruang konsultasi medis modern.
ilustrasi seorang pasien berkonsultasi dengan dokter (pexels.com/SHVETS production)

Segera periksakan diri ke dokter jika keputihan hijau disertai:

  • Bau amis atau menyengat.
  • Nyeri panggul.
  • Demam.
  • Nyeri saat buang air kecil.
  • Nyeri saat berhubungan seksual.
  • Perdarahan di luar menstruasi.
  • Keluhan yang tidak membaik dalam beberapa hari.

Pemeriksaan laboratorium sering diperlukan untuk memastikan penyebabnya karena gejala berbagai infeksi sering kali tumpang tindih.

Cara mencegah keputihan akibat infeksi

Tidak semua kasus dapat dicegah, tetapi beberapa langkah ini dapat membantu menurunkan risikonya:

  • Gunakan kondom saat berhubungan seksual.
  • Setia pada satu pasangan.
  • Tidak melakukan vaginal douching.
  • Menjaga area genital tetap bersih dan kering.
  • Melakukan pemeriksaan kesehatan seksual secara berkala jika memiliki faktor risiko.

Deteksi dini dan pengobatan yang tepat sangat penting untuk mencegah komplikasi jangka panjang akibat infeksi saluran reproduksi.

Keputihan berwarna hijau umumnya bukan bagian dari variasi normal keputihan. Kondisi ini paling sering berkaitan dengan infeksi, terutama trikomoniasis, gonore, servisitis, atau infeksi campuran pada vagina dan serviks.

Karena beberapa penyebabnya termasuk infeksi menular seksual yang dapat menimbulkan komplikasi serius jika tidak diobati, perubahan warna keputihan menjadi hijau sebaiknya tidak diabaikan. Pemeriksaan medis diperlukan untuk memastikan penyebabnya dan menentukan pengobatan yang sesuai.

Referensi

Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Sexually Transmitted Infections Treatment Guidelines, 2021. Atlanta, GA: CDC, 2021. Diakses Juni 2026.

CDC. “About Trichomoniasis.” Updated 2025. Diakses Juni 2026.

CDC. “About Gonorrhea.” Updated 2025. Diakses Juni 2026.

American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG). “Vaginitis.” ACOG Patient FAQ. Diakses Juni 2026.

ACOG. “Pelvic Inflammatory Disease.” ACOG Patient FAQ. Diakses Juni 2026.

Kimberly A. Workowski et al., “Sexually Transmitted Infections Treatment Guidelines, 2021,” MMWR Recommendations and Reports 70, no. 4 (July 22, 2021): 1–187, https://doi.org/10.15585/mmwr.rr7004a1.

Patricia Kissinger, “Trichomonas Vaginalis: A Review of Epidemiologic, Clinical and Treatment Issues,” BMC Infectious Diseases 15, no. 1 (August 4, 2015): 307, https://doi.org/10.1186/s12879-015-1055-0.

Olivia T. Van Gerwen and Christina A. Muzny, “Recent Advances in the Epidemiology, Diagnosis, and Management of Trichomonas Vaginalis Infection,” F1000Research 8 (September 20, 2019): 1666, https://doi.org/10.12688/f1000research.19972.1.

Jack D. Sobel et al., “Mixed Vaginitis—More Than Coinfection and With Therapeutic Implications,” Current Infectious Disease Reports 15, no. 2 (January 25, 2013): 104–8, https://doi.org/10.1007/s11908-013-0325-5.

National Institute for Health and Care Excellence (NICE). "Pelvic Inflammatory Disease: Antimicrobial Prescribing." London: NICE, 2019. Diakses Juni 2026.

World Health Organization. "Global Health Sector Strategies on HIV, Viral Hepatitis and Sexually Transmitted Infections 2022–2030." Geneva: WHO, 2022. Diakses Juni 2026.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
Izza Namira
3+
Nuruliar F
EditorNuruliar F

Related Articles

See More