Consensus. Diakses pada Januari 2026. "Side Effects of High Blood Pressure Medications."
GoodRx. Diakses pada Januari 2026. "7 Side Effects of Blood Pressure Medications You Should Know About."
Medical News Today. Diakses pada Januari 2026. "Blood Pressure Medications: Options and Side Effects."
WebMD. Diakses pada Januari 2026. "Side Effects of High Blood Pressure Medications."
7 Efek Samping Obat Darah Tinggi atau Hipertensi

- Obat darah tinggi dapat menyebabkan efek samping seperti sering buang air kecil, pusing, dan sakit kepala.
- Kelelahan, mual, diare atau sembelit, serta batuk kering juga merupakan efek samping yang mungkin terjadi akibat obat hipertensi.
- Penting untuk mengenali sinyal tubuh, tidak panik berlebihan, dan selalu berkonsultasi dengan tenaga medis sebelum mengambil keputusan terkait pengobatan hipertensi.
Tekanan darah tinggi atau hipertensi dijuluki silent killer karena gejalanya nyaris tak terasa, tetapi dampaknya sangat serius bagi jantung, otak, dan ginjal. Karena itu, banyak orang harus rutin minum obat setiap hari demi menjaga tekanan darah tetap stabil. Obat-obatan ini memang sangat membantu, tetapi bukan berarti tanpa efek samping.
Di tengah manfaatnya, sebagian orang merasakan perubahan pada tubuh setelah minum obat hipertensi, mulai dari sering buang air kecil, pusing saat berdiri, sampai sakit kepala yang muncul tiba-tiba. Keluhan-keluhan ini bisa membuat orang bertanya-tanya tentang kecocokan dan keamanan obat.
Yuk, ketahui apa saja potensi efek samping obat darah tinggi yang paling umum, kenapa bisa terjadi, dan bagaimana cara mengatasinya dengan lebih tenang dan bijak.
1. Sering buang air kecil
Obat diuretik, salah satu jenis obat hipertensi, bekerja dengan cara membantu ginjal membuang kelebihan garam dan cairan dari tubuh. Akibatnya, produksi urine mengalami peningkatan, terutama pada awal pemakaian dan beberapa jam setelah minum obat.
Supaya tidak terlalu mengganggu, sebaiknya minum obat pada pagi hari dan tetap cukup minum air agar tidak sampai dehidrasi.
2. Pusing atau kepala terasa melayang
Beberapa obat tekanan darah, seperti ACE inhibitor atau beta-blocker, membuat pembuluh darah lebih rileks atau detak jantung melambat. Ini bisa menyebabkan tekanan darah turun mendadak, terutama saat berdiri dari posisi duduk atau tidur. Kondisi ini bisa dialami hingga sekitar 1 dari 5 orang.
Agar tidak pusing, bangunlah secara perlahan. Kalau pusing sering muncul atau tidak membaik, sebaiknya konsultasikan ke dokter.
3. Sakit kepala

Obat hipertensi tertentu, seperti calcium channel blocker (CCB) atau obat pelebar pembuluh darah, bisa membuat pembuluh darah melebar dengan cepat. Perubahan ini dapat memicu sakit kepala, terutama di minggu-minggu awal pemakaian.
Biasanya, keluhan ini akan berkurang seiring tubuh menyesuaikan diri. Untuk mengatasinya, minum cukup air dan, jika diizinkan dokter, boleh memakai obat pereda nyeri ringan.
4. Kelelahan
Obat tekanan darah dapat membuat kamu merasa cepat lelah atau lesu akibat penurunan tekanan darah. Efek samping ini bisa lebih parah jika kamu mengonsumsi beta blocker dan CCB. Hal ini karena obat-obatan ini juga dapat memperlambat detak jantung, bersamaan dengan menurunkan tekanan darah, yang dapat meningkatkan kemungkinan kelelahan.
Dalam kebanyakan kasus, tingkat energi akan kembali seiring tubuh menyesuaikan diri dengan tekanan darah yang lebih rendah. Namun, beri tahu dokter jika rasa lelah membuat kamu kesulitan melakukan aktivitas harian. Atau, kamu merasa sangat lelah meskipun telah minum obat hipertensi selama beberapa minggu.
5. Mual
Mual adalah efek samping dari obat tekanan darah jenis apa pun. Namun, lebih mungkin terjadi akibat konsumsi beta blocker dan angiotensin receptor blockers (ARB).
Mual akan hilang dengan sendirinya seiring waktu. Sementara itu, untuk mengurangi efek samping ini, cobalah makan dalam porsi kecil dan hindari makanan pedas atau gorengan, yang dapat memperburuk mual.
Mengonsumsi obat dengan camilan kecil dan tetap terhidrasi juga dapat membantu. Namun, jika mual tidak kunjung hilang atau semakin mengganggu, beri tahu dokter yang meresepkan obat.
6. Diare atau sembelit

Obat tekanan darah dapat memengaruhi pergerakan usus, yang menyebabkan diare atau sembelit. Sembelit lebih mungkin terjadi saat kamu berobat dengan CCB, sedangkan diare lebih umum terjadi dengan ARB dan ACE. Beta-blocker dapat menyebabkan diare dan sembelit.
Untuk membantu mencegah dan mengatasi sembelit, penting untuk mencukupi kebutuhan cairan tubuh. Ini juga dapat mencegah dehidrasi akibat diare. Dalam kebanyakan kasus, perubahan pada usus akan sembuh dengan sendirinya.
7. Batuk kering
Beberapa orang yang mengonsumsi ACE inhibitor mungkin mengalami batuk kering. Sementara itu, obat lain biasanya tidak menyebabkan hal ini. Batuk kering dapat muncul segera setelah memulai pengobatan dengan ACE inhibitor atau bahkan beberapa bulan kemudian. Batuk ini tidak berbahaya, tetapi bisa mengganggu.
Sayangnya, satu-satunya cara untuk menghilangkan batuk adalah dengan berhenti mengonsumsi ACE inhibitor.
Meskipun begitu, kamu tidak boleh tiba-tiba berhenti mengonsumsi ACE inhibitor. Beri tahu dokter jika batuk yang kamu alami cukup mengganggu. Dokter dapat membantumu beralih ke pengobatan darah tinggi yang berbeda dengan aman.
Pada akhirnya, mengalami efek samping akibat obat tekanan darah tinggi bukan berarti kamu harus cepat-cepat menghentikan pengobatan. Yang terpenting adalah mengenali sinyal dari tubuh, tidak panik berlebihan, dan selalu berdiskusi dengan tenaga medis sebelum mengambil keputusan. Dengan pemahaman yang tepat, pengobatan hipertensi bisa tetap berjalan efektif tanpa mengorbankan kenyamanan dan kualitas hidup sehari-hari.
Referensi


















