Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
6 Kondisi yang Bisa Membutuhkan Behel atau Kawat Gigi
ilustrasi kawat gigi, behel, perawatan ortodonti (unsplash.com/Quilia)
  • Behel digunakan untuk memperbaiki posisi gigi dan masalah gigitan atau maloklusi, bukan semata-mata untuk estetika.

  • Gigi berjejal, terlalu menonjol, crossbite, underbite, open bite, hingga gigi yang gagal tumbuh dapat menjadi alasan menjalani perawatan ortodonti.

  • Tidak semua masalah harus ditangani dengan behel konvensional. Jenis dan kebutuhan terapi ditentukan setelah pemeriksaan oleh dokter gigi, terutama dokter gigi spesialis ortodonti.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Perawatan ortodonti menawarkan pendekatan yang semakin terarah karena kebutuhan pasien dinilai secara individual, bukan semata dari tampilan gigi. Beragam pilihan alat dan kemungkinan kombinasi perawatan memungkinkan dokter menyesuaikan penanganan terhadap masalah gigitan, posisi gigi, pertumbuhan rahang, serta fungsi mengunyah secara lebih tepat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Walaupun behel atau kawat gigi identik dengan gigi yang terlihat tidak rata, tetapi tujuan perawatan ortodonti lebih luas. Posisi gigi yang tampak cukup rapi pun bisa memiliki masalah ketika gigi atas dan bawah bertemu saat menggigit.

Kondisi ketika susunan gigi atau hubungan gigitan tidak ideal disebut maloklusi. Perawatan ortodonti dapat digunakan untuk menggerakkan gigi dan memperbaiki gigitan sehingga gigi atas dan bawah bertemu dengan lebih baik. Namun, tidak setiap ketidakteraturan gigi butuh behel. Tingkat keparahan, usia, perkembangan rahang, fungsi mengunyah, hingga kesehatan gigi dan gusi perlu dinilai terlebih dahulu.

Berikut beberapa kondisi yang dapat menjadi alasan untuk mendapatkan perawatan ortodonti.

1. Gigi berjejal atau bertumpuk

Crowding terjadi ketika ruang pada rahang tidak cukup untuk menampung seluruh gigi dengan posisi yang baik. Akibatnya, gigi dapat tumbuh berputar, bertumpuk, atau keluar dari garis lengkung gigi.

Dental crowding sebagai salah satu kondisi utama yang ditangani dengan ortodonti. Gigi yang sangat berjejal juga dapat membuat beberapa area lebih sulit dijangkau ketika menyikat gigi dan menggunakan benang gigi.

Namun, sedikit ketidakteraturan posisi gigi belum tentu memiliki kebutuhan medis untuk memakai behel. American Association of Orthodontists (AAO), misalnya, menggunakan tingkat crowding yang jauh lebih berat sebagai salah satu kriteria untuk perawatan ortodonti yang dianggap perlu secara medis.

2. Gigi depan terlalu menonjol

Gigi depan atas yang berada terlalu jauh di depan gigi bawah disebut increased overjet. Dalam percakapan sehari-hari, kondisi ini kadang disebut gigi tonggos.

Selain memengaruhi penampilan dan cara gigi bertemu, gigi depan yang sangat menonjol berkaitan dengan risiko cedera gigi yang lebih tinggi. Menurut temuan studi, pada anak dengan gigi permanen atau campuran, overjet lebih dari 5 mm dikaitkan dengan peluang trauma sekitar 2,4 kali lebih tinggi dibanding overjet yang lebih kecil.

Namun, kapan perawatan perlu dimulai tetap bergantung pada masing-masing anak. Perawatan ortodonti dini tidak selalu memberikan hasil jangka panjang yang lebih baik dibanding menunggu hingga usia lebih dewasa, sehingga terapi dini lebih tepat dipertimbangkan pada kondisi tertentu seperti risiko trauma yang tinggi atau gangguan fungsi.

3. Gigitan terlalu dalam atau rahang bawah terlalu maju

ilustrasi deep bite, overbite (commons.wikimedia.org/Challiyan)

Pada deep bite atau overbite berlebihan, gigi depan atas menutupi terlalu banyak bagian gigi depan bawah. Pada kasus berat, gigi bahkan dapat mengenai jaringan lunak di belakang gigi atau gusi.

Sebaliknya, pada underbite, gigi depan bawah berada lebih maju daripada gigi depan atas ketika mulut ditutup. Kondisi ini bisa berasal dari posisi gigi, perbedaan pertumbuhan rahang, atau kombinasi keduanya.

Perawatan ortodonti dapat membantu memperbaiki hubungan gigitan. Namun, jika perbedaan ukuran atau posisi rahang sangat besar pada orang dewasa, behel saja mungkin tidak cukup. Pada kasus tertentu diperlukan kombinasi ortodonti dan operasi rahang atau orthognathic surgery.

4. Crossbite atau open bite

Dua masalah gigitan lain yang sering ditangani dengan ortodonti adalah crossbite dan open bite.

Crossbite terjadi ketika sebagian gigi atas justru berada di sisi dalam gigi bawah saat menggigit. Kondisinya bisa terjadi pada gigi depan maupun belakang. Pada anak yang masih tumbuh, beberapa jenis crossbite dapat membuat rahang bergeser untuk mendapatkan posisi gigitan yang nyaman sehingga perlu dinilai lebih dini.

Sementara itu, open bite terjadi ketika sebagian gigi atas dan bawah tidak bertemu meskipun mulut sudah tertutup. Jika terjadi pada bagian depan, misalnya, gigi belakang dapat bertemu tetapi terdapat celah di antara gigi depan atas dan bawah.

Open bite dapat memengaruhi kemampuan menggigit makanan dan pada sebagian orang berkaitan dengan masalah bicara atau menelan.

Bukan berarti semua crossbite dan open bite pasti butuh kawat gigi. Usia, penyebab, tingkat keparahan, serta apakah masalah berasal dari gigi atau tulang rahang menentukan jenis terapinya.

5. Jarak antargigi terlalu lebar

Behel juga dapat digunakan ketika ada terlalu banyak ruang di antara gigi.

Spacing atau celah antargigi dapat muncul karena ukuran gigi relatif kecil terhadap rahang, ada gigi yang tidak tumbuh, atau seseorang terlahir tanpa satu atau beberapa gigi permanen.

Tidak setiap celah harus ditutup. Diastema kecil di antara dua gigi depan, misalnya, bisa saja tidak menimbulkan gangguan apa pun.

Jika jarak antargigi mengganggu gigitan atau merupakan bagian dari masalah posisi gigi yang lebih kompleks, dokter dapat merencanakan pergerakan gigi menggunakan behel atau alat ortodonti lainnya. Pada kasus gigi yang memang tidak ada sejak lahir, perawatan juga bisa melibatkan dokter gigi spesialis lain untuk merencanakan penggantian gigi.

6. Ada gigi yang tidak berhasil tumbuh

Ortopantomogram yang menunjukkan gigi taring atas mengalami impaksi. (commons.m.wikimedia.org/Challiyan)

Kadang sebuah gigi permanen terbentuk, tetapi tidak berhasil muncul ke dalam rongga mulut. Kondisi ini disebut impacted tooth atau gigi impaksi.

Selain gigi bungsu, gigi taring permanen merupakan salah satu gigi yang cukup sering mengalami impaksi. Gigi dapat terperangkap di dalam tulang atau tumbuh ke arah yang salah.

Pada kasus tertentu, dokter dapat membuka sebagian jaringan di atas gigi melalui prosedur bedah, kemudian menggunakan alat ortodonti untuk menarik gigi secara perlahan ke posisi yang tepat.

Tinjauan sistematis 2025 menunjukkan traksi ortodonti merupakan salah satu pilihan efektif untuk menangani gigi taring impaksi, meskipun keputusan antara mempertahankan dan menarik gigi atau mencabutnya harus disesuaikan dengan posisi gigi, kondisi jaringan sekitar, usia pasien, dan faktor lainnya.

Tidak semua masalah gigi butuh behel yang sama

Meski istilah yang sering digunakan adalah “pasang behel”, tetapi perawatan ortodonti sebenarnya bisa melibatkan banyak alat. Selain kawat gigi cekat, dokter dapat menggunakan clear aligner, ekspander rahang, alat fungsional, elastik, atau kombinasi beberapa metode. Kasus dengan ketidakseimbangan tulang rahang yang berat bahkan dapat membutuhkan operasi bersama perawatan ortodonti.

Bukti juga menunjukkan maloklusi dapat berhubungan dengan kualitas hidup terkait kesehatan mulut, sementara sejumlah penelitian melaporkan perbaikan setelah terapi ortodonti. Namun, kualitas bukti mengenai manfaat kesehatan mulut secara keseluruhan masih bervariasi sehingga behel tidak seharusnya dianggap wajib hanya karena susunan gigi tidak sempurna.

Pemeriksaan ortodonti mempertimbangkan susunan gigi, hubungan gigitan, kondisi rahang, pertumbuhan pada anak, serta pemeriksaan penunjang jika diperlukan.

Jadi, kondisi yang membutuhkan behel bukan hanya gigi yang terlihat berantakan. Gigi berjejal, menonjol, gigitan yang tidak bertemu dengan baik, gigi impaksi, hingga masalah pertumbuhan rahang dapat menjadi alasan menjalani perawatan ortodonti. Namun, jenis dan kebutuhan terapinya tetap harus ditentukan secara individual.

Referensi

National Health Service, “Orthodontics,” diakses Agustus 2026.

American Association of Orthodontists, “Medically Necessary Orthodontic Care,” diakses Agustus 2026.

George P. Arraj, Giampiero Rossi-Fedele, and Esma J. Doğramacı, “The Association of Overjet Size and Traumatic Dental Injuries—A Systematic Review and Meta-analysis,” Dental Traumatology 35, nos. 4–5 (2019): 217–232, https://doi.org/10.1111/edt.12481.

“Does Early Orthodontic Treatment in Mixed Dentition Improve Long-Term Outcomes? A Systematic Review and Meta-Analysis,” 2025.

American Association of Orthodontists, “7 Common Types of Bite Problems and Their Orthodontic Solutions,” diakses Agustus 2026.

Cambridge University Hospitals NHS Foundation Trust, “Jaw or Chin Corrective Surgery (Orthognathic Surgery): Patient Information and Consent,” diakses Agustus 2026.

Antonio Mancini et al., “Evaluating the Success Rates and Effectiveness of Surgical and Orthodontic Interventions for Impacted Canines: A Systematic Review of Surgical and Orthodontic Interventions and a Case Series,” BMC Oral Health 25 (2025): 295, https://doi.org/10.1186/s12903-025-05635-w.

Luciana Gonçalves Ribeiro et al., “Impact of Malocclusion Treatments on Oral Health-Related Quality of Life: An Overview of Systematic Reviews,” Clinical Oral Investigations 27, no. 3 (2023): 907–932, https://doi.org/10.1007/s00784-022-04837-8.

Richard Macey, Badri Thiruvenkatachari, Kevin O’Brien, and Klaus B. S. L. Batista, “Do Malocclusion and Orthodontic Treatment Impact Oral Health? A Systematic Review and Meta-analysis,” American Journal of Orthodontics and Dentofacial Orthopedics 157, no. 6 (2020): 738–744.e10, https://doi.org/10.1016/j.ajodo.2020.01.015.

Curated For You

Editorial Team

Related Article