Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kriteria Pasien yang Ideal untuk Alat Pacu Jantung Tanpa Kabel
ilustrasi aritmia (magnific.com/magnific)
  • Aritmia dapat membuat detak jantung terlalu cepat, lambat, atau tidak teratur; dokter menilai keluhan, rekaman listrik jantung, dan kondisi menyeluruh sebelum menentukan kebutuhan pacemaker permanen.

  • Leadless pacemaker direkomendasikan bagi pasien tertentu, terutama dengan gangguan pembuluh darah, risiko infeksi tinggi, hemodialisis, atau akses vena atas bermasalah; usia di atas 50 tahun turut dipertimbangkan.

  • Alat pacu tanpa kabel dipasang lewat kateter dari pangkal paha langsung ke jantung, tanpa operasi terbuka, kantong dada, atau lead; berukuran 90 persen lebih kecil dan berpotensi mengurangi komplikasi tertentu.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) 2022, penyakit kardiovaskular merupakan salah satu penyebab kematian di dunia dengan estimasi sebesar 19,8 juta kematian. Salah satu penyakit jantung adalah gangguan irama jantung (aritmia).

Dengan menilai keluhan, rekaman listrik jantung dan kondisi pasien secara menyeluruh, dokter dapat mempertimbangkan pemasangan alat pacu jantung permanen atau permanent pacemaker (PPM), salah satunya leadless PPM atau PPM tanpa kabel pada pasien aritmia.

Aritmia membuat denyut irama jantung menjadi terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak teratur. Pada sebagian orang, gangguan irama jantung dapat membuat seseorang merasa mudah lelah, pusing, sesak, hampir pingsan atau pingsan. Karenanya, diagnosis dan identifikasi kriteria pasien yang tepat penting dalam penanganan aritmia, termasuk dalam implementasi leadless PPM.

Leadless PPM hanya untuk pasien tertentu

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Siloam Hospitals TB Simatupang, dr. Budi Ario Tejo, SpJP(K), FIHA menjelaskan bahwa pemilihan PPM ditentukan oleh jenis gangguan irama, kebutuhan pemacuan, fungsi jantung, kondisi pembuluh darah, risiko infeksi serta keadaan klinis pasien.

Leadless PPM saat ini direkomendasikan untuk pasien dengan kriteria tertentu, salah satunya pasien aritmia dengan gangguan pembuluh darah.

Pada pasien dengan kondisi tersebut, jantung membutuhkan impuls listrik ringan untuk menjaga detak jantung tetap stabil dan tidak terlalu lambat. Ketika aliran darah di pembuluh darah sudah terganggu (misalnya karena penyempitan atau kekakuan), jantung harus memompa dengan efektif.

Jika ditambah irama jantung yang melambat atau terhenti sejenak (pause), maka pasokan darah dan oksigen ke otak serta organ vital lain akan sangat kurang.

"Cara pasang leadless pacemaker adalah dengan ditempatkan langsung di dalam jantung tanpa kantong alat di dada dan tanpa lead transvena di mana ini menghilangkan komplikasi terkait pocket and lead,” ujar dr Budi.

Perbandingannya dengan pacemaker konvensional

ilustrasi alat pacu jantung konvensional (IDN Times/NRF)

Kriteria pasien yang dipertimbangkan untuk pemasangan leadless pacemaker ialah mereka dengan riwayat infeksi tinggi, pasien hemodialisis serta akses vena atas bermasalah.

Selain itu, usia dan kondisi kesehatan umum pasien juga menjadi pertimbangan dalam menentukan kelayakan pemasangan leadless pacemaker, yang diutamakan bagi pasien berusia lebih dari 50 tahun atau lanjut usia.

Dibandingkan dengan pacemaker konvensional, leadless pacemaker memiliki sejumlah keunggulan, antara lain ukurannya yang sekitar 90 persen lebih kecil, tidak memerlukan kabel atau perangkat yang terlihat di luar tubuh, serta dapat memberikan kenyamanan dan hasil estetika yang lebih baik bagi pasien.

Teknologi ini juga berpotensi mengurangi risiko komplikasi tertentu, termasuk infeksi dan pacemaker-twiddler syndrome, yaitu kondisi ketika perangkat pacemaker bergeser akibat manipulasi atau gerakan yang tidak disadari pasien.

Proses pemasangannya dilakukan menggunakan kateter melalui pembuluh darah vena di pangkal paha sehingga tidak memerlukan operasi terbuka dan umumnya memungkinkan masa pemulihan di rumah sakit yang lebih singkat.

Edukasi kesehatan jantung dan aritmia

Sejalan dengan World Heart Day 2026, Siloam Hospitals TB Simatupang memberikan edukasi mengenai kesehatan jantung dan aritmia, yang telah dimulai sejak Maret 2026 dalam tema kampanye Let’s Check The Beat. Kampanye ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat sekaligus membantu pemerintah dalam menurunkan beban yang ditimbulkan akibat aritmia.

Oleh karena itu, mereka mengajak masyarakat untuk lebih paham mengenai aritmia supaya tidak memandang remeh kondisi ini karena mempunyai risiko yang tinggi terhadap stroke bahkan dapat menyebabkan kematian mendadak.

Siloam Hospitals TB Simatupang dengan Pusat Artimia didukung oleh berbagai layanan seperti CT Scan 512 Slice generasi terbaru, Cath Lab yang dilengkapi dengan teknologi terkini dan dokter ahli berpengalaman lebih dari 30 tahun menangani aritmia di Indonesia serta perawat-perawat yang tersertifikasi.

“Kalau di Indonesia untuk saat ini dengan penduduk kurang lebih 282 juta jiwa, hanya ada 151 center yang bisa melakukan tindakan implantasi pacemaker. Jadi kalau kita lihat rasionya ini sangat jauh,” lanjut dr. Budi.

Dengan keunggulan tersebut, mereka berharap bisa mendukung kesehatan masyarakat serta rujukan bagi rumah sakit sekitar dalam penanganan penyakit jantung dan artimia yang tepat dan cepat.

Curated For You

Editorial Team

Related Article