Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Laporan WHO: Kematian Anak Turun, tapi Laju Penurunannya Melambat

Laporan WHO: Kematian Anak Turun, tapi Laju Penurunannya Melambat
ilustrasi anak sekolah (pexels.com/Photo by Raiza Azkaril)
Intinya Sih
  • Sekitar 4,9 juta anak meninggal sebelum usia 5 tahun pada 2024, sebagian besar sebenarnya bisa dicegah.

  • Penurunan angka kematian anak melambat drastis sejak tahun 2015, meski sebelumnya turun lebih dari setengah sejak tahun 2000.

  • Faktor utama meliputi komplikasi kelahiran, infeksi, dan malnutrisi, yang semuanya berkaitan erat dengan akses layanan kesehatan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Perjalanan menyelamatkan anak-anak di dunia sebenarnya menunjukkan kemajuan besar. Dalam dua dekade terakhir, angka kematian anak dunia berhasil diturunkan lebih dari setengan. Ini adalah salah satu pencapaian kesehatan publik paling signifikan dalam sejarah modern. Namun, data terbaru menunjukkan perubahan.

Laporan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bersama UNICEF menemukan laju penurunan tersebut kini melambat secara signifikan. Progres yang dulu cepat kini mulai kehilangan momentum. Dalam laporan Levels and Trends in Child Mortality 2025, diperkirakan 4,9 juta anak meninggal sebelum usia 5 tahun pada 2024, termasuk 2,3 juta bayi baru lahir.

Table of Content

1. Apa penyebab utamanya?

1. Apa penyebab utamanya?

Berdasarkan laporan tersebut, beberapa penyebabnya antara lain:

1. Masalah kelahiran masih dominan

Hampir setengah dari kematian anak terjadi pada periode neonatal, yaitu bulan pertama kehidupan. Penyebab utamanya meliputi:

  • Kelahiran prematur (36 persen).
  • Komplikasi saat persalinan (21 persen).
  • Infeksi dan kelainan bawaan.

Kondisi ini sebenarnya sangat bisa dicegah dengan layanan kesehatan dasar seperti perawatan kehamilan (antenatal care), tenaga medis terlatih saat persalinan, dan perawatan bayi baru lahir. Namun, masalahnya bukan pada kurangnya solusi, tetapi pada akses yang belum merata.

2. Infeksi masih menjadi pembunuh utama

Setelah melewati masa neonatal, ancaman terbesar datang dari penyakit infeksi, seperti malaria (17 persen), pneumonia, dan diare.

Data menunjukkan bahwa kemajuan dalam mengendalikan penyakit ini melambat sejak 2015. Faktor seperti konflik, perubahan iklim, dan resistensi obat memperburuk situasi.

Penelitian global juga menunjukkan bahwa anak di wilayah dengan sistem kesehatan lemah jauh lebih rentan terhadap infeksi yang sebenarnya bisa diobati.

3. Malnutrisi

Untuk pertama kalinya, laporan ini secara khusus mengukur dampak severe acute malnutrition (SAM). Hasilnya, lebih dari 100.000 anak meninggal secara langsung karena kondisi ini. Namun, angka sebenarnya kemungkinan jauh lebih besar. Malnutrisi tidak selalu tercatat sebagai penyebab utama kematian, tetapi memperburuk kondisi lain.

Studi menunjukkan bahwa malnutrisi melemahkan sistem imun dan meningkatkan risiko kematian akibat infeksi. Artinya, malnutrisi sering menjadi faktor yang diam-diam memperparah berbagai penyakit.

3. Ketimpangan global

Kematian anak tidak tersebar merata. Sebagian besar terjadi di wilayah dengan akses kesehatan terbatas:

  • 58 persen di Afrika sub-Sahara.
  • 25 persen di Asia Selatan.

Di kawasan ini, anak-anak menghadapi risiko hampir tiga kali lebih tinggi untuk meninggal sebelum usia 5 tahun.

Data global menunjukkan bahwa negara dengan investasi kuat pada layanan kesehatan primer, termasuk imunisasi dan perawatan ibu-anak, cenderung mengalami penurunan lebih cepat.

4. Ke depan, apa artinya?

Ilustrasi anak sekolah.
ilustrasi anak sekolah (pexels.com/Photo by RDNE Stock project)

Laporan ini menegaskan bahwa dunia sebenarnya sudah memiliki solusi:

  • Vaksin.
  • Perawatan dasar saat persalinan.
  • Penanganan malnutrisi.
  • Akses layanan kesehatan primer.

Menurut Bank Dunia, investasi pada kesehatan anak adalah salah satu intervensi paling cost-effective, dengan potensi pengembalian hingga 20 kali lipat secara sosial dan ekonomi. Masalahnya bukan pada kurangnya pengetahuan, tetapi pada implementasi dan komitmen.

Angka 4,9 juta kematian anak merupakan cerminan dari sistem yang belum merata. Dunia telah membuktikan bahwa kematian anak bisa ditekan secara signifikan, tetapi mempertahankan momentum ternyata tak kalah sulit. Tanpa investasi berkelanjutan dan fokus pada kelompok paling rentan, capaian yang sudah diraih bisa terhenti, bahkan berbalik arah.

Referensi

“Levels and Trends in Child Mortality 2025.” World Health Organization, UNICEF. Diakses Maret 2026.

Robert E Black et al., “Maternal and Child Undernutrition and Overweight in Low-income and Middle-income Countries,” The Lancet 382, no. 9890 (June 5, 2013): 427–51, https://doi.org/10.1016/s0140-6736(13)60937-x.

"Progress in reducing child deaths slows as 4.9 million children die before age five." World Health Organization. Diakses Maret 2026.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More