Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Makanan Sehari-hari yang Bisa Tingkatkan Risiko Kanker Mulut
Paket untuk mengunyah pinang, terdiri dari pinang, sirih dan kapur. (commons.wikimedia.org/Pungkas nurrohman)
  • Faktor risiko kanker mulut yang paling kuat tetap tembakau, alkohol, pinang/sirih, dan infeksi HPV, tetapi pola makan juga bisa ikut memengaruhi risiko.

  • Alkohol, pinang/sirih, daging olahan, daging merah yang sering dimasak suhu tinggi, serta minuman manis perlu dibatasi karena punya kaitan dengan risiko kanker mulut atau kanker kepala-leher.

  • Tidak ada satu makanan yang otomatis menyebabkan kanker mulut. Risiko biasanya terbentuk dari kebiasaan jangka panjang, apalagi bila digabung dengan merokok, alkohol, dan jarang periksa gigi.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Kanker mulut sering dikaitkan dengan rokok. Memang demikian, tembakau masih menjadi salah satu faktor risiko terkuat. Namun, risiko kanker mulut juga bisa dipengaruhi oleh hal-hal yang masuk ke mulut berulang kali, seperti minuman, makanan, cara memasak, sampai kebiasaan mengunyah pinang atau sirih.

Satu porsi makanan tertentu tidak langsung menyebabkan kanker mulut. Risiko kanker biasanya terbentuk pelan-pelan dari paparan jangka panjang, ditambah faktor lain seperti merokok, konsumsi alkohol, infeksi human papillomavirus (HPV), kebersihan mulut, dan riwayat kesehatan.

Tembakau, alkohol, kombinasi keduanya, mengunyah betel quid atau sirih pinang, serta HPV sebagai faktor risiko kanker rongga mulut dan orofaring.

Namun, bukan berarti pola makan tidak penting. Beberapa kebiasaan konsumsi berikut sebaiknya kamu batasi.

1. Minuman beralkohol

Alkohol adalah salah satu faktor risiko yang bukti ilmiahnya paling kuat untuk kanker mulut, faring, dan laring. Ada bukti kuat konsumsi minuman beralkohol meningkatkan risiko kanker mulut, faring, dan laring. Risiko ini makin besar jika alkohol dikombinasikan dengan kebiasaan merokok.

IARC, lembaga riset kanker di bawah WHO, telah mengklasifikasikan minuman beralkohol sebagai karsinogen Grup 1, yaitu terbukti karsinogenik pada manusia.

Jenis kanker yang dikaitkan dengan alkohol mencakup kanker rongga mulut, faring, laring, esofagus, hati, kolorektal, dan payudara perempuan.

Cara paling aman untuk menurunkan risiko adalah tidak minum alkohol sama sekali. Jika sudah mengonsumsi alkohol, mengurangi frekuensi dan jumlahnya tetap lebih baik.

2. Pinang atau sirih pinang

Di beberapa daerah, mengunyah pinang atau sirih pinang dianggap bagian dari kebiasaan sosial dan budaya. Masalahnya, kebiasaan ini berkaitan dengan kanker mulut.

IARC menyatakan betel quid dan areca nut atau buah pinang telah dievaluasi sebagai bahan yang bersifat karsinogenik.

Kebiasaan mengunyah pinang, baik dengan maupun tanpa tembakau, merupakan faktor risiko kanker rongga mulut, orofaring, hipofaring, dan laring. Risikonya meningkat seiring lama dan seringnya kebiasaan ini dilakukan, dan lebih tinggi lagi jika dicampur dengan tembakau.

3. Daging olahan

ilustrasi hot dog (pexels.com/RDNE Stock project)

Daging olahan seperti sosis, ham, bacon, salami, daging asap, dan produk sejenis sering dikonsumsi karena praktis. Namun, konsumsi tinggi daging olahan perlu dibatasi. Sebuah metaanalisis menemukan bahwa konsumsi tinggi daging olahan berhubungan dengan peningkatan risiko kanker rongga mulut dan orofaring.

Bukan berarti semua orang yang makan sosis akan terkena kanker mulut. Namun, jika daging olahan menjadi menu harian, apalagi ditambah pola makan rendah sayur dan buah, ini tidak ideal apalagi konsumsi dalam jangka panjang.

Jadikan daging olahan sebagai makanan sesekali, bukan lauk utama setiap hari. Untuk pilihan harian, lebih baik memilih sumber protein yang lebih minim proses, seperti ikan, telur, ayam segar, tahu, tempe, atau kacang-kacangan.

4. Daging merah yang sering dimasak dengan suhu tinggi

Daging merah seperti sapi, kambing, atau domba tidak harus selalu dihindari. Yang perlu kamu perhatikan adalah jumlah dan cara memasaknya.

Penelitian melaporkan bahwa konsumsi tinggi daging merah, terutama yang diproses secara termal seperti diasap, digoreng, dipanggang, atau dibakar, dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker rongga mulut.

Saat daging dimasak pada suhu tinggi, terutama sampai gosong atau sangat kecokelatan, dapat terbentuk senyawa seperti heterocyclic amines dan polycyclic aromatic hydrocarbons. Senyawa ini sering dibahas dalam konteks risiko kanker karena dapat merusak DNA.

Akan lebih bijak jika kamu tidak terlalu sering mengonsumsi bagian gosong, memilih metode masak yang lebih lembut seperti rebus, kukus, tumis ringan, atau panggang dengan suhu lebih terkontrol, serta menyeimbangkannya dengan sayur dan buah.

5. Minuman berpemanis

Bukti tentang minuman manis dan kanker mulut masih berkembang.

Studi kohort terhadap lebih dari 162 ribu perempuan menemukan bahwa konsumsi satu atau lebih minuman manis berpemanis gula per hari berhubungan dengan risiko kanker rongga mulut yang lebih tinggi dibanding konsumsi kurang dari satu kali per bulan. Namun, peneliti juga menekankan bahwa jumlah kasusnya kecil dan masih perlu studi lanjutan, termasuk pada laki-laki.

Membatasi soda, teh manis kemasan, minuman rasa buah bergula, dan minuman kekinian tinggi gula tetap dianjurkan karena manfaatnya luas, termasuk untuk kesehatan gigi, berat badan, gula darah, dan risiko penyakit kronis lain.

Pola makan yang membantu melindungi dari kanker

ilustrasi pola makan seimbang (pixabay.com/Abank_88)

Pola makan yang lebih banyak mengandung buah, sayuran, kacang-kacangan, dan sumber protein minim proses dapat membantu menurunkan risiko berbagai penyakit kronis.

Pola makan kaya pangan nabati seperti buah dan sayuran berkaitan dengan risiko lebih rendah untuk beberapa kanker, termasuk kanker mulut, faring, dan laring.

Ada pula sejumlah bukti bahwa sayuran non tepung dan pola makan sehat dapat menurunkan risiko kanker kepala dan leher, meski kekuatan buktinya tidak sekuat alkohol sebagai faktor risiko.

Intinya, isi piring harian dengan lebih banyak sayur, buah, protein segar, dan makanan utuh. Lalu, batasi makanan ultraproses, tinggi gula, sering diasapkan, atau dimasak sampai gosong.

Kapan harus menemui dokter?

Selain memperbaiki pola makan, penting untuk mengenali tanda yang tidak boleh diabaikan.

Segera periksa ke dokter gigi atau dokter jika ada sariawan yang tidak sembuh lebih dari dua minggu, bercak putih atau merah di mulut, benjolan, perdarahan tanpa sebab jelas, nyeri saat menelan, suara berubah, gigi goyang tanpa penyebab jelas, atau rasa kebas di area mulut.

Pemeriksaan gigi rutin juga penting karena beberapa perubahan di rongga mulut bisa terlihat saat pemeriksaan, bahkan sebelum terasa mengganggu.

Makanan dan minuman sehari-hari bisa ikut memengaruhi risiko kanker mulut, terutama jika dikonsumsi berlebihan dan berlangsung lama.

Alkohol dan sirih pinang memiliki bukti risiko yang kuat. Daging olahan, daging merah yang sering dimasak suhu tinggi, serta minuman manis juga sebaiknya dibatasi karena ada kaitan dengan risiko kanker mulut atau kesehatan rongga mulut secara umum.

Namun, pencegahan kanker mulut tidak cukup hanya dari makanan. Berhenti merokok, menghindari alkohol, tidak mengunyah pinang atau sirih pinang, menjaga kebersihan mulut, vaksinasi HPV sesuai anjuran, dan rutin ke dokter gigi tetap menjadi langkah penting.

Referensi

National Cancer Institute. “Oral Cavity, Oropharyngeal, Hypopharyngeal, and Laryngeal Cancer Prevention (PDQ®)–Patient Version.” Diakses Juli 2026.

World Cancer Research Fund/American Institute for Cancer Research. "Diet, Nutrition, Physical Activity and Cancers of the Mouth, Pharynx and Larynx." Continuous Update Project Expert Report 2018. Diakses Juli 2026.

World Cancer Research Fund. “Head and Neck Cancer.” Diakses Juli 2026.

International Agency for Research on Cancer. "Betel-Quid and Areca-Nut Chewing and Some Areca-Nut-Derived Nitrosamines." IARC Monographs on the Evaluation of Carcinogenic Risks to Humans, vol. 85. Lyon: IARC, 2004. Diakses Juli 2026.

Rehm, Jürgen. “Alcohol Consumption.” In World Cancer Report 2014. International Agency for Research on Cancer, 2014. Diakses Juli 2026.

International Agency for Research on Cancer. “Alcohol: A Major Preventable Cause of Cancer.” IARC Press Release No. 371, October 8, 2025. Diakses Juli 2026.

Xu, J., Q. Yang, and X. Chen. “Meat Consumption and Risk of Oral Cavity and Oropharynx Cancer: A Meta-Analysis of Observational Studies.” Oncotarget 5, no. 22 (2014): 11175–11186.

Bulanda, S., et al. “The Risk of Oral Cancer and the High Consumption of Red Meat and Thermally Processed Meat.” Nutrients 16, no. 7 (2024): 1084.

Gomez-Castillo, L., et al. “High Sugar-Sweetened Beverage Intake and Oral Cavity Cancer in Smoking and Nonsmoking Women.” JAMA Otolaryngology–Head & Neck Surgery 151, no. 5 (2025): 450–457.

National Cancer Institute. “Fruit and Vegetable Consumption.” Cancer Trends Progress Report. Diakses Juli 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article