Ada beberapa alasan yang membuat batuk bertahan setelah infeksi mereda:
Ketika tubuh melawan virus, sistem kekebalan akan memicu peradangan untuk membantu mengatasi infeksi. Proses ini dapat membuat lapisan tenggorokan, trakea, dan saluran bronkus menjadi lebih sensitif.
Meskipun infeksi sudah teratasi, tetapi peradangan tersebut tidak langsung menghilang. Saluran pernapasan membutuhkan waktu untuk memperbaiki jaringan yang sebelumnya mengalami iritasi.
Infeksi virus juga dapat membuat reseptor batuk di saluran pernapasan menjadi lebih peka. Akibatnya, rangsangan yang sebenarnya ringan dapat memicu batuk.
Misalnya, seseorang mungkin tiba-tiba batuk ketika menghirup udara dingin, berbicara terlalu lama, tertawa, terkena debu, atau menarik napas dalam-dalam. Inilah salah satu alasan mengapa seseorang tetap mudah batuk jika terkena debu, udara kering, atau pemicu kecil lainnya setelah sembuh dari ISPA.
Saat mengalami ISPA, produksi lendir di saluran pernapasan biasanya meningkat. Lendir tersebut membantu menangkap dan mengeluarkan berbagai partikel maupun mikroorganisme dari saluran pernapasan.
Setelah infeksi membaik, sisa lendir masih dapat berada di saluran pernapasan. Tubuh kemudian menggunakan refleks batuk untuk membantu membersihkannya.
Infeksi juga dapat menyebabkan kerusakan sementara pada lapisan sel yang melapisi saluran pernapasan. Selama jaringan tersebut belum sepenuhnya pulih, ujung saraf di saluran pernapasan dapat menjadi lebih mudah terpicu. Akibatnya, refleks batuk tetap aktif meskipun penyebab awal infeksinya sudah berlalu.
Setelah ISPA, peradangan di hidung terkadang masih bertahan. Kondisi ini dapat menyebabkan lendir mengalir ke bagian belakang tenggorokan, yang dikenal sebagai postnasal drip. Lendir yang terus mengalir tersebut dapat menimbulkan rasa mengganjal atau menggelitik di tenggorokan sehingga memicu batuk.