ilustrasi perut tidak nyaman setelah makan terlalu cepat (unsplash.com/Towfiqu Barbhuiya)
Ada beberapa mekanisme yang menyebabkan kebiasaan makan cepat memicu gangguan pada sistem pencernaan:
Saat makan terburu-buru, seseorang biasanya mengambil suapan lebih besar, mengunyah lebih sedikit, dan lebih sering menelan. Tanpa disadari, lebih banyak udara ikut masuk ke saluran pencernaan.
Kondisi yang dikenal sebagai aerofagia ini dapat menyebabkan perut kembung, sering bersendawa, banyak gas, hingga nyeri perut.
Potongan makanan yang masih besar membutuhkan usaha lebih besar untuk dihancurkan di lambung. Lambung akan mengaduk makanan lebih kuat dan menghasilkan lebih banyak asam lambung agar proses pencernaan tetap berjalan. Akibatnya, muncul sensasi begah, rasa berat di perut, hingga gangguan seperti maag atau refluks asam pada sebagian orang.
Karena sinyal kenyang datang terlambat, orang yang makan cepat cenderung mengonsumsi kalori lebih banyak daripada yang dibutuhkan tubuh. Makin banyak makanan yang masuk, makin lama pula lambung mengosongkan isinya. Ini membuat rasa penuh bertahan lebih lama dan meningkatkan risiko gangguan pencernaan setelah makan.