ilustrasi sakit kepala (pexels.com/TBD Tuyên)
Jika bukan karena kurang gula, lalu apa lagi pemicunya? Berikut jawabannya:
Selama puasa, tubuh tidak mendapatkan asupan cairan selama berjam-jam. Kekurangan cairan dapat menyebabkan penurunan volume plasma dan perubahan keseimbangan elektrolit, yang pada sebagian orang memicu nyeri kepala.
Dehidrasi adalah salah satu pemicu paling umum sakit kepala saat puasa, bahkan pada individu tanpa gangguan gula darah.
Kalau kamu terbiasa minum kopi atau teh berkafein setiap pagi, tidak mengonsumsinya saat puasa dapat memicu apa yang disebut sebagai withdrawal headache.
Secara fisiologis, kafein memengaruhi pembuluh darah otak. Ketika asupannya dihentikan tiba-tiba, terjadi perubahan tonus vaskular yang dapat memicu nyeri kepala.
Selama Ramadan, waktu tidur sering bergeser karena bangun lebih awal untuk sahur. Kurang tidur dapat meningkatkan sensitivitas terhadap nyeri. Gangguan ritme sirkadian memengaruhi regulasi hormon, termasuk kortisol, yang berperan dalam respons stres dan persepsi nyeri.
Pada fase awal puasa, tubuh mengalami transisi dari penggunaan glukosa ke pemanfaatan cadangan energi seperti glikogen dan asam lemak. Perubahan metabolik ini bisa memicu gejala sementara seperti lemas, pusing, atau sakit kepala, terutama pada individu yang belum terbiasa berpuasa.
Dengan demikian, sakit kepala saat puasa tidak dapat langsung disimpulkan sebagai tanda hipoglikemia atau gula darah rendah. Pada orang sehat, lebih sering keluhan ini dipicu oleh kombinasi dehidrasi, perubahan pola tidur, adaptasi metabolik, dan faktor gaya hidup—bukan semata-mata karena kadar gula darah turun.
Referensi
"9 Potential Intermittent Fasting Side Effects". Healthline. Diakses Februari 2026.
"Why do headaches and fatigue show up during intermittent fasting, and what can you do about them?". Eurekahealth. Diakses Februari 2026.
"The Fasting Headache". National Headache Foundation. Diakses Februari 2026.
"What’s the connection between low blood sugar and headaches?". Zoe. Diakses Februari 2026.