Kesepian dan serangan jantung hubungannya tidak terjadi secara langsung. Para peneliti meyakini bahwa ada beberapa jalur biologis dan perilaku yang menjembatani keduanya.
1. Meningkatkan hormon stres
Ketika seseorang mengalami kesepian kronis, tubuh dapat menganggap kondisi tersebut sebagai bentuk ancaman. Akibatnya, sistem respons stres menjadi lebih aktif.
Menurut studi, kesepian dikaitkan dengan peningkatan aktivitas sistem saraf simpatis dan hormon stres seperti kortisol. Jika berlangsung dalam jangka panjang, kadar hormon stres yang tinggi dapat:
Meningkatkan tekanan darah.
Mempercepat denyut jantung.
Memperberat kerja sistem kardiovaskular.
Semua faktor di atas diketahui berkontribusi terhadap risiko penyakit jantung.
2. Memicu peradangan kronis
Peradangan merupakan salah satu mekanisme utama yang terlibat dalam pembentukan plak di pembuluh darah.
Penelitian menunjukkan orang yang mengalami kesepian cenderung memiliki kadar penanda inflamasi yang lebih tinggi dibanding mereka yang memiliki hubungan sosial yang kuat.
Peradangan kronis diketahui berperan dalam perkembangan aterosklerosis, yaitu penumpukan plak pada arteri yang dapat memicu serangan jantung dan stroke.
3. Meningkatkan tekanan darah
Beberapa studi menunjukkan kesepian berkaitan dengan peningkatan tekanan darah dari waktu ke waktu. Salah satu temuannya, individu yang merasa kesepian mengalami kenaikan tekanan darah sistolik yang lebih besar selama periode pengamatan dibanding mereka yang tidak kesepian.
Hipertensi sendiri merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit jantung.
4. Memengaruhi kualitas tidur
Kesepian juga dapat memengaruhi pola tidur. Orang yang merasa kesepian lebih sering mengalami tidur yang tidak nyenyak, sering terbangun pada malam hari, dan kualitas tidur yang buruk.
Kurang tidur telah dikaitkan dengan peningkatan risiko hipertensi, diabetes tipe 2, obesitas, dan penyakit jantung.