Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Tips Haji untuk Pengidap Asma agar Tidak Kambuh
Jemaah haji mulai lempar jumrah Aqabah usai bermalam di Muzdalifah, Jumat (6/6/2025). (Media Center Haji 2025/Rochmanudin)
  • Asma bisa lebih mudah kambuh saat haji karena paparan debu, udara panas, kelelahan, infeksi saluran napas, dan kepadatan jemaah.

  • Jemaah dengan asma sebaiknya memastikan kondisi asmanya terkontrol sebelum berangkat, membawa obat yang cukup, dan mengetahui tanda bahaya serangan asma.

  • Pengaturan aktivitas, penggunaan masker, cukup istirahat, dan menghindari paparan berlebih dapat membantu mencegah kekambuhan selama ibadah.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Artikel ini menampilkan sisi positif dari kesiapan dan kemandirian jemaah haji dengan asma. Dengan panduan yang rinci—mulai dari kontrol medis, pengenalan pemicu, hingga strategi menjaga stamina—artikel ini menunjukkan bahwa ibadah tetap dapat dijalankan secara aman.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Ibadah haji membutuhkan kesiapan fisik. Pasalnya, jemaah harus berjalan jauh, berpindah tempat, menghadapi cuaca ekstrem, berada di tengah kerumunan, dan sering kali kurang tidur. Bagi orang dengan asma, kondisi-kondisi tersebut dapat menjadi tantangan karena semuanya berpotensi memicu sesak napas atau serangan asma.

Meski begitu, memiliki asma bukan berarti seseorang tidak bisa menjalankan ibadah haji dengan aman. Kuncinya adalah memastikan asma terkontrol dengan baik sebelum berangkat haji, memahami pemicu yang paling sering menyebabkan kambuh, dan menyiapkan strategi yang realistis selama di Tanah Suci.

Penelitian menunjukkan, jemaah dengan riwayat serangan asma dalam satu tahun terakhir dan obesitas memiliki risiko lebih tinggi mengalami kekambuhan selama haji. Dalam satu studi pada jemaah asal Indonesia, sekitar 40 persen peserta dengan asma mengalami eksaserbasi (meningkatnya atau memperburuknya gejala suatu penyakit) selama di Arab Saudi.

1. Pastikan asma benar-benar terkontrol sebelum berangkat

Persiapan terbaik dimulai jauh sebelum keberangkatan. Calon jemaah yang mengidap asma sebaiknya berkonsultasi dengan dokter beberapa minggu atau bulan sebelum berangkat, terutama jika dalam setahun terakhir pernah masuk IGD, rawat inap, atau sering butuh inhaler pelega (reliever).

Dokter biasanya akan menilai apakah asma sudah terkontrol, memeriksa fungsi paru, menyesuaikan obat jika perlu, dan memastikan pasien memahami cara menggunakan inhaler dengan benar. Ini penting karena banyak pasien ternyata masih menggunakan inhaler dengan teknik yang kurang tepat, sehingga obat tidak bekerja maksimal.

Penelitian menunjukkan, riwayat serangan asma dalam satu tahun sebelum haji meningkatkan risiko kekambuhan selama ibadah hingga lebih dari empat kali lipat. Risiko ini juga meningkat pada jemaah dengan obesitas derajat II. Jadi, kalau asma masih sering kambuh atau mudah sesak, sebaiknya ini dikendalikan terlebih dulu sebelum berhaji.

2. Bawa obat lebih banyak

ilustrasi inhaler, benda penting bagi pasien asma (pexels.com/Cnordic Nordic)

Banyak jemaah membawa obat secukupnya, padahal selama haji kondisi cuaca, kelelahan, dan paparan debu bisa membuat kebutuhan obat meningkat.

Jemaah yang sakit asma sebaiknya membawa stok inhaler pelega dan controller lebih banyak dari perkiraan, setidaknya untuk beberapa minggu tambahan.

Simpan inhaler di tas kecil yang selalu dibawa, jangan diletakkan di koper besar yang mungkin sulit diakses saat dibutuhkan mendadak. Jika menggunakan nebulizer portabel, pastikan alat tersebut mudah dibawa dan sumber dayanya aman.

Selain itu, penting juga membawa resep dokter, salinan diagnosis, dan daftar obat yang rutin digunakan. Jika memungkinkan, gunakan gelang identitas medis yang mencantumkan pengguna memiliki asma dan obat apa yang biasa dipakai. Langkah ini dapat sangat membantu jika sewaktu-waktu terjadi keadaan darurat.

3. Kenali pemicu asma yang sering muncul saat haji

Lingkungan selama haji sangat berbeda dengan kondisi sehari-hari di rumah. Udara panas, debu, asap kendaraan, AC yang terlalu dingin, perubahan suhu mendadak, dan aktivitas fisik berat dapat memicu sesak pada orang dengan asma.

Tempat-tempat tertentu, seperti area lempar jumrah, Mina, atau jalanan yang padat kendaraan, cenderung memiliki lebih banyak debu dan polusi. Kepadatan jemaah juga membuat risiko infeksi saluran napas meningkat. Flu, batuk, pilek, dan infeksi virus dapat memperburuk asma.

Penyakit saluran napas merupakan salah satu masalah kesehatan paling sering selama haji. Pada pasien dengan asma, paparan debu, udara tercemar, dan kerumunan dapat memicu perburukan kondisi, terutama jika asmanya memang belum stabil sejak awal.

4. Pakai masker dan jaga kebersihan tangan

ilustrasi masker (pexels.com/www.kaboompics.com)

Masker dapat membantu mengurangi paparan debu, polusi, dan droplet dari orang lain yang sedang batuk atau pilek. Bagi jemaah dengan asma, masker bukan cuma berguna untuk mencegah infeksi, tetapi juga dapat membantu mengurangi kontak langsung dengan pemicu iritasi saluran napas. Pilih masker yang nyaman dipakai dalam waktu lama dan ganti jika sudah lembap atau kotor.

Selain itu, biasakan mencuci tangan atau menggunakan hand sanitizer setelah memegang benda di tempat umum, sebelum makan, dan setelah batuk atau bersin.

Infeksi saluran napas merupakan salah satu pemicu paling umum serangan asma selama haji. Karena itu, mencegah tertular flu atau batuk dari orang lain menjadi bagian penting dari pengendalian asma selama ibadah

5. Atur ritme aktivitas, jangan memaksakan diri

Ibadah haji memang butuh banyak tenaga, tetapi jemaah dengan asma tidak perlu memaksakan diri berjalan terlalu cepat atau terus bergerak tanpa atau minim istirahat. Tubuh yang terlalu lelah lebih mudah mengalami sesak, terutama jika ditambah panas dan dehidrasi.

Jika memungkinkan, pilih waktu yang lebih sejuk atau tidak terlalu padat untuk melakukan tawaf, sai, atau melempar jumrah. Sebagian panduan bahkan menyarankan jemaah dengan asma untuk menghindari jam-jam tersibuk dan memilih malam hari bila kondisi memungkinkan.

Gunakan inhaler pelega sebelum aktivitas berat jika dianjurkan dokter. Sebagian pasien dengan asma yang dipicu oleh olahraga/aktivitas fisik merasa lebih nyaman jika menggunakan bronkodilator sekitar 15–30 menit sebelum aktivitas fisik yang berat.

6. Jaga cairan tubuh dan jangan sampai mengalami dehidrasi

Jemaah haji kloter terakhir dari Embarkasi Jakarta-Bekasi (JKS) diberangkatkan dari Madinah ke Makkah, Minggu (25/5/2025). (Media Center Haji/Rochmanudin)

Cuaca di Arab Saudi selama musim haji bisa sangat panas. Tubuh yang kekurangan cairan akan lebih mudah lelah, merasa pusing, dan bernapas lebih cepat.

Pada beberapa orang, dehidrasi juga dapat membuat lendir di saluran napas menjadi lebih kental dan memicu rasa tidak nyaman saat bernapas.

Minum air secara rutin, jangan menunggu haus. Bawa botol minum kecil agar lebih mudah mengingat untuk minum. Hindari terlalu banyak minuman berkafein karena membuat tubuh lebih cepat kehilangan cairan.

Selain cukup minum, penting juga menjaga pola makan dan tidak melewatkan waktu istirahat. Tubuh yang terlalu lelah dan kurang cairan lebih sulit menghadapi kekambuhan asma dibanding tubuh yang cukup istirahat dan terhidrasi dengan baik.

7. Kenali tanda bahaya

Sesak napas ringan yang membaik setelah penggunaan inhaler biasanya masih bisa ditangani sendiri. Namun, ada beberapa tanda yang menunjukkan serangan asma butuh pertolongan medis segera.

Misalnya, jika sesak tidak membaik setelah menggunakan inhaler, napas terasa sangat cepat, sulit bicara karena kehabisan napas, bibir tampak kebiruan, atau muncul rasa mengantuk dan kebingungan. Kondisi ini bisa menandakan serangan asma berat yang berbahaya.

Jangan menunggu lama untuk mencari pertolongan. Selama beribadah haji, fasilitas kesehatan tersedia di berbagai area. Makin cepat serangan ditangani, makin kecil risiko komplikasi yang lebih serius.

Jemaah yang punya asma tetap bisa menjalankan ibadah haji dengan aman dan nyaman selama kondisinya terkontrol dengan baik. Persiapan yang matang, obat yang cukup, dan kemampuan mengenali tanda-tanda awal serangan atau kekambuhan dapat membantu mencegah situasi darurat selama beribadah haji.

Referensi

Anshari Saifuddin et al., “Risk Factors for Asthma Exacerbation Among Hajj Pilgrims: A Case Study From DKI Jakarta, Indonesia,” Medical Journal of Indonesia 29, no. 2 (July 1, 2020), https://doi.org/10.13181/mji.oa.204170.

Tariq A. Mirza et al., “Predictors of Asthma Severity During the Pilgrimage to Mecca (Hajj),” Polskie Archiwum Medycyny Wewnętrznej 121, no. 10 (October 1, 2011): 327–32, https://doi.org/10.20452/pamw.1085.

Ministry of Health Saudi Arabia. “Asthma During Hajj.” Diakses April 2026.

Ministry of Health Saudi Arabia. “Health Instructions During Hajj.” Diakses April 2026.

Ministry of Health Saudi Arabia. “Health Guidelines for Some Patients During Hajj or Umrah.” Diakses April 2026.

Editorial Team