Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Hidup dengan Satu Ginjal, Perlukah Diet Khusus?
ilustrasi diet pada orang yang hidup dengan satu ginjal (pexels.com/www.kaboompics.com)
  • Orang dengan satu ginjal yang berfungsi normal umumnya tidak memerlukan diet ginjal khusus. Fokusnya adalah menjaga tekanan darah, berat badan, dan fungsi ginjal.

  • Hindari pola makan tinggi garam dan konsumsi protein berlebihan, terutama diet tinggi protein serta suplemen protein tanpa indikasi.

  • Pembatasan kalium, fosfor, protein, atau cairan hanya diperlukan bila fungsi ginjal menurun atau hasil pemeriksaan menunjukkan masalah tertentu.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Hidup dengan satu ginjal tidak selalu berarti harus menjalani diet ketat. Sebagian orang lahir hanya dengan satu ginjal, mendonorkan satu ginjal, atau menjalani operasi pengangkatan akibat cedera maupun penyakit. Ginjal yang tersisa biasanya mampu beradaptasi dan melakukan pekerjaan yang sebelumnya dilakukan oleh dua ginjal.

Orang dengan satu ginjal yang berfungsi baik umumnya tidak membutuhkan diet khusus. Mereka tetap perlu menjaga hidrasi, tidak mengonsumsi terlalu banyak garam, dan mencegah kenaikan berat badan berlebihan.

Kebutuhannya berubah jika sudah terdapat penurunan fungsi ginjal, albumin dalam urine, tekanan darah tinggi, diabetes, atau kondisi medis lain. Dalam situasi seperti itu, pola makan perlu disesuaikan berdasarkan hasil pemeriksaan.

Mengapa pola makan perlu diperhatikan?

Setelah salah satu ginjal tidak ada atau tidak berfungsi, ginjal yang tersisa akan beradaptasi. Kemampuan penyaringannya dapat meningkat untuk memenuhi kebutuhan tubuh, sebuah proses yang disebut hiperfiltrasi adaptif.

Adaptasi tersebut membantu tubuh tetap berfungsi normal. Namun, tekanan penyaringan yang terus meningkat bisa menjadi masalah jika ada faktor lain, seperti tekanan darah tinggi, obesitas, diabetes, asupan garam berlebihan, atau pola makan tinggi.

Tinjauan mengenai pengelolaan pasien dengan satu ginjal yang diperoleh setelah operasi menyebut pola makan sebagai salah satu faktor yang dapat dimodifikasi. Para peneliti menekankan perlunya menghindari konsumsi protein dan natrium yang terlalu banyak, menjaga berat badan, serta memperbanyak makanan nabati tinggi serat.

1. Konsumsi protein secukupnya

ilustrasi ikan bakar (pexels.com/Official Akfotos)

Protein tetap dibutuhkan untuk membangun dan memperbaiki jaringan tubuh. Orang yang hidup dengan satu ginjal tidak perlu menghilangkannya dari menu.

Yang perlu dihindari adalah konsumsi protein terlalu banyak, misalnya diet tinggi protein, makan daging dalam porsi besar setiap waktu makan, atau menambahkan protein bubuk meski kebutuhan sudah terpenuhi.

Protein dalam jumlah tinggi dapat meningkatkan aliran darah dan tekanan penyaringan di dalam glomerulus, yaitu unit penyaring ginjal. Penelitian pada manusia juga menemukan hubungan antara asupan protein dan peningkatan laju penyaringan pada setiap nefron, meskipun dampak jangka panjangnya pada orang dengan satu ginjal masih harus diteliti.

Bagi orang dengan satu ginjal dan fungsi ginjal normal, belum ada angka protein khusus yang berlaku untuk semua orang. Kebutuhan dipengaruhi berat badan, usia, aktivitas fisik, kehamilan, dan kondisi kesehatan.

Apabila sudah mengalami penyakit ginjal kronis stadium G3–G5 dan belum menjalani dialisis, pedoman Kidney Disease: Improving Global Outcomes (KDIGO) 2024 menyarankan asupan protein sekitar 0,8 gram per kilogram berat badan per hari. Diet tinggi protein di atas 1,3 gram per kilogram per hari juga disarankan untuk dihindari pada pasien yang berisiko mengalami perburukan penyakit ginjal.

Contohnya, 0,8 gram per kilogram pada seseorang dengan berat badan 60 kilogram setara dengan sekitar 48 gram protein sehari. Ini adalah jumlah protein murni, bukan berat lauk. Sebanyak 100 gram daging umumnya hanya menyediakan sekitar 25 gram protein.

Orang lanjut usia, atlet, ibu hamil, orang dengan kekurangan gizi, dan pasien dialisis dapat memiliki kebutuhan berbeda.

2. Kurangi garam dari makanan sehari-hari

Selain ditambahkan saat memasak atau tersedia di meja makan, garam juga dapat tersembunyi dalam:

  • Mi instan dan bumbu kemasannya.

  • Makanan kaleng.

  • Daging olahan.

  • Keripik dan camilan asin.

  • Kaldu bubuk.

  • Kecap, saus, dan sambal kemasan.

  • Makanan cepat saji.

  • Ikan asin dan lauk yang diawetkan.

Asupan natrium tinggi dapat meningkatkan tekanan darah. Tekanan darah tinggi kemudian dapat merusak pembuluh darah di ginjal yang tersisa dan mempercepat penurunan fungsi penyaringannya.

Bagi orang yang sudah memiliki penyakit ginjal kronis, asupan natrium biasanya disarankan kurang dari 2 gram sehari (setara dengan kurang dari sekitar 5 gram garam dapur). Pembatasan ini perlu disesuaikan pada orang yang kehilangan banyak garam melalui ginjal, mengalami kekurangan gizi, atau sering berada dalam kondisi panas ekstrem.

Langkah praktisnya adalah memilih lebih banyak makanan segar, mengurangi bumbu instan, membandingkan kandungan natrium pada label, serta menggunakan bawang, rempah-rempah, cuka, atau perasan jeruk sebagai penambah rasa.

3. Utamakan makanan segar dan lebih banyak sumber nabati

Selama fungsi ginjal normal, menu dapat mengikuti pola makan sehat dan seimbang yang terdiri dari:

  • Sayur dan buah.

  • Beras, kentang, ubi, jagung, oat, atau serealia utuh.

  • Tahu, tempe, kacang-kacangan, ikan, telur, atau daging tanpa lemak.

  • Lemak tidak jenuh dari kacang, biji-bijian, alpukat, dan minyak nabati.

  • Makanan rumahan yang tidak terlalu asin.

Konsumsi beragam kelompok pangan serta pembatasan gula, garam, dan lemak merupakan dasar pola makan sehat.

Para ahli juga mendorong pola makan yang lebih banyak mengandung makanan nabati dan lebih sedikit makanan ultraproses.

Pola seperti DASH dan Mediterania dikaitkan dengan pengendalian tekanan darah serta hasil kesehatan ginjal yang lebih baik pada pasien penyakit ginjal kronis, meskipun kebutuhan setiap pasien tetap harus disesuaikan.

Komposisi isi piring bisa berupa setengah bagian sayur, seperempat sumber karbohidrat, dan seperempat lauk berprotein.

4. Minum cukup

ilustrasi minum air putih (pexels.com/Gustavo Fring)

Orang dengan satu ginjal yang sehat perlu menjaga hidrasi. Kebutuhan cairan dipengaruhi cuaca, aktivitas, ukuran tubuh, kehamilan, serta kondisi jantung dan ginjal. Minumlah saat haus dan pastikan urine tidak terus-menerus sangat pekat daripada minum banyak dalam waktu singkat.

Pembatasan cairan biasanya tidak diperlukan. Pembatasan akan dipertimbangkan jika fungsi ginjal sangat menurun, produksi urine berkurang, tubuh bengkak, atau terdapat gagal jantung. Dalam kondisi tersebut, dokter akan menentukan jumlah cairan yang dapat dikonsumsi.

Air putih sebaiknya menjadi pilihan utama. Minuman berpemanis perlu dibatasi karena dapat menambah asupan kalori dan meningkatkan risiko kenaikan berat badan maupun diabetes, yang keduanya dapat berdampak buruk pada ginjal.

5. Jangan otomatis menghindari makanan sumber kalium dan fosfor

Banyak orang langsung menghindari buah tinggi kalium, susu, kacang-kacangan, atau makanan berfosfor.

Kalium dan fosfor biasanya baru dibatasi apabila fungsi ginjal menurun dan hasil darah menunjukkan kadarnya terlalu tinggi, atau jika dokter menemukan gangguan tertentu.

Menghindari banyak makanan tanpa dasar pemeriksaan dapat membuat menu terlalu terbatas serta meningkatkan risiko kekurangan energi dan zat gizi.

Jika memang setelah pemeriksaan ditemukan kadar kalium atau fosfor tinggi, dokter atau ahli gizi dapat membantu menentukan jenis makanan/minuman yang perlu dibatasi, jumlah yang masih aman, dan alternatif penggantinya.

6. Jaga berat badan dan gula darah

Kelebihan berat badan dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi, diabetes, dan hiperfiltrasi ginjal. Karena itu, menjaga berat badan yang sehat merupakan bagian penting dalam melindungi ginjal yang tersisa.

Bukan dengan diet ekstrem, tetapi dengan cara:

  • Mengatur porsi.

  • Mengurangi minuman manis.

  • Membatasi makanan ultraproses.

  • Mencukupi sayur dan serat.

  • Melakukan aktivitas fisik sesuai kondisi.

  • Memeriksa tekanan darah dan gula darah secara berkala.

Diet tinggi protein untuk menurunkan berat badan sebaiknya tidak dilakukan tanpa konsultasi dengan dokter, terutama jika fungsi ginjal belum diperiksa.

Contoh susunan menu sehari

ilustrasi makan bersama keluarga (magnific.com/magnific)

Menu berikut merupakan gambaran umum bagi orang dewasa dengan satu ginjal dan fungsi ginjal normal. Jumlahnya tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan energi dan kondisi kesehatan.

  • Sarapan: nasi atau oat, telur atau tahu, sayuran, dan buah.

  • Makan siang: nasi, ikan atau tempe dalam porsi sedang, dua jenis sayur, dan buah.

  • Camilan: buah, yoghurt tanpa banyak gula, atau kacang tanpa garam dalam porsi kecil.

  • Makan malam: nasi atau ubi, tahu, tempe, ayam, atau ikan dalam porsi sedang, serta sayuran.

Gunakan bumbu segar dan batasi makanan kemasan. Tidak perlu menambahkan minuman protein jika kebutuhannya dapat dipenuhi dari makanan.

Pola makan harus diubah jika hasil pemeriksaan memburuk

Para ahli menganjurkan orang dengan satu ginjal menjalani pemantauan fungsi ginjal dan tekanan darah. Pemeriksaan dapat meliputi estimasi laju filtrasi glomerulus (eGFR) melalui tes darah serta albumin urine untuk mendeteksi kebocoran protein.

Konsultasikan pola makan secara khusus apabila ditemukan:

  • eGFR menurun.

  • Albumin atau protein dalam urine.

  • Tekanan darah tinggi.

  • Diabetes.

  • Pembengkakan.

  • Kadar kalium atau fosfor tidak normal.

  • Kenaikan atau penurunan berat badan yang tidak direncanakan.

Bagaimana jika satu ginjal tersebut merupakan ginjal transplantasi?

Penerima transplantasi ginjal memerlukan panduan tambahan karena menggunakan obat penekan sistem imun. Aturan dapat mencakup keamanan pangan yang lebih ketat serta perhatian terhadap interaksi makanan dan obat.

Karena itu, pola makan penerima transplantasi tidak dapat disamakan sepenuhnya dengan orang sehat yang lahir dengan satu ginjal atau mendonorkan ginjal. Rencana makan perlu mengikuti arahan tim transplantasi.

Orang dengan satu ginjal yang berfungsi normal umumnya tidak membutuhkan diet ginjal yang ketat. Pola makan terbaik berfokus pada makanan segar dan seimbang, protein secukupnya, pembatasan garam, hidrasi cukup, serta berat badan dan tekanan darah yang terkontrol.

Pembatasan ketat terhadap protein, cairan, kalium, atau fosfor baru diperlukan bila fungsi ginjal menurun atau hasil pemeriksaan menunjukkan masalah. Karena itu, perlindungan terhadap satu ginjal tidak hanya dilakukan melalui makanan, tetapi juga dengan pemeriksaan tekanan darah, eGFR, dan albumin urine secara berkala.

Referensi

National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, “Solitary or Single-Functioning Kidney,” diakses Juli 2026.

Ekamol Tantisattamo et al., “Current Management of Patients with Acquired Solitary Kidney,” Kidney International Reports 4, no. 9 (2019): 1205–1218, https://doi.org/10.1016/j.ekir.2019.07.001.

Rie Oba et al., “Dietary Protein Intake and Single-Nephron Glomerular Filtration Rate,” Nutrients 12, no. 9 (2020): 2549, https://doi.org/10.3390/nu12092549.

Kidney Disease: Improving Global Outcomes CKD Work Group, “KDIGO 2024 Clinical Practice Guideline for the Evaluation and Management of Chronic Kidney Disease,” Kidney International 105, no. 4S (2024): S117–S314, diakses Juli 2026.

Kementerian Kesehatan RI, “Pola Makan yang Sehat,” diakses Juli 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article