ilustrasi orang dengan batu ginjal minum saat sahur sebelum mulai berpuasa (pexels.com/Thirdman)
Ada beberapa cara aman menjalani puasa Ramadan bagi orang dengan batu ginjal:
Hidrasi adalah kunci pencegahan batu ginjal. Sebuah studi menunjukkan bahwa konsumsi cairan yang tinggi secara signifikan menurunkan risiko kejadian awal dan kambuhnya batu ginjal dengan membuat urine lebih encer, sehingga zat-zat yang bisa membentuk kristal tidak mudah terkonsentrasi.
Saat puasa, kamu tidak minum seharian. Jadi, penting untuk mengoptimalkan asupan cairan antara waktu berbuka dan sahur. Dianjurkan untuk mencapai volume urine yang cukup, yang dapat diukur dari warna urine yang lebih cerah, yang mana ini adalah tanda hidrasi yang lebih baik.
Cobalah minum secara bertahap dan konsisten sepanjang malam, misalnya satu gelas segera saat berbuka, beberapa gelas dalam satu jam setelahnya, dan beberapa gelas lagi sebelum sahur. Hidrasi bertahap membantu ginjal memelihara volume urine tanpa membebani sistem pencernaan.
Menjaga hidrasi saja tidak cukup. Pola makan orang dengan batu ginjal pun perlu diperhatikan. Beberapa panduan klinis menekankan pembatasan konsumsi makanan tinggi garam, oksalat, atau purin berlebih, yang semuanya dapat meningkatkan konsentrasi zat pembentuk batu dalam urine.
Sebagai contoh, makanan tinggi oksalat seperti bayam, cokelat, dan kacang-kacangan dapat berkontribusi pada batu kalsium-oksalat, yang merupakan tipe paling umum.
Makanan tinggi purin seperti daging merah juga bisa meningkatkan asam urat dalam urine.
Fokuslah pada pola makan seimbang dengan buah-buahan, sayuran non oksalat tinggi, dan sumber protein rendah purin dapat membantu menurunkan faktor risiko tersebut.
Penting juga menyesuaikan konsumsi kalsium melalui makanan daripada suplemen kalsium, karena kalsium makanan dapat membantu mengikat oksalat di usus dan mengurangi jumlah oksalat yang diserap ke urine.
Bagi orang yang memiliki batu ginjal, pendekatan individual sangat penting. Kondisi ginjal dapat berbeda antarindividu, beberapa mungkin memiliki batu kecil yang pernah lewat sendiri, sementara yang lain memiliki riwayat batu berat atau kambuh berulang.
Sebelum berpuasa, sebaiknya konsultasikan kondisi dengan dokter atau ahli urologi. Mereka dapat menilai fungsi ginjal saat ini, riwayat batu sebelumnya, dan memberikan rekomendasi hidrasi dan nutrisi. Pemeriksaan urine dan darah juga dapat membantu memantau risiko pembentukan kristal selama puasa.
Dalam beberapa kasus, dokter mungkin menyarankan agar pasien yang baru saja mengalami serangan batu ginjal atau memiliki kondisi medis penyerta lainnya mempertimbangkan menunda puasa atau mengambil pendekatan yang berbeda demi kesehatan lebih aman.
Puasa Ramadan bagi orang dengan batu ginjal bisa tetap aman, tapi butuh persiapan matang, khususnya terkait hidrasi dan penyesuaian pola makan. Dehidrasi adalah faktor risiko penting dalam pembentukan batu ginjal, dan strategi hidrasi yang tepat antara berbuka dan sahur menjadi langkah pencegahan yang efektif. Konsultasi medis individual dan pemantauan kondisi ginjal adalah aspek penting lainnya.
Dengan strategi yang tepat dan perhatian pada sinyal tubuh, banyak pasien batu ginjal tetap dapat menjalankan puasa Ramadan tanpa meningkatkan risiko komplikasi.
Referensi
Dorit E. Zilberman et al., “A Single Day Fasting May Increase Emergency Room Visits Due to Renal Colic,” Scientific Reports 11, no. 1 (March 22, 2021): 6578, https://doi.org/10.1038/s41598-021-86254-7.
Roswitha Siener, “Nutrition and Kidney Stone Disease,” Nutrients 13, no. 6 (June 3, 2021): 1917, https://doi.org/10.3390/nu13061917.
Wisit Cheungpasitporn et al., “Treatment Effect, Adherence, and Safety of High Fluid Intake for the Prevention of Incident and Recurrent Kidney Stones: A Systematic Review and Meta-analysis,” Journal of Nephrology 29, no. 2 (May 28, 2015): 211–19, https://doi.org/10.1007/s40620-015-0210-4.
Charlotte H Dawson and Charles Rv Tomson, “Kidney Stone Disease: Pathophysiology, Investigation and Medical Treatment,” Clinical Medicine 12, no. 5 (October 1, 2012): 467–71, https://doi.org/10.7861/clinmedicine.12-5-467.
Shahad Alblowi et al., “Renal Stone Prevalence and Risk Factors in Jeddah and Riyadh,” Journal of Family Medicine and Primary Care 11, no. 6 (June 1, 2022): 2839–45, https://doi.org/10.4103/jfmpc.jfmpc_511_21.