Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Atresia Bilier: Penyakit Langka yang Bisa Merusak Hati Bayi

Atresia Bilier: Penyakit Langka yang Bisa Merusak Hati Bayi
ilustrasi bayi baru lahir (unsplash.com/Kelly Sikkema)
Intinya Sih
  • Atresia bilier adalah kondisi langka tapi serius yang menyebabkan saluran empedu bayi tersumbat atau rusak, berujung kerusakan hati progresif.

  • Diagnosis dan operasi dini (Kasai) sangat krusial, idealnya sebelum usia 60 hari untuk meningkatkan peluang hidup tanpa transplantasi.

  • Sebagian besar pasien tetap membutuhkan transplantasi hati dalam jangka panjang meski sudah dioperasi.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Tidak semua bayi kuning adalah kondisi yang bisa ditunggu membaik. Pada sebagian kecil kasus, warna kuning pada kulit dan mata justru menjadi sinyal adanya masalah serius di hati, dan waktu menjadi faktor penentu.

Di balik kondisi langka bernama atresia bilier, ada proses kerusakan saluran empedu yang diam-diam berlangsung sejak awal kehidupan. Tanpa penanganan cepat, penyakit ini dapat berkembang menjadi sirosis dan gagal hati dalam hitungan bulan.

Table of Content

1. Apa itu atresia bilier dan seberapa umum?

1. Apa itu atresia bilier dan seberapa umum?

Atresia bilier adalah penyakit pada bayi di mana saluran empedu (biliary ducts) mengalami penyumbatan atau tidak terbentuk dengan normal. Akibatnya, empedu, yang seharusnya mengalir dari hati ke usus, menumpuk di hati dan menyebabkan kerusakan progresif.

Secara global, kondisi ini tergolong langka, dengan estimasi 1 dari 5.000–18.000 kelahiran hidup. Angka kejadian lebih tinggi di beberapa wilayah Asia dibandingkan Eropa atau Amerika Utara.

Atresia bilier merupakan penyebab utama transplantasi hati pada anak di banyak negara.

2. Penyebab dan faktor risiko

Penyebab pasti atresia bilier masih belum sepenuhnya dipahami. Namun, penelitian menunjukkan bahwa kondisi ini kemungkinan merupakan hasil dari kombinasi beberapa faktor:

  • Proses inflamasi setelah lahir. Beberapa studi menunjukkan adanya reaksi inflamasi yang merusak saluran empedu setelah bayi lahir.
  • Faktor infeksi. Infeksi virus tertentu (misalnya rotavirus atau cytomegalovirus) diduga memicu respons imun abnormal yang menyerang saluran empedu.
  • Faktor genetik dan imunologis. Meski bukan penyakit keturunan klasik, ada bukti bahwa kerentanan genetik dan gangguan sistem imun berperan.
  • Kelainan perkembangan (embriologis). Pada sebagian kasus, saluran empedu memang tidak berkembang sempurna sejak dalam kandungan.

Faktor risiko spesifik belum jelas, tetapi beberapa studi mencatat:

  • Lebih sering pada bayi perempuan.
  • Variasi geografis (lebih tinggi di Asia).
  • Beberapa kasus terkait kelainan bawaan lain (misalnya sindrom polisplenia).

3. Gejala

Penanganan bayi jaundice.
ilustrasi penanganan bayi jaundice (en.wikipedia/Martin Pot)

Gejala biasanya muncul dalam beberapa minggu pertama kehidupan dan sering disalahartikan sebagai jaundice normal.

Tanda-tanda utamanya:

  • Kulit dan mata kuning (lebih dari 2–3 minggu).
  • Urine berwarna gelap.
  • Feses pucat atau seperti tanah liat.
  • Perut membesar (hepatomegali).
  • Berat badan sulit naik.

Yang membedakan dari jaundice biasa adalah warna feses pucat, karena empedu tidak mencapai usus.

4. Komplikasi yang bisa terjadi

Tanpa penanganan, atresia bilier hampir selalu berkembang menjadi kerusakan hati serius, seperti:

  • Sirosis.
  • Hipertensi portal.
  • Malnutrisi dan gangguan pertumbuhan.
  • Infeksi saluran empedu (kolangitis).
  • Gagal hati.

Dalam banyak kasus, komplikasi ini muncul dalam tahun pertama kehidupan.

5. Cara dokter mendiagnosis

Diagnosis membutuhkan kombinasi pemeriksaan klinis, laboratorium, dan pemindaian.

  • Tes darah. Melihat fungsi hati dan kadar bilirubin.
  • USG abdomen. Menilai struktur hati dan saluran empedu.
  • HIDA scan. Melihat aliran empedu dari hati ke usus.
  • Biopsi hati. Memberikan gambaran kerusakan khas pada jaringan hati.
  • Operasi eksplorasi (intraoperative cholangiography). Ini merupakan standar emas untuk konfirmasi diagnosis.

Diagnosis dini sangat penting karena keberhasilan terapi sangat bergantung pada usia saat intervensi.

6. Pengobatan

Ilustrasi bayi prematur.
ilustrasi bayi prematur (commons.wikimedia.org/Max MBAKOP)

Pengobatan atresia bilier dapat melibatkan:

1. Operasi Kasai (hepatoportoenterostomy)

Ini adalah prosedur utama untuk mengembalikan aliran empedu.

  • Ideal dilakukan sebelum usia bayi 60 hari.
  • Menghubungkan hati langsung ke usus kecil.
  • Tidak menyembuhkan, tetapi memperlambat kerusakan hati.

2. Terapi suportif

  • Nutrisi khusus (tinggi kalori, vitamin larut lemak).
  • Antibiotik untuk mencegah infeksi.
  • Obat untuk membantu aliran empedu.

3. Transplantasi hati

Sebagian besar pasien akhirnya membutuhkan transplantasi, terutama jika:

  • Operasi Kasai gagal.
  • Terjadi komplikasi berat.

7. Prognosis

Prognosis sangat bergantung pada kecepatan diagnosis dan tindakan.

  • Jika operasi Kasai berhasil, sebagian anak dapat hidup bertahun-tahun tanpa transplantasi.
  • Namun, studi menunjukkan hingga 70–80 persen pasien tetap membutuhkan transplantasi hati sebelum dewasa.

Data dari berbagai pusat transplantasi menunjukkan bahwa angka kelangsungan hidup setelah transplantasi hati anak kini >85–90 persen dalam 5 tahun, berkat kemajuan medis.

8. Pencegahan

Karena penyebab pasti belum diketahui, tidak ada cara pasti untuk mencegah atresia bilier. Namun, deteksi dini sangat penting:

  • Perhatikan warna feses bayi.
  • Evaluasi jaundice yang berlangsung lebih dari 2 minggu.
  • Program skrining (seperti kartu warna feses) terbukti membantu deteksi lebih cepat di beberapa negara.

Atresia bilier adalah kondisi langka, tetapi dampaknya sangat besar jika terlewat. Dalam banyak kasus, tanda awalnya adalah bayi kuning lebih lama dari biasanya dan di balik itu ada proses kerusakan hati yang berjalan cepat.

Kabar baiknya, kemajuan dalam diagnosis dan terapi, termasuk transplantasi hati, telah meningkatkan harapan hidup secara signifikan. Kuncinya mengenali gejala lebih awal dan bertindak cepat.

Referensi

Jane L Hartley, Mark Davenport, and Deirdre A Kelly, “Biliary Atresia,” The Lancet 374, no. 9702 (November 1, 2009): 1704–13, https://doi.org/10.1016/s0140-6736(09)60946-6.

Akihiro Asai, Alexander Miethke, and Jorge A. Bezerra, “Pathogenesis of Biliary Atresia: Defining Biology to Understand Clinical Phenotypes,” Nature Reviews Gastroenterology & Hepatology 12, no. 6 (May 26, 2015): 342–52, https://doi.org/10.1038/nrgastro.2015.74.

Shikha S. Sundaram et al., “Biliary Atresia: Indications and Timing of Liver Transplantation and Optimization of Pretransplant Care,” Liver Transplantation 23, no. 1 (September 21, 2016): 96–109, https://doi.org/10.1002/lt.24640.

Marie-Odile Serinet et al., “Impact of Age at Kasai Operation on Its Results in Late Childhood and Adolescence: A Rational Basis for Biliary Atresia Screening,” PEDIATRICS 123, no. 5 (April 27, 2009): 1280–86, https://doi.org/10.1542/peds.2008-1949.

“Biliary Atresia.” National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. Diakses Maret 2026.

“Biliary Atresia.” American Liver Foundation. Diakses Maret 2026.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bayu D. Wicaksono
Nuruliar F
3+
Bayu D. Wicaksono
EditorBayu D. Wicaksono
Tania
EditorTania
Follow Us

Latest in Health

See More