"Phimosis: Causes, Symptoms, Diagnosis & Treatment." Cleveland Clinic. Diakses Februari 2026.
"Phimosis: Causes, Symptoms, Treatment, and Prevention." WebMD. Diakses Februari 2026.
"Fimosis dan Parafimosis." MSD Manuals. Diakses Februari 2026.
"Phimosis: Symptoms, Causes & Treatments." Medical News Today. Diakses Februari 2026.
"Phimosis." International Society of Andrology. Diakses Februari 2026.
"Tight foreskin (phimosis and paraphimosis)." nidirect. Diakses Februari 2026.
Kulup yang Tidak Bisa Ditarik: Fakta Medis Fimosis

Fimosis adalah kondisi kulup penis tidak bisa ditarik ke belakang untuk membuka kepala penis, dan ini bisa bersifat fisiologis atau patologis.
Fimosis dapat menimbulkan nyeri, infeksi, dan gangguan buang air kecil atau seksual jika tidak ditangani dengan tepat.
Perawatan termasuk higiene yang tepat, krim steroid, peregangan kulit, hingga sirkumsisi tergantung tingkat keparahan dan gejala.
Fimosis adalah kondisi medis yang sering dibicarakan namun masih sering disalahpahami. Secara singkat, fimosis terjadi ketika kulup penis terlalu ketat sehingga tidak bisa ditarik ke belakang untuk membuka kepala penis, yang dapat memengaruhi fungsi berkemih, seksual, dan kebersihan pribadi.
Kondisi ini banyak terlihat sejak lahir pada bayi dan anak laki-laki, dan sering kali merupakan bagian dari perkembangan kulit penis yang belum sepenuhnya longgar atau terpisah dari kepala penis. Seiring pertumbuhan, kulup biasanya menjadi lebih elastis, tetapi pada sejumlah individu fimosis dapat berlanjut hingga dewasa sebagai fimosis patologis.
Memahami apa itu fimosis, penyebabnya, gejalanya, diagnosis, dan pilihan pengobatannya penting agar kondisi ini dapat ditangani secara tepat dan terhindar dari komplikasi yang lebih serius.
Table of Content
1. Penyebab
Fimosis dapat dibagi menjadi dua kategori utama, yaitu fisiologis dan patologis.
Pada banyak bayi dan anak kecil yang belum disunat, kulup yang ketat merupakan hal yang biasa dan akan longgar secara bertahap seiring waktu. Hampir semua bayi lahir dengan kulup yang tidak bisa ditarik karena kulit masih terikat pada kepala penis, dan secara bertahap akan terlepas saat anak tumbuh.
Namun, jika kulup tetap kencang, sulit ditarik, dan menyebabkan gejala atau masalah, ini disebut fimosis patologis. Penyebab patologis bisa termasuk peradangan kronis atau infeksi, pembentukan jaringan parut atau adhesi dari cedera atau kondisi kulit seperti lichen sclerosus, serta infeksi kulit atau uretra berulang yang memicu penebalan kulit kulup.
Fimosis juga lebih sering terjadi pada individu dengan kondisi kulit tertentu seperti eksim atau psoriasis, yang dapat menyebabkan kulit lebih kaku atau iritasi. Namun, sering kali tidak ada penyebab jelas kecuali masalah perkembangan kulup yang tidak cukup elastis.
2. Gejala
Tanda utama fimosis adalah kulup yang tidak bisa ditarik ke belakang untuk membuka kepala penis, baik saat penis dalam keadaan tidak tegang (flaccid) maupun ereksi. Ini sering menjadi perhatian terutama jika kulup tetap ketat setelah usia dini atau menyebabkan gangguan.
Gejala lain yang bisa muncul termasuk nyeri atau ketidaknyamanan ketika buang air kecil, aliran urine yang lemah atau semburan urine yang menyebar, atau bahkan kulit kulup menggelembung seperti balon saat kencing karena tekanan di bawah kulup. Kulup yang tertarik sebagian juga bisa menyebabkan nyeri saat ereksi atau saat aktivitas seksual.
Fimosis juga dapat meningkatkan risiko infeksi kulit pada kepala penis atau kulup, yang ditandai dengan kemerahan, pembengkakan, atau cairan yang keluar. Penumpukan smegma (sekret kulit) di bawah kulup juga bisa terjadi karena masalah kebersihan.
3. Diagnosis

Diagnosis fimosis biasanya dibuat melalui pemeriksaan fisik oleh dokter yang memeriksa kemampuan kulup untuk diretraksi secara lembut. Dokter juga akan mengevaluasi tanda infeksi, komplikasi seperti parafimosis, dan kemungkinan peradangan di kepala penis atau bawah kulup.
Pemeriksaan bisa mencakup melihat apakah kulup melembut dan meregang saat ditekan ringan, apakah ada jaringan parut, dan apakah ada gejala lain seperti nyeri atau kesulitan buang air kecil. Jika diduga ada infeksi, dokter mungkin juga melakukan pemeriksaan tambahan seperti kultur atau tes urine untuk menyingkirkan penyebab infeksi lain.
Diagnosis yang akurat membantu menentukan apakah fimosis adalah bagian dari perkembangan normal atau memerlukan penanganan khusus.
4. Pengobatan
Sebagian besar kasus fimosis fisiologis pada anak tidak memerlukan pengobatan khusus karena kulup sering kali menjadi lebih elastis seiring bertambahnya usia. Hanya perlu menjaga kebersihannya dengan air hangat untuk membersihkan kepala penis saat sudah mampu ditarik perlahan.
Untuk fimosis patologis atau yang menimbulkan gejala, pendekatan awal sering kali melibatkan krim kortikosteroid topikal yang dioleskan pada kulup selama beberapa minggu, dikombinasikan dengan latihan peregangan lembut. Terapi ini telah terbukti efektif pada banyak orang dan dapat menghindari operasi pada beberapa kasus.
Jika fimosis tidak membaik dengan perawatan konservatif atau jika menyebabkan masalah seperti infeksi berulang, kesulitan urinasi, atau nyeri kronis, sirkumsisi (sunat) atau prosedur bedah lain untuk melepaskan atau mengangkat kulup bisa dipertimbangkan. Pembedahan ini biasanya aman dan efektif untuk mengatasi fimosis secara permanen.
5. Komplikasi yang bisa terjadi
Jika tidak ditangani dan terus memicu iritasi atau infeksi, fimosis dapat menyebabkan kondisi seperti balanitis (radang kepala penis) atau balanoposthitis (radang kulup dan kepala penis), karena lingkungan lembap di bawah kulup memudahkan bakteri dan jamur tumbuh.
Kondisi yang lebih serius namun jarang adalah parafimosis, kondisi kulup yang ditarik ke belakang terjebak di belakang kepala penis dan tidak bisa dikembalikan ke posisi normal, sehingga dapat mengganggu aliran darah dan menyebabkan nyeri hebat sampai memerlukan penanganan darurat.
Fimosis yang kronis juga dapat meningkatkan risiko gangguan lain seperti infeksi saluran kemih berulang atau bahkan mempersulit kebersihan, yang pada gilirannya berkontribusi pada rasa tidak nyaman sehari-hari atau risiko komplikasi infeksi.
6. Pencegahan

Tidak ada cara pasti untuk mencegah fimosis fisiologis karena ini memang merupakan bagian dari perkembangan normal kulup pada banyak bayi yang belum disunat. Namun, kebersihan yang baik sejak anak mulai bisa mencuci sendiri sangat membantu mencegah masalah sekunder seperti infeksi yang dapat memperparah fimosis.
Untuk laki-laki dan remaja yang belum disunat, menjaga area genital tetap bersih, dengan mencuci bagian bawah kulup dengan air hangat saat mandi membantu mengurangi risiko iritasi dan infeksi yang bisa memicu fimosis patologis.
Selain itu, menghindari penarikan paksa kulup atau mencoba peregangan agresif tanpa panduan medis sangat penting, karena penarikan paksa bisa menyebabkan robekan, jaringan parut, atau luka yang memperburuk kondisi.
Fimosis adalah kondisi yang umum terutama pada anak laki-laki yang belum disunat, dan sering kali merupakan bagian dari perkembangan normal kulup yang akan membaik sendiri. Namun, ketika fimosis menjadi patologis atau menimbulkan gejala seperti nyeri, infeksi, atau gangguan urinasi dan seksual, penanganan medis dapat mengatasinya.
Perawatan fimosis modern mencakup pendekatan nonbedah seperti krim steroid dan latihan peregangan lembut, serta opsi bedah seperti sunat bila diperlukan. Dengan diagnosis yang tepat, kebersihan diri yang baik, dan konsultasi dokter, banyak individu dengan fimosis dapat mengelola kondisi mereka.
Referensi




![[QUIZ] Dari Kebiasaan Saat Bukber, Kami Tahu Kecenderungan NPD dalam Dirimu](https://image.idntimes.com/post/20240322/kuis-kecenderungan-narsisme-cf334c99630e8453e01ee01e0ebbaaf3.jpg)














![[QUIZ] Seberapa Lelah Matamu? Cek dengan Tebak Karakter One Piece Ini](https://image.idntimes.com/post/20240928/snapinstaapp-452636034-827692952790694-3801622178133972082-n-1080-f33a875018adce7eefd5054721cbef1e-ed62346690aea3bb6677ab87f39e4157.jpg)