Berbulan-bulan di laut membuat pelaut zaman dahulu menghadapi ancaman kekurangan vitamin C. Keluhannya tubuh melemah, gusi berdarah, dan luka sulit sembuh. Penyakit ini dikenal sebagai skorbut, atau scurvy. Meski lekat dengan kisah pelaut, tetapi penyebabnya masih bisa ditemui dalam kehidupan sekarang.
Pada tahun 1747, dokter kapal James Lind membandingkan beberapa penanganan pada 12 pelaut yang mengalami skorbut. Dalam catatannya, dua pelaut yang mendapat jeruk dan lemon menunjukkan perbaikan paling nyata. Saat itu, vitamin C belum dikenal; manfaat buah telah terlihat sebelum penjelasan biologisnya dipahami.
Sekarang, kita tahu bahwa tubuh tidak dapat memproduksi vitamin C sendiri. Zat gizi ini membantu pembentukan kolagen, protein yang menopang kulit, pembuluh darah, dan jaringan tubuh lainnya. Ketika kekurangannya parah, jaringan melemah dan pembuluh darah kecil lebih mudah mengalami perdarahan.
Gejala dapat muncul setelah beberapa minggu hingga sekitar satu bulan dengan asupan vitamin C yang sangat sedikit, bergantung pada cadangan tubuh.
