Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Penyakit Pelaut Zaman Dulu Masih Bisa Terjadi Hari Ini
ilustrasi gusi berdarah pada penderita scurvy atau skorbut (cdc.gov/ID#: 19449)
  • Skorbut terjadi akibat kekurangan vitamin C berat yang berlangsung lama.

  • Penyakit ini masih ditemukan, termasuk pada orang dengan asupan makanan sangat terbatas.

  • Penanganannya mencakup pemberian vitamin C dan mengatasi penyebab kekurangan gizi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Berbulan-bulan di laut membuat pelaut zaman dahulu menghadapi ancaman kekurangan vitamin C. Keluhannya tubuh melemah, gusi berdarah, dan luka sulit sembuh. Penyakit ini dikenal sebagai skorbut, atau scurvy. Meski lekat dengan kisah pelaut, tetapi penyebabnya masih bisa ditemui dalam kehidupan sekarang.

Pada tahun 1747, dokter kapal James Lind membandingkan beberapa penanganan pada 12 pelaut yang mengalami skorbut. Dalam catatannya, dua pelaut yang mendapat jeruk dan lemon menunjukkan perbaikan paling nyata. Saat itu, vitamin C belum dikenal; manfaat buah telah terlihat sebelum penjelasan biologisnya dipahami.

Sekarang, kita tahu bahwa tubuh tidak dapat memproduksi vitamin C sendiri. Zat gizi ini membantu pembentukan kolagen, protein yang menopang kulit, pembuluh darah, dan jaringan tubuh lainnya. Ketika kekurangannya parah, jaringan melemah dan pembuluh darah kecil lebih mudah mengalami perdarahan.

Gejala dapat muncul setelah beberapa minggu hingga sekitar satu bulan dengan asupan vitamin C yang sangat sedikit, bergantung pada cadangan tubuh.

Kasusnya masih ditemukan hingga hari ini

Laporan dalam jurnal BMJ Case Reports tahun 2024 menggambarkan seorang laki-laki berusia awal 50-an yang mengalami bintik-bintik perdarahan menyakitkan di kedua tungkainya. Pemeriksaan menunjukkan kadar vitamin C yang tidak terdeteksi.

Penelusuran lebih lanjut menemukan bahwa asupan makannya buruk dan ia berhenti mengonsumsi suplemen yang diresepkan setelah operasi pengecilan lambung karena keterbatasan biaya. Setelah mendapat vitamin C, ruam menyakitkan dan keluhan kencing berdarahnya menghilang.

Laporan satu pasien ini menunjukkan bahwa skorbut masih terjadi.

Risikonya tidak semata-mata berkaitan dengan kemauan makan sayur. Kesulitan memperoleh makanan, pola makan yang sangat terbatas, serta gangguan penyerapan zat gizi dapat membuat kebutuhan vitamin C tidak terpenuhi.

Gejalanya mudah disangka keluhan lain

Ilustrasi pil vitamin C (pexels.com/Picas Joe)

Skorbut dapat menyebabkan kelelahan, nyeri sendi, gusi bengkak atau berdarah, mudah memar, serta luka yang lambat sembuh. Namun, keluhan tersebut juga dapat disebabkan penyakit lain.

Apabila keluhan muncul bersamaan dengan pola makan yang sangat terbatas, sampaikan riwayat makan kepada dokter. Penilaian biasanya mencakup gejala, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan darah bila diperlukan. Skorbut yang tidak ditangani dapat menimbulkan komplikasi serius.

Pengobatannya mencakup penggantian vitamin C melalui suplemen sesuai arahan tenaga kesehatan dan perbaikan pola makan.

Penyebabnya juga perlu ditangani agar kekurangan tidak berulang, termasuk hambatan memperoleh makanan atau kondisi yang mengganggu penyerapan.

Untuk pencegahan, sumber vitamin C bisa hadir dalam menu sehari-hari melalui jeruk, tomat, brokoli, atau paprika. Skorbut memang memiliki sejarah panjang di kapal zaman dulu, tetapi mencegahnya hari ini tetap bergantung pada terpenuhinya kebutuhan gizi.

Curated For You

Editorial Team

Related Article