Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Janggut Rontok Berbentuk Pitak, Apa Penyebabnya?
ilustrasi janggut (magnific.com/drobotdean)
  • Janggut rontok berbentuk pitak paling sering dikaitkan dengan alopecia areata barbae, yaitu kerontokan rambut akibat gangguan autoimun pada folikel rambut.

  • Pitak di janggut juga bisa disebabkan infeksi jamur, folikulitis, rambut tumbuh ke dalam, atau kebiasaan mencabut rambut.

  • Periksa ke dokter kulit bila pitak makin melebar, disertai kemerahan, sisik, nanah, nyeri, demam, atau rambut rontok di area lain.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Saat bercermin, area yang tadinya tertutup rambut wajah terlihat kosong membulat. Kulitnya mungkin tampak halus tanpa luka, atau bisa juga merah, bersisik, gatal, dan muncul bintil seperti jerawat.

Janggut rontok berbentuk pitak bisa muncul karena beberapa hal, mulai dari gangguan autoimun, infeksi jamur, peradangan folikel rambut, rambut tumbuh ke dalam, sampai kebiasaan mencabut janggut tanpa sadar.

Kuncinya adalah melihat bentuk pitaknya. Apakah kulitnya halus? Apakah ada sisik? Apakah ada nanah? Apakah terasa nyeri?

1. Alopecia areata barbae

Penyebab yang sering dicurigai pada janggut rontok berbentuk bulat dan halus adalah alopecia areata barbae. Ini adalah bentuk alopecia areata yang terjadi di area janggut.

Pada alopecia areata, sistem imun keliru menyerang folikel rambut. Akibatnya, rambut berhenti tumbuh dan rontok dalam bentuk bercak bulat atau oval. Kulit di area pitak biasanya tampak normal, tidak bersisik, tidak bernanah, dan tidak membentuk luka.

Sebagian orang merasakan gatal, kesemutan, atau sensasi seperti terbakar ringan sebelum rambut rontok, tetapi banyak juga yang tidak merasakan apa pun.

Kondisi ini tidak menular. Rambut bisa tumbuh lagi pada sebagian orang, tetapi sulit diprediksi. Ada yang membaik dalam beberapa bulan, ada yang kambuh, dan ada pula yang pitaknya bertambah.

2. Infeksi jamur di area janggut

Pitak di janggut juga bisa disebabkan infeksi jamur yang disebut tinea barbae. Kondisi ini lebih sering mengenai area kumis dan janggut pada laki-laki dewasa.

Berbeda dari alopecia areata yang biasanya kulitnya tampak halus, tinea barbae sering disertai kemerahan, bengkak, benjolan meradang, sisik, kerak, atau pustula. Rambut di area tersebut juga bisa mudah tercabut.

Infeksi ini kadang berkaitan dengan kontak hewan yang terinfeksi, misalnya sapi, kuda, atau hewan peliharaan tertentu.

Karena penyebabnya jamur, pengobatannya berbeda. Krim biasa mungkin tidak cukup, dan beberapa kasus butuh obat antijamur dari dokter.

3. Folikulitis barbae

Folikulitis barbae. (dermnetnz.org)

Folikulitis barbae adalah peradangan atau infeksi pada folikel rambut di area janggut. Kondisi ini dapat muncul sebagai bintil merah, gatal, nyeri, atau bernanah, terutama di area yang sering dicukur.

Penyebab tersering adalah bakteri, terutama Staphylococcus aureus. Risiko bisa meningkat jika alat cukur tidak bersih, sering mencukur terlalu dekat, atau kulit mengalami luka kecil berulang.

Jika peradangannya dalam dan menetap, kondisi ini dapat berkembang menjadi sycosis barbae. Pada kasus berat, peradangan dapat meninggalkan bekas luka dan menyebabkan rambut tidak tumbuh kembali secara permanen di area tertentu.

4. Rambut tumbuh ke dalam setelah cukur atau cabut

Sebagian orang mengalami pitak atau area janggut tampak tidak merata karena rambut tumbuh ke dalam atau pseudofolliculitis barbae. Ini sering terjadi setelah mencukur, mencabut, atau waxing rambut wajah.

Rambut yang dipotong terlalu pendek dapat melengkung masuk kembali ke kulit. Tubuh lalu menganggapnya sebagai benda asing dan memicu peradangan. Gejalanya bisa berupa benjolan kecil seperti jerawat, gatal, nyeri, kemerahan, atau bekas kehitaman.

Kondisi ini lebih sering terjadi pada orang dengan rambut wajah yang kasar, tebal, atau keriting. Biasanya, tampilannya bukan pitak halus sempurna, tetapi area yang meradang dan rambutnya tampak tumbuh tidak rata.

5. Kebiasaan mencabut janggut

Ada juga pitak yang muncul karena janggut sering dicabut, baik sengaja maupun tanpa sadar. Jika seseorang merasa sulit menahan dorongan untuk mencabut rambut, melakukannya saat stres, bosan, atau tegang, lalu merasa lega setelahnya, ini bisa berkaitan dengan trichotillomania atau hair-pulling disorder.

Pitaknya sering tampak tidak rata. Rambut di area tersebut bisa terlihat patah, pendek-pendek, atau berbeda panjang. Kondisi ini merupakan masalah yang bisa ditangani dengan bantuan profesional, terutama jika sudah menimbulkan luka, rasa malu, atau sulit berhenti.

Yang sebaiknya dilakukan

ilustrasi pria mencukur janggut (unsplash.com/Supply)

Jangan langsung mengoleskan obat sembarangan karena penyebab pitak janggut berbeda-beda.

Misalnya, obat steroid bisa dipakai pada beberapa kasus alopecia areata dengan pengawasan dokter, tetapi penggunaan steroid yang tidak tepat pada infeksi jamur bisa membuat infeksi tampak membaik sebentar lalu makin menyebar.

Langkah yang lebih aman:

  • Hentikan dulu mencabut janggut atau mencukur terlalu dekat.

  • Gunakan trimmer, bukan pisau cukur yang terlalu mepet, bila area mudah iritasi.

  • Bersihkan alat cukur atau trimmer secara rutin.

  • Jangan memencet benjolan bernanah.

  • Hindari berbagi alat cukur, handuk, atau sisir janggut.

  • Periksa ke dokter kulit jika pitak tidak membaik, melebar, atau disertai tanda radang.

Dokter dapat memeriksa kulit dengan dermoskop, melakukan tes rambut, kerokan kulit untuk jamur, kultur bakteri, atau biopsi kulit bila diagnosis belum jelas. Pemeriksaan tambahan mungkin diperlukan jika ada kecurigaan penyakit autoimun lain.

Kapan harus segera diperiksa?

Segera periksa jika area pitak disertai bengkak, nyeri, nanah, kerak tebal, demam, kemerahan yang menyebar, atau benjolan terasa hangat. Periksa juga jika pitak muncul mendadak di banyak area, mengenai alis atau rambut kepala, disertai perubahan kuku seperti cekungan kecil, atau membuat kamu sangat cemas.

Janggut pitak bukan satu penyakit tunggal. Penyebabnya bisa ringan, bisa juga membutuhkan terapi khusus. Makin cepat penyebabnya dikenali, makin besar peluang rambut tumbuh kembali dan kulit terhindar dari bekas luka.

Referensi

National Institute of Arthritis and Musculoskeletal and Skin Diseases. “Alopecia Areata.” Diakses Juni 2026.

DermNet. “Alopecia Areata.” Diakses Juni 2026.

DermNet. “Tinea Barbae.” Diakses Juni 2026.

DermNet. “Folliculitis Barbae.” Diakses Juni 2026.

DermNet. “Pseudofolliculitis Barbae.” Diakses Juni 2026.

Mayo Clinic. “Trichotillomania (Hair-Pulling Disorder): Symptoms and Causes.” Diakses Juni 2026.

Mayo Clinic. “Trichotillomania (Hair-Pulling Disorder): Diagnosis and Treatment.” Diakses Juni 2026.

Cervantes, Jenny, Natasha L. Brown, and Antonella Tosti. “Alopecia Areata of the Beard: A Review of the Literature.” American Journal of Clinical Dermatology 18, no. 6 (2017): 789–796.

Nwosu, Adaeze, et al. “Alopecia Areata Barbae in a Nutshell.” Skin Appendage Disorders 9, no. 6 (2023): 379–387.

Sibbald, Cathryn. “Alopecia Areata: An Updated Review for 2023.” Journal of Cutaneous Medicine and Surgery 27, no. 3 (2023): 241–259.

Editorial Team

Related Article