Penelitian tentang volume lambung saat puasa menunjukkan bahwa kondisi puasa memengaruhi volume isi lambung dan respons terhadap makanan. Ketika berbuka dengan porsi besar sekaligus, lambung yang kosong lama tiba-tiba teregang signifikan, menimbulkan sensasi penuh dan kembung.
Fenomena yang sering terjadi di awal Ramadan adalah “balas dendam” saat berbuka, yang justru memperberat kerja sistem cerna.
Ada beberapa strategi untuk mengurangi kejadian ini:
Berbuka secara bertahap mulai dengan kurma dan air, beri jeda sebelum makan besar.
Hindari makan terlalu cepat untuk mencegah menelan udara.
Batasi gorengan, makanan tinggi lemak, dan minuman bersoda.
Cukupi asupan serat secara bertahap, bukan sekaligus banyak.
Perhatikan porsi sahur, jangan terlalu berat namun cukup protein dan serat.
Tetap bergerak ringan setelah berbuka untuk membantu pergerakan usus.
Perut kembung di minggu awal puasa merupakan respons adaptif tubuh terhadap perubahan pola makan dan ritme biologis. Faktor utamanya meliputi perubahan fisiologi pencernaan, pola makan berbuka yang kurang tepat, modulasi mikrobiota usus, serta kondisi lambung yang kosong dalam waktu lama lalu diisi secara mendadak.
Kabar baiknya, keluhan ini umumnya bersifat sementara dan akan membaik seiring tubuh menyesuaikan diri, asalkan pola makan saat sahur dan berbuka dikelola dengan baik.